Seorang Pembelajar Sejati

Oleh Ike Sari Astuti

Sudah bertahun-tahun saya menyandang status sebagai pelajar, bahkan sampai umur yang sudah dewasa sekarang ini, kebanyakan status profesi resmi saya adalah sebagai pelajar (mahasiswa) ketimbang pekerja. Meski demikian, ternyata saya baru menyadari bahwa selama ini saya tidak – atau setidaknya belum – sungguh-sungguh “belajar”. Bukan saja belajar dalam posisi saya yang memang sebagai pelajar, tetapi lebih dari itu, belajar dalam setiap bagian kehidupan saya sebagai manusia dan terutama lagi sebagai seorang muslim.

Semua ini bermula siang itu ketika saya yang hendak menuju ke sebuah komputer di sebuah warnet. “Assalaamu’alaikum, Sari ya?” sebuah suara memanggil saya. Saya menoleh ke arah suara tersebut. Seorang wanita muda berkerudung tersenyum ke arah saya. Saya pun menjawab salamnya dengan muka bingung karena saya merasa tidak mengenal wanita tersebut.

“Aku Ayu, temanmu di SMP dan SMA, ” sambungnya lagi. Saya pun terperangah tak kuasa berkata apa-apa selain menyebut “Subhanallah” berkali-kali.
Betapa tidak, teman yang dulu saya kenal sebagai penganut Hindu yang taat itu siang itu berdiri di depan saya dengan balutan busana panjang lengkap dengan jilbabnya yang rapi. Acara nge-net siang itu pun berganti menjadi temu kangen setelah bertahun-tahun berpisah karena kami melanjutkan pendidikan ke universitas yang berbeda.

Merasa penasaran, saya pun segera menanyakan alasan mengapa dia memilih menjadi seorang muslimah. Mulailah dia bercerita bahwa sejak SMA, saat pelajaran agama Islam berlangsung dia memilih untuk tetap tinggal di kelas daripada keluar. Ternyata dari acara mendengar tidak sengaja, dia mulai berpikir dan menganalisa sampai akhirnya dia berkesimpulan, bahwa Islam is not only a bunch of ritual teachings, begitu dia menyebutnya, tapi lebih dari itu adalah sebuah jalan hidup. Ia pun tergerak untuk mencari tahu apa dan bagaimana Islam, meski hidayah benar-benar menjemputnya ke pangkuan Islam setelah dia menikah dengan seorang pemuda muslim di tahun pertama kuliahnya. Saya pun hanya bisa manggut-manggut kagum mendengarnya.

Apa yang saya dengar berikutnya membuat saya lebih terperangah. Bagaimana dia akhirnya berjuang dengan ujian hidup yang teramat berat, yaitu terpaksa bercerai di usia muda, serta menjadi muslim seorang diri di keluarga besarnya. Merasa belum puas, saya kembali bertanya sejak kapan dia memakai jilbab. Dia pun meneruskan ceritanya, akan keinginannya untuk menunjukkan bahwa dia menjadi muslim bukan karena pernikahan semata.
Berstatus muallaf membuat dia merasa berkewajiban mengetahui benar-benar apa yang dipilihnya dan belajar mencari apa yang belum diketahuinya.
Memakai jilbab adalah salah satu hasilnya. Tak berhenti sampai di situ, statusnya sebagai janda di usia muda pun tak menghalangi langkahnya untuk belajar Islam lebih serius di berbagai kesempatan meski pandangan masyarakat yang miring kerap menjadi penghalang besar.

Apa yang saya saksikan siang itu – lima tahun setelah dia mengucap syahadat – adalah hal yang sangat jauh berbeda. Kini ia adalah seorang muslimah yang rapi berkerudung, fasih membaca Al-Qur’an, fasih pula mengutip hadits-hadits shahih sebagai hujjahnya dalam memandang setiap persoalan, dan juga penuh optimisme memandang dunia dengan keyakinan hati yang begitu kuat bahwa ada hikmah di balik setiap kejadian, bahwa ada kