Saya Ingin Anda Sukses, Saya Harus Membuat Anda Sukses

Saya sedang melongok-longok blog Saya sendiri. Anak-anak sudah tidur sehingga “dunia” sudah cukup tenang buat Saya untuk lebih berkonsentrasi. Istri Saya datang mengantar minuman. Diletakkannya cangkir, kemudian menarik kursi dan duduk di samping Saya. Satu menit kemudian ia bertanya tentang flag atau sub header di blog Saya yang bunyinya, “Saya Ingin Anda Sukses. Saya Harus Membuat Anda Sukses.”

“Bagaimana jika orang bertanya, apakah Mas Sopa sudah sukses? Sehingga dengan begitu sudah mengantongi lisensi untuk mensukseskan orang lain? Apa jawab Mas?”

Saya menoleh dan tersenyum. “Aku akan bilang bahwa aku belumlah sukses. Kesuksesanku akan sangat tergantung pada kesuksesan orang lain. Jika orang lain menjadi sukses, maka aku juga akan sukses.”

Istri Saya mengernyitkan dahinya. Saya pun memutar badan. Saatnya berdiskusi.

Tahukah Anda, bahwa sukses Anda sangat tergantung pada sesuatu di luar diri Anda? Nah lho! Pak Sopa ini gimana toh, kemarin bilang bahwa sukses adanya di dalam diri sendiri. Jennie S. Bev bahkan bilang bahwa Sayalah sukses itu. Kok sekarang jadi lain lagi?

Tidak. Tidak lain. Ini hanyalah soal cara pandang. Mari kita telusuri, dan ingatlah bahwa ini erat hubungannya dengan konsep mastermind dan mind power.

Sukses Anda tergantung pada suksesnya “sesuatu” di luar Anda. Sesuatu itu bisa orang lain, atau memang “sesuatu” saja di luar sana. Sesuatu di luar Anda itu bisa benda hidup atau benda mati. Intinya, sesuatu itu adanya pasti di luar “Anda”.

Jika Anda pegawai atau karyawan, bagaimanakah Anda mencapai sukses? Bagaimana caranya mendapatkan promosi? Apa yang perlu Anda lakukan agar karir Anda melejit sampai ke puncak? Apa yang perlu Anda capai agar Anda mencapai kesuksesan sebagai pegawai atau karyawan?

Pertama, Anda perlu mensukseskan tugas dan pekerjaan Anda. Kedua, Anda perlu mensukseskan program organisasi atau perusahaan Anda. Ketiga, Anda perlu mensukseskan boss Anda. Keempat, Anda perlu mensukseskan organisasi atau perusahaan Anda. Setelah itu, barulah Anda bisa sukses.

Jika Anda manager, apa yang Anda perlukan agar Anda bisa sukses sebagai manager?

Anda harus mensukseskan anak buah Anda.

Jika Anda guru, dosen, trainer, coach, mentor, atau motivator, apa yang Anda perlukan agar Anda bisa sukses sebagai profesional di bidang-bidang itu?

Anda harus mensukseskan murid, siswa, dan trainee Anda. Saat mereka keluar dari ruangan kelas, merekalah yang harus merasa sukses, bukan Anda. Setelah itu, barulah Anda bisa disebut sebagai pembina dan pendidik yang sukses.

Jika Anda pengusaha yang memproduksi sepatu, apa yang Anda perlukan agar Anda bisa disebut sebagai pengusaha sukses?

Anda perlu mensukseskan sepatu Anda, agar menjadi sepatu pilihan. Sepatu yang diminati, digemari, dicari, dan dibeli. Jika itu berhasil dicapai, maka barulah Anda disebut pengusaha sukses.

Jika Anda penjual bakso? Ya Anda harus mensukseskan bakso Anda terlebih dahulu, barulah Anda bisa disebut sebagai pedagang bakso yang sukses.

Jika Anda penulis? Anda harus menjadikan buku Anda sukses, misalnya dengan menjadi best seller. Barulah di belakangnya, Anda akan disebut penulis sukses.

Jika Anda petani buah jeruk?

Pertama Anda harus mensukseskan bibit jeruk Anda untuk terus bertahan hidup dan selamat dari segala penyakit dan hama. Kedua, Anda harus mensukseskannya untuk berbuah. Ketiga, Anda harus mensukseskannya untuk bisa bertahan sampai masak di pohon supaya kualitasnya paling baik. Bahkan, Anda juga harus mensukseskan rasanya agar manis dan segar. Kemudian, Anda harus mensukseskan penjualannya. Sudah? Belum! Anda juga harus mensukseskannya agar setiap kunyahan konsumen bisa meninggalkan bekas sukses. Barulah Anda disebut sebagai petani sukses.

Ya. Sukses Anda tergantung pada kesuksesan sesuatu yang lain di luar diri Anda sendiri.

Anda akan bisa mengetahui apakah Anda akan sukses atau tidak, jika Anda bisa memprediksi sukses tidaknya sesuatu di luar Anda.

Maka, waspadalah jika Anda merasa tidak betah di kantor karena nggak sreg dengan boss Anda. Itu tanda bahwa sukses Anda bukan di situ tempatnya. Anda, nggak bakalan sukses di kantor itu sepanjang “nggak sreg” itu masih ada.

Waspadalah, jika Anda merasa bosan dengan profesi yang Anda geluti. Itu tanda bahwa Anda tidak akan sukses di dalam profesi itu.

Waspadalah, jika Anda merasa tidak bisa menghadapi murid, siswa, atau trainee Anda dengan segala tingkah dan polahnya. Anda tidak akan sukses sebagai pembina dan pengajar.

Waspadalah, jika Anda sering membenci bawahan Anda. Anda nggak bakal sukses sebagai pemimpin. Itu artinya, organisasi dan perusahaan Anda juga nggak bakal sukses di tangan Anda.

Lantas bagaimana, ganti profesi? Pindah kantor? Ganti produk? Tukar tanaman? Tidak juga.

Ketahuilah sebuah titik awal yang paling penting untuk Anda sukseskan, yaitu mindset Anda. Ketahuilah bahwa akal dan pikiran Anda juga berada di luar “Anda”.

Jika selama ini Anda berpikir bahwa “Anda” adalah akal Anda; berhentilah. Sebenarnya, akal Anda adalah tool alias alat kelengkapan “Anda”. Andalah user dari akal Anda, bukan sebaliknya.

Pahamilah bahwa akal Anda, sebenarnya juga berada di luar “Anda”. Akal Anda adalah instrumen kemanusiaan Anda. Maka hal pertama yang perlu Anda lakukan, adalah “mensukseskan” akal dan pikiran Anda. Barulah dengan begitu, “Anda” lebih mudah menjadi sukses. Bagaimana mensukseskan akal dan pikiran Anda? Anda tahulah harus bagaimana.

Jika Anda berhasil, Anda tidak perlu berganti profesi atau pindah ke kantor, bidang, atau pekerjaan yang lain. Dijamin, Anda pasti akan sukses di sana.

Sekarang bisakah Anda meletakkan dengan tepat, di mana letaknya sukses berdasarkan contoh-contoh konsep berikut ini?

“Kerjakan apa yang Anda inginkan”
“Lakukan apa yang Anda senangi”
“Komentar atau testimoni”
“Iklan dan promosi”
“Kerja keras”
“Manusia dalah makhluk individu sekaligus sosial”
“Anda harus bekerjasama”
“Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat”
“Pahlawan tanpa tanda jasa”

Sukses Anda, hanya bisa tercipta jika Anda mensukseskan sesuatu di luar Anda.

Ya. Saya ingin Anda sukses. Saya harus membuat Anda sukses. (Hanya dengan mencapai itu, Saya akan mencapai sukses Saya.)

Istri Saya ngeloyor pergi. “Ya sudah. Kalo begitu aku bobo’ duluan”.

http://milis-bicara.blogspot.com/
2007/04/game-of-success-tips-151-saya-ingin.html

HAKIKAT DARI TASAWUF

Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam  ke  arah  bagian rohaniah,   ubudiah,   dan   perhatiannya  tercurah  seputar permasalahan itu.

Agama-agama  di  dunia  ini  banyak  sekali  yang   menganut berbagai  macam  tasawuf,  di  antaranya  ada sebagian orang India yang amat fakir. Mereka condong menyiksa diri  sendiri demi membersihkan jiwa dan meningkatkan amal ibadatnya.

Dalam  agama  Kristen terdapat aliran tasawuf khususnya bagi para pendeta. Di Yunani muncul aliran Ruwagiyin.  Di  Persia ada  aliran yang bernama Mani’; dan di negeri-negeri lainnya banyak aliran ekstrim di bidang rohaniah.

Kemudian Islam datang dengan membawa perimbangan yang paling baik  di  antara  kehidupan  rohaniah  dan  jasmaniah  serta penggunaan akal.

Maka, insan itu sebagaimana digambarkan  oleh  agama,  yaitu terdiri  dari tiga unsur: roh, akal dan jasad. Masing-masing dari tiga unsur itu diberi hak sesuai  dengan  kebutuhannya. Ketika    Nabi    saw.   melihat   salah   satu   sahabatnya berlebih-lebihan dalam salah satu sisi, sahabat  itu  segera ditegur.  Sebagaimana yang terjadi pada Abdullah bin Amr bin Ash.  Ia  berpuasa  terus  menerus  tidak  pernah   berbuka, sepanjang   malam   beribadat,  tidak  pernah  tidur,  serta meninggalkan  istri  dan  kewajibannya.   Lalu   Nabi   saw. menegurnya dengan sabdanya:

“Wahai  Abdullah,  sesungguhnya  bagi  dirimu ada hak (untuk tidur), bagi istri dan keluargamu ada hak  (untuk  bergaul), dan bagi jasadmu ada hak. Maka, masing-masing ada haknya.”

Ketika  sebagian dari para sahabat Nabi saw. bertanya kepada istri-istri Rasul saw.  mengenai  ibadat  beliau  yang  luar biasa.  Mereka  (para istri Rasulullah) menjawab, “Kami amat jauh daripada Nabi saw. yang  dosanya  telah  diampuni  oleh Allah  swt,  baik  dosa  yang  telah lampau maupun dosa yang belum dilakukannya.”

Kemudian salah seorang di antara mereka berkata,  “Aku  akan beribadat  sepanjang malam.” Sedang yang lainnya mengatakan, “Aku tidak akan menikah.” Kemudian hal itu sampai  terdengar oleh  Rasulullah  saw,  lalu mereka dipanggil dan Rasulullah saw. berbicara di hadapan mereka.

Sabda beliau:

“Sesungguhnya aku ini lebih mengetahui  daripada  kamu  akan makrifat Allah dan aku lebih takut kepada-Nya daripada kamu; tetapi aku bangun, tidur, berpuasa,  berbuka,  menikah,  dan sebagainya;  semua  itu adalah sunnah Barangsiapa yang tidak senang  dengan  sunnahku  ini,  maka   ia   tidak   termasuk golonganku.”

Karenanya,   Islam   melarang   melakukan   hal-hal  yang berlebih-lebihan dan mengharuskan  mengisi  tiap-tiap  waktu luang  dengan hal-hal yang membawa manfaat, serta menghayati setiap bagian dalam hidup ini.

Munculnya  sufi-sufi   di   saat   kaum   Muslimin   umumnya terpengaruh  pada  dunia  yang  datang  kepada  mereka,  dan terbawa pada  pola  pikir  yang  mendasarkan  semua  masalah dengan pertimbangan logika. Hal itu terjadi setelah masuknya negara-negara lain di bawah kekuasaan mereka.

Berkembangnya   ekonomi    dan    bertambahnya    pendapatan masyarakat, mengakibatkan mereka terseret jauh dari apa yang dikehendaki oleh Islam yang sebenarnya (jauh  dari  tuntutan Islam).

Iman   dan  ilmu  agama  menjadi  falsafah  dan  ilmu  kalam (perdebatan); dan banyak dari ulama-ulama fiqih  yang  tidak lagi  memperhatikan  hakikat dari segi ibadat rohani. Mereka hanya memperhatikan dari segi lahirnya saja.

Sekarang  ini,  muncul  golongan  sufi  yang  dapat  mengisi kekosongan   pada   jiwa   masyarakat   dengan   akhlak  dan sifat-sifat yang luhur serta ikhlas. Hakikat dari Islam dan iman,  semuanya  hampir  menjadi perhatian dan kegiatan dari kaum sufi.

Mereka para tokoh  sufi  sangat  berhati-hati  dalam  meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai  pikiran  dan  praktek  yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya.

Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali  bertobat  karena  jasa mereka.  Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang makrifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam rohani, semua itu tidak dapat diingkari.

Tetapi, banyak pula di antara orang-orang sufi itu terlampau mendalami tasawuf hingga ada yang menyimpang dari jalan yang lurus dan  mempraktekkan  teori  di  luar  Islam,  ini  yang dinamakan  Sathahat  orang-orang  sufi;  atau  perasaan yang halus dijadikan sumber hukum mereka.

Pandangan mereka  dalam  masalah  pendidikan,  di  antaranya ialah  seorang  murid  di hadapan gurunya harus tunduk patuh ibarat mayat di tengah-tengah orang yang memandikannya.

Banyak dari golongan  Ahlus  Sunnah  dan  ulama  salaf  yang menjalankan  tasawuf,  sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an; dan   banyak   pula    yang    berusaha    meluruskan    dan mempertimbangkannya    dengan    timbangan   Al-Qur’an   dan As-Sunnah. Di antaranya  ialah  Al-Imam  Ibnul  Qayyim  yang menulis sebuah buku yang berjudul: “Madaarijus-Saalikin ilaa Manaazilus-Saairiin,” yang artinya “Tangga  bagi  Perjalanan Menuju  ke  Tempat  Tujuan.” Dalam buku tersebut diterangkan mengenai  ilmu   tasawuf,   terutama   di   bidang   akhlak, sebagaimana   buku  kecil  karangan  Syaikhul  Islam  Ismail Al-Harawi   Al-Hanbali,   yang   menafsirkan   dari    Surat Al-Fatihah, “Iyyaaka na’budu waiyyaaka nastaiin.”

Kitab  tersebut  adalah  kitab yang paling baik bagi pembaca yang ingin mengetahui masalah tasawuf secara mendalam.

Sesungguhnya, tiap-tiap manusia boleh  memakai  pandangannya dan   boleh   tidak   memakainya,   kecuali   ketetapan  dan hukum-hukum dari kitab Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah  saw. Kita  dapat  mengambil  dari ilmu para sufi pada bagian yang murni dan jelas, misalnya ketaatan kepada Allah  swt,  cinta kepada  sesama  makhluk,  makrifat  akan kekurangan yang ada pada diri sendiri, mengetahui tipu muslihat dari  setan  dan pencegahannya,  serta  perhatian  mereka  dalam meningkatkan jiwa ke tingkat yang murni.

Disamping  itu,  menjauhi  hal-hal   yang   menyimpang   dan terlampau  berlebih-lebihan,  sebagaimana  diterangkan  oleh tokoh sufi yang terkenal, yaitu Al-Imam Al-Ghazali.  Melalui ulama  ini,  dapat kami ketahui tentang banyak hal, terutama ilmu akhlak, penyakit jiwa dan pengobatannya.

TASAWUF DIANTARA PEMUJI DAN PENGELAK

Pertanyaan:

Kapan lahir dan berkembangnya ilmu tasawuf, dan apapula keistimewaanya?
Apa alasan orang-orang yang menolaknya dan bagaimanadalilnya bagi orang-orang yang memujinya?

Jawab:

Masalah tasawuf ini pernah dibahas, tetapi ada baiknya untuk diulang  kembali,  sebab  masalah  ini  amat  penting  untuk menyatakan suatu hakikat dan kebenaran yang hilang di antara orang-orang  yang mencela dan memuji tasawuf tersebut secara menyeluruh.

Dengan penjelasan  yang  lebih  luas  ini,  sekiranya  dapat membuka  tabir  yang  menyelimuti  bagian  yang  cerah  ini, sebagai teladan bagi orang yang hendak meninjau ke arah itu, misalnya ahli suluk yang berjalan ke arah Allah.

Di   zaman  para  sahabat  Nabi  saw,  kaum  Muslimin  serta pengikutnya mempelajari tasawuf, agama Islam dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan, tanpa kecuali.

Tiada   satu   bagian   pun   yang   tidak   dipelajari  dan dipraktekkan, baik lahir maupun batin; urusan  dunia  maupun akhirat;   masalah  pribadi  maupun  kemasyarakatan,  bahkan masalah  yang  ada  hubungannya  dengan   penggunaan   akal, perkembangan  jiwa  dan  jasmani,  mendapat  perhatian pula. Timbulnya perubahan dan  adanya  kesulitan  dalam  kehidupan baru   yang   dihadapinya   adalah   akibat   pengaruh  yang ditimbulkan  dari  dalam   dan   luar.   Dan   juga   adanya bangsa-bangsa   yang   berbeda  paham  dan  alirannya  dalam masyarakat yang semakin hari kian bertambah besar.

Dalam  hal  ini,  terdapat  orang-orang  yang   perhatiannya dibatasi pada bagian akal, yaitu Ahlulkalam, Mu’tazilah. Ada yang perhatiannya dibatasi pada  bagian  lahirnya  (luarnya) atau   hukum-hukumnya  saja,  yaitu  ahli  fiqih.  Ada  pula orang-orang yang perhatiannya  pada  materi  dan  foya-foya, misalnya orang-orang kaya, dan sebagainya.

Maka,  pada  saat  itu,  timbullah  orang-orang  sufi  yang perhatiannya terbatas pada  bagian  ubudiah  saja,  terutama pada   bagian   peningkatan   dan   penghayatan  jiwa  untuk mendapatkan   keridhaan   Allah   dan    keselamatan    dari kemurkaan-Nya.   Demi   tercapainya  tujuan  tersebut,  maka diharuskan zuhud atau hidup sederhana  dan  mengurangi  hawa nafsu.  Ini diambil dari pengertian syariat dan takwa kepada Allah.

Disamping itu, kemudian timbul hal baru, yaitu cinta  kepada Allah  (mahabatullah). Sebagaimana Siti Rabi’ah Al-Adawiyah, Abu Yazid Al-Basthami, dan Sulaiman Ad-Darani, mereka adalah tokoh-tokoh sufi. Mereka berpendapat sebagai berikut:

“Bahwa ketaatan dan kewajiban bukan karena takut pada neraka, dan bukan keinginan akan surga dan kenikmatannya, tetapi demi cintanya kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya, supaya dekat dengan-Nya.”

Dalam syairnya, Siti Rabi’ah Al-Adawiyah telah berkata:

“Semua orang yang menyembah Allah karena takut akan neraka dan ingin menikmati surga. Kalau aku tidak demikian, aku menyembah Allah, karena aku cinta kepada Allah dan ingin ridhaNya.”

Kemudian  pandangan  mereka  itu  berubah,  dari  pendidikan
akhlak  dan  latihan  jiwa, berubah menjadi paham-paham baru
atas Islam yang menyimpang, yaitu filsafat; dan yang  paling
menonjol  ialah Al-Ghaulu bil Hulul wa Wahdatul-Wujud (paham
bersatunya hamba dengan Allah).

Paham ini juga yang dianut  oleh  Al-Hallaj,  seorang  tokoh sufi,  sehingga dihukum mati tahun 309 H. karena ia berkata, “Saya adalah Tuhan.”

Paham Hulul berarti Allah bersemayam di  dalam  makhluk-Nya, sama dengan paham kaum Nasrani terhadap Isa Al-Masih.

Banyak  di  kalangan  para  sufi  sendiri yang menolak paham Al-Hallaj itu. Dan hal ini juga yang  menyebabkan  kemarahan para fuqaha khususnya dan kaum Muslimin pada umumnya.

Filsafat  ini  sangat  berbahaya, karena dapat menghilangkan rasa tanggung jawab  dan  beranggapan  bahwa  semua  manusia sama,  baik  yang jahat maupun yang baik; dan yang bertauhid maupun yang tidak, semua makhluk menjadi tempat bagi Tajalli (kasyaf) Al-Haq, yaitu Allah.

Dalam  keadaan  yang  demikian,  tentu  timbul  asumsi  yang bermacam-macam, ada yang menilai  masalah  tasawuf  tersebut secara  amat  fanatik  dengan  memuji  mereka dan menganggap semua ajarannya itu baik sekali. Ada pula  yang  mencelanya, menganggap  semua ajaran mereka tidak benar, dan beranggapan aliran tasawuf itu diambil dari agama Masehi,  agama  Budha, dan lain-lainnya.

Secara  obyektif  bahwa  tasawuf itu dapat dikatakan sebagai berikut:

“Tasawuf ada dalam Islam dan mempunyai dasar yang mendalam. Tidak dapat diingkari dan disembunyikan, dapat dilihat dan dibaca dalam Al-Qur’an, Sunnah Rasul saw. dan para sahabatnya yang mempunyai sifat-sifat zuhud (tidak mau atau menjauhi hubudunya), tidak suka hidup mewah, sebagaimana sikap khalifah Umar r.a, Ali r.a, Abu Darda’, Salman Al-Farisi, Abu Dzar r.a. dan lainnya.”

Banyak ayat Al-Qur’an yang menganjurkan agar mawas diri dari godaan yang berupa kesenangan atau fitnah dunia.

Tetapi  hendaknya  selalu  bergerak  menuju  ke  jalan  yang diridhai oleh Allah swt. dan berlomba-lomba memohon  ampunan Allah swt, surga-Nya dan takutlah akan azab neraka.

Dalam  Al-Qur,an  dan hadis Nabi saw. juga telah diterangkan mengenai  cinta  Allah  kepada  hamba-hamba-Nya  dan   cinta hambaNya  kepada  Allah.  Sebagaimana  disebutkan dalam ayat Al-Qur,an:

“Adapun orang-orang yang beriman cintanya sangat besar kepada Allah …” (Q.s. Al-Baqarah: 165).

“… Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya …” (Q.s. Al-Maidah: 54).

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjihad di jalan Allah dalam barisan yang teratur (tidak tercerai-berai) …” (Q.s. Ash-Shaff: 4).

Diterangkan pula dalam Al-Qur’an dan hadis mengenai  masalah zuhud,   tawakal,   tobat,   syukur,  sabar,  yakin,  takwa, muraqabah (mawas diri), dan  lain-lainnya  dari  maqam-maqam yang suci dalam agama.

Tidak  ada  golongan lain yang memberi perhatian penuh dalam menafsirkan,  membahas  dengan  teliti  dan  terinci,  serta membagi  segi-segi  utamanya  maqam  ini  selain  para sufi. Merekalah yang paling mahir  dan  mengetahui  akan  penyakit jiwa,  sifat-sifatnya  dan kekurangan yang ada pada manusia, mereka ini ahli dalam ilmu pendidikan yang dinamakan Suluk.

Tetapi, tasawuf tidak berhenti hingga  di  sini  saja  dalam peranannya  di  masa  permulaan,  yaitu adanya kemauan dalam melaksanakan akhlak yang luhur dan hakikat dari ibadat  yang murni  semata  untuk  Allah  swt. Sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi,  yaitu:  “Ilmu  tasawuf  itu, kemudian  akan  meningkat  ke  bidang  makrifat  perkenalan, setelah itu ke arah khasab ungkapan dan karunia  Allah.  Hal ini diperoleh melalui pembersihan hati nurani.

Akhirnya,  dengan  ditingkatkannya  hal-hal  ini,  timbullah penyimpangan, tanpa dirasakan oleh sebagian ahli sufi.”

Di antara yang tampak dari penyimpangan sebagian orang-orang sufi adalah sebagai berikut:

1.  Dijadikannya  wijid  (perasaan) dan ilham sebagai ukuran untuk dasar pengetahuan dan lain-lain; juga dapat  dijadikan ukuran   untuk  membedakan  antara  yang  benar  dan  salah. Sehingga sebagian ada yang berkata, “Aku  diberi  tahu  oleh hati dari Tuhanku (Allah).”

Berbeda  dengan  ungkapan  dari  ahli  sunnah  bahwa apabila mereka meriwayatkan ini  dari  si  Fulan,  si  Fulan  sampai kepada Rasulullah saw.

2.  Dibedakannya  antara  syariat  dan hakikat, antara hukum Islam dan yang bebas dari hukumnya.

3. Dikuasai oleh paham Jabariah dan Salabiah, sehingga dapat mempengaruhi  iman  dan akidah mereka, dimana manusia mutlak dikendalikannya. Maka tidak perlu lagi  melawan  dan  selalu bersikap pasif, tidak aktif.

Tidak dihargainya dunia dan perkembangannya. Apa yang ada di dunia  dianggapnya  sepele,  padahal  ayat  Al-Qur,an  telah menyatakan:

“… dan janganlah kamu melupakan akan nasibmu (kebahagiaanmu) dari (kenikmatan) dunia …” (Q.s. Al-Qashash: 77).

Pikiran dan teori di atas telah  tersebar  dan  dipraktekkan dimana-mana,  dengan  dasar  dan  paham bahwa hal ini bagian dari  Islam,  ditetapkan  oleh  Islam,  dan  ada   sebagian, terutama  dari golongan intelektual, keduanya belum mengerti benar akan hal itu karena tidak mempelajarinya.

Sekali lagi kita tandaskan, bahwa orang sufi dahulu,  selalu menyuruh  jangan  sampai  menyimpang  dari garis syariat dan hukum-hukumnya.

Ibnul Qayyim berkata mengenai  keterangan  dari  tokoh-tokoh sufi, “Tokoh-tokoh sufi dan guru besar mereka, Al-Junaid bin Muhammad (297  H.),  berkata,  ‘Semua  jalan  tertutup  bagi manusia, kecuali jalan yang dilalui Nabi saw.'”

Al-Junaid pun berkata:
“Barangsiapa yang tidak hafal Al-Qur’an dan menulis hadis-hadis Nabi saw. maka tidak boleh dijadikan panutan dan ditiru, karena ilmu kita (tasawuf) terikat pada kitab Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Abu Khafs berkata:
“Barangsiapa yang tidak menimbang amal dan segala sesuatu dengan timbangan Al-Kitab dan As-Sunnah, serta tidak menuduh perasaannya (tidak membenarkan wijid-nya), maka mereka itu tidak termasuk golongan kaum tasawuf.”

Abu Yazid Al-Basthami berkata:
“Janganlah kamu menilai dan tertipu dengan kekuatan-kekuatan yang luar biasa, tetapi yang harus dinilai adalah ketaatan dan ketakwaan seseorang pada agama dan syariat pelaksanaannya.”

Kiranya keterangan yang paling tepat  mengenai  tasawuf  dan para  sufi  adalah  sebagaimana  yang diuraikan oleh Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam  menjawab  atas  pertanyaan,  “Bagaimana pandangan ahli agama mengenai tasawuf?”

Ibnu Taimiyah memberi jawaban sebagai berikut,

“Pandangan orang dalam masalah tasawuf ada dua, yaitu:

Sebagian termasuk ahli fiqih dan ilmu kalam mencela dan menganggap para sufi itu ahli bid’ah dan di luar Sunnah Nabi saw.

Sebagian lagi terlalu berlebih-lebihan dalam memberikan pujian dan menganggap mereka paling baik dan sempurna di antara manusia setelah Nabi saw. Kedua-duanya tidak benar. Yang benar ialah bahwa mereka ini sedang dalam usaha melakukan pengabdian kepada Allah, sebagaimana usaha orang-orang lain untuk menaati Allah swt. Dalam kondisi yang prima di antara mereka, ada yang cepat sampai dan dekat kepada Allah, orang-orang ini dinamakan Minal muqarrabiin (orang-orang yang terdekat dengan Allah), sesuai dengan ijtihadnya; ada pula yang intensitas ketaatannya sedang-sedang saja. Orang ini termasuk bagian kanan: Min ashhaabilyamiin (orang-orang yang berada di antara kedua sikap tadi).”

Di antara golongan itu ada yang  salah,  ada  yang  berdosa, melakukan  tobat,  ada  pula yang tetap tidak bertobat. Yang lebih sesat lagi adalah orang-orang yang melakukan kezaliman dan kemaksiatan, tetapi menganggap dirinya orang-orang sufi.

Masih  banyak  lagi dari ahli bid’ah dan golongan fasik yang menganggap dirinya golongan tasawuf, yang ditolak dan  tidak diakui  oleh  tokoh-tokoh  sufi  yang  benar  dan  terkenal. Sebagaimana Al-Junaid dan lain-lainnya.

Wallaahu A’lam.

KUMPULAN BUKU
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Kendalikan Emosi Anda

*A Game of Success: Tips 150 – Kendalikan Emosi Anda*

Semuanya sudah siap. Kami sudah datang pagi-pagi untuk mensetting ruangan workshop hari itu. Saya sendiri, merasa fit dengan tidur yang cukup dan sudah sholat malam. Kata ulama, sholat malam bisa membuat kita berkomunikasi lebih baik pada siang hari berikutnya. Saya percaya, yakin, dan memang melakukannya. Walaupun jujur saja, nggak sering-sering amat.

Doa juga sudah Saya panjatkan. Sejak dari jalan tadi Saya sudah berdoa sampai beberapa kali. Doa yang biasa Saya panjatkan adalah doa “sukses presentasi” ala Nabi Musa As. Ya, semuanya sudah siap kecuali satu hal; proyektor LCD. Petugas hotel yang biasanya memasang barang satu itu belum nongol juga. Tapi Saya tenang tenang saja. Biasanya memang begitu kok. Nanti beberapa menit sebelum acara dimulai, barulah dipasangnya.

Sampai waktunya workshop itu harus dimulai, benda yang satu itu tak muncul-muncul juga. Saya tidak melihat adanya “penampakan” di meja yang biasa jadi tongkrongannya. Kosong melompong. Saya mulai bertanya-tanya ada apa. Staf Saya mengatakan bahwa LCD proyektor sedang dalam perjalanan. Lha! Bukankah benda itu punya hotel sini? “Dipakai hotel lain yang segrup”, kata salah satu petugas hotel.

*EMOSI ANDA PUNYA ENERGI*

Sepuluh menit belum juga. Sesuatu mulai menjalari Saya. Anda tahu rasanya? Bagi beberapa orang, kegagalan menyediakan perlengkapan yang memang sudah direncanakan pemakaiannya, bisa menjadi bencana. Malah, itu juga bisa identik dengan kegagalan presentasi itu sendiri. Bagi Saya juga sama, itu bisa berarti kegagalan workshop Saya.

Darah Saya sudah mulai berkumpul di ubun-ubun. Saya marah. Bukankah Saya sudah persiapkan sebelumnya? Bukankah staf Saya sudah membookingnya beberapa hari yang lalu?

Saya sedih. Apa jadinya workshop itu tanpa slide yang memang sering Saya presentasikan?

Saya kecewa. Dan bagaimanakah kecewanya para peserta? Apa yang Saya bayangkan pada saat itu, adalah marah, sedih, dan kecewanya mereka.

Kemudian Saya sadari sesuatu. Apa yang perlu Saya lakukan dalam situasi itu adalah bukan memperburuknya, melainkan memperingannya. Saya cukup heran bahwa dalam kondisi seperti itu, Saya masih bisa berpikir cukup jernih. Alhamdulillah. Lantas apa yang harus Saya lakukan?

Saya maju ke depan, mengucapkan salam, berbasa-basi sedikit, lalu memulainya. Saya tahu persis bahwa wajah Saya memerah karena campuran segala perasaan. Sedih, marah, kecewa, malu dan entah apalagi. “Bapak dan Ibu sekalian, Anda lihat di depan tidak ada LCD proyektor. Biasanya ia ada di sana, dan hari ini entah kemana. Apakah menurut Anda Saya marah? Ya Saya marah!” Saya mengatakan itu dengan setengah berteriak. “Mari kita mulai! Mari Saya tunjukkan bagaimana Saya marah!”

Setahu Saya, kita bisa melupakan penyebab kemarahan, akan tetapi kita cukup sulit untuk meredam energinya. Saya bertekad untuk melupakan kemarahan Saya, tapi Saya akan menggunakan energinya untuk workshop Saya.

Hari itu, energi Saya jauh lebih besar dari biasanya. Saya bahkan seperti lupa bahwa satu jam kemudian, benda yang Saya tunggu akhirnya datang juga. Tapi Saya, sudah terlanjur “ngamuk”. Tahukah Anda bagaimana akhirnya?

Sampai di rumah Saya letih luar biasa. Tapi dari feedback staf Saya dan para peserta, Saya menemukan bahwa hari itu, adalah salah satu workshop terbaik Saya!

*KENDALIKAN EMOSI ANDA*

Emosi Anda adalah energi besar. Kekuatannya tak pernah bisa Anda bayangkan. Kejadian di Virginia Tech adalah emosi. Orang berantem di televisi adalah emosi. Bahagianya Tamara Blezinski ketemu Rasha adalah emosi. Emosi adalah energi yang bisa positif dan bisa negatif. Anda, tentu saja ingin emosi Anda selalu positif. Bagaimana me-manage-nya? Ada caranya.

Berikut ini adalah ringkasan dari buku “I Create Reality – Beyond Visualization: How You Can Use Holographic Creation to Manifest Your Desires!” karangan Christopher Westra yang dikenal dengan HoloCreation Techniques-nya.

*1. Bertanggungjawablah atas Emosi Anda*

Mungkin, saat ini Anda belum terlalu mempercayainya. Namun demikian tetaplah katakan ini pada diri Anda, saat Anda marah, sedih, kecewa, putus asa, atau bahkan berbahagia:

*”Sayalah yang menciptakan realitas Saya, dan sekarang Saya sedang menciptakan emosi ini.”*

Biasanya, Anda tidak pernah melakukan langkah pertama ini. Mengapa? Karena Anda lebih percaya bahwa keadaan atau situasai di luar Andalah yang menyebabkan emosi Anda.

*2. Beri Nama untuk Emosi Anda*

Memberi nama pada emosi akan memperjelas pemahaman Anda tentang emosi itu. Ini juga akan meningkatkan kesadaran Anda tentang emosi itu. Tidak cukup, jika Anda menyebut emosi itu hanya dengan “sedih”, “marah”, “jelek”, “bagus” dan sebagainya.

*”Aku lagi biru”
“Gue emang lagi ngehek”
“Saya sedang hitam”
“Aku lagi kena emosi nomor dua belas”
“Saya sedang mengalami kram otak”
“Aku kayaknya lagi kena racun cinta” *

Semakin spesifik Anda menamainya, semakin jelas, lengkap, dan spesifik inventory emosi Anda. Hafalkan untuk identifikasi di masa depan.

*3. Biarkan Berlalu Penyebabnya*

Lupakan, apapun yang di luar diri Anda yang Anda anggap menjadi penyebab emosi Anda, tapi pertahankanlah emosinya. Ingat, Anda tetap harus mengontrolnya. Apa yang Anda lakukan, adalah memisahkan “penyebab emosi” dari emosi itu sendiri. Kini, emosi Anda menjadi lebih obyektif sifatnya. Benda obyektif yang sudah punya nama.

*4. Hargai Emosi Anda*

Hargai emosi Anda. Sebab dengan itu, Anda ternyata masih manusia. Menghargai emosi tidak berarti menghakiminya dengan “baik” atau “buruk”. Hargai keberadaannya sebagai pelengkap kemanusiaan. Hargai keberadaannya dan bukan sifat atau pengaruhnya. Ini adalah langkah penting dalam rangka menuju ke poin berikut ini.

*5. Rasakan Emosi Anda*

Kini, Anda rasakan lagi emosi Anda dengan cara yang berbeda. Tanpa penghakiman dan sikap bertahan, rasakan saja. Bila perlu, rasakan di mana letaknya. Di kepala Anda, di dada Anda, di telinga Anda, di wajah Anda, di mana saja di bagian tubuh Anda. Anda kini mengobservasi emosi Anda dengan obyektif. Ingat, tanpa penghakiman dan sikap bertahan.

*6. Dapatkan Penjelasan*

Anda telah dilingkupi oleh semangat untuk belajar dan tumbuh. Mulailah mencari alasan yang menciptakan emosi Anda. Waspadai yang satu ini: Jangan kembali ke “penyebab eksternal” sebab Anda sedang ber-internalisasi. Penyebab emosi Anda adalah Anda sendiri, bukan sesuatu yang di luar Anda. Bertanyalah,

*”Apa yang perlu Saya pelajari dari emosi ini?”
“Keyakinan melenceng apa di dalam diri Saya, yang menciptakan emosi ini?”*

*7. Identifikasi*

Berilah waktu untuk jawabannya. Your answer will come. Di dasar setiap emosi negatif, selalu ada keyakinan yang tidak tepat.

*Apakah Anda merasa “harus” membuat semua orang senang?
Apakah Anda merasa tidak akan bisa disukai jika “tidak sempurna”?
Apakah Anda bahwa semua orang “harus” mengikuti Anda?
Apakah Anda merasa diri Anda “tidak bernilai”?*

*8. Tukar Keyakinan Anda*

Pilihlah keyakinan yang lebih baik untuk menggantikan keyakinan negatif Anda. Katakan dengan eksplisit,

*”Sekarang Saya memilih untuk menolak keyakinan ini, dan menggantinya dengan keyakinan ini.”*

Pada empat langkah terakhir, Anda akan merasakan sesuatu yang luar biasa. Emosi negatif Anda pergi, dan sepenuhnya digantikan dengan sesuatu yang lain. Mengapa ini bisa terjadi? Kuncinya, ada pada kejelasan dan naiknya kesadaran.

Pernah mendengar “control illusion”? Dengan mengikuti amarah, Anda merasa mengendalikan sesuatu, padahal Anda yang sebenarnya berada di bawah kendali emosi. Upaya Anda untuk mengendalikan emosi, tanpa Anda sadari adalah sebentuk penolakan. Dan jika Anda melakukannya dengan memaksa diri, maka Anda bisa menderita selama beberapa jam. Ketahuilah, itu menggerogoti Anda.

Dengan langkah yang tepat dalam membiarkan diri merasakan emosi, Anda akan bisa merasakan emosi sesuai kegunaannya. Untuk belajar, untuk tumbuh, untuk dewasa, untuk tidak menjadi destruktif, untuk menjadi lebih berbahagia.

Lakukanlah sesegera mungkin, dan dapatkan manfaat ajaibnya dalam dua minggu ke depan.

Posting ini adalah bagian wajib yang diharuskan dalam:

” A Game of Success<http://milis-bicara.blogspot.com/2007/04/game-of-success_11.html>”.

Semoga bermanfaat.

Saya Ingin Anda Sukses,
Saya Harus Membuat Anda Sukses.

Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
ikhwan dot sopa at gmail dot com
http://milis-bicara.blogspot.com

Algoritma Robot Penunjuk Arah di Lingkungan PENS ITS

Robot penunjuk arah adalah robot yang memiliki kemampuan tidak hanya menunjukkan arah ruangan yang akan dituju oleh pendatang, tetapi robot ini juga akan mengantarkan pendatang sampai di ruangan yang dinginkan.


Setiap ruangan dan belokan akan dipasangi sebuah rambu-rambu berwarna yang akan memiliki data tertentu . Sebagai alat pengelihatan, adalah webcam yang akan mencari rambu tersebut melalui proses pengolahan citra.

Ruangan awal dan ruangan yang akan dituju akan dijadikan sebuah data masukan, setelah itu data tersebut akan dibandingkan dengan data yang sudah ada pada database robot. Sehingga pergerakan robot berdasarkan dari data rambu yang telah ada didalam database yang telah dibandingkan dengan data masukan.

ES Tahun : 2005
Authors : Firman Arifin, Reesa Akbar, Edi Satriyanto, Sujatmiko
Kategori : IMAGE PROCESSING, COMPUTER VISION & COMPUTER GRAPHIC
Institusi : Jurusan Teknik Elektronika Politeknik Elekronika Negeri Surabaya Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Judul : Algoritma Robot Penunjuk Arah di Lingkungan PENS ITS

http://www.ies.eepis-its.edu/prosiding/abstrakdetail.php?id=84

Pengembangan Algoritma K-Modes pada Penentuan Titik Pusat Awal untuk Mengelompokkan Penyakit pada Kacang

Algoritma klasterisasi k-means didesain hanya untuk bekerja pada data berjenis numerik. Dilain pihak algoritma k-modes dikembangkan berdasarkan pada paradigma algoritma k-means agar dapat digunakan untuk mengklaster data kategorikal dengan menggunakan ukuran keserupaan yang didasarkan pada metode frekuensi kemunculan suatu nilai dalam suatu atribut untuk memutakhirkan titik pusat klaster.


Kebanyakan algoritma k-modes yang dipublikasikan pada saat ini menentukan titik pusat awal dengan cara random. Pemilihan titik pusat yang berbeda dapat menghasilkan klaster yang berbeda sehingga hasil klaster tidak stabil. Dalam penelitian ini dikembangkan algoritma k-modes dengan menggunakan algoritma klasterisasi hirarki yang diaplikasikan pada data sub-sampel untuk menghasilkan titik pusat awal yang baik.

Algoritma ini, yang selanjutnya disebut dengan algoritma penentuan titik pusat awal berbasis hirarki (HPR), digunakan untuk mengelompokkan penyakit pada kacang kedelai yang datanya direpresentasikan dalam domain kategorikal. Data sub-sampel yang dibentuk dengan proses reduksi data menjadi masukan bagi algoritma klasterisasi hirarki.

Selanjutnya sejumlah titik pusat yang dihasilkan oleh klasterisasi hirarki dijadikan sebagai masukan titik pusat awal bagi algoritma k-modes. Hasil uji coba menunjukkan bahwa algoritma penentuan titik pusat awal berbasis hirarki mampu menghasilkan hasil klaster yang lebih baik dan stabil pada kasus pengelompokan penyakit pada kacang kedelai bila dibandingkan dengan algoritma klasterisasi yang penentuan titik pusat awalnya dilakukan secara random.


Selain itu, hasil uji coba juga menunjukkan bahwa hasil klaster dari proses klasterisasi yang melibatkan proses reduksi data mempunyai tingkat akurasi yang sama jika dibandingkan dengan hasil klaster dari proses klasterisasi yang tidak melibatkan proses reduksi data.

http://www.ies.eepis-its.edu/prosiding/abstrakdetail.php?id=356

IES Tahun : 2006
Authors : Tita Karlita, Afrida Helen, Firman Arifin
Kategori : COMPUTATION & INFORMATION SYSTEM
Institusi : Politeknik Elektronika Negeri Surabaya
Judul : Pengembangan Algoritma K-Modes pada Penentuan Titik Pusat Awal untuk Mengelompokkan Penyakit pada Kacang Kedelai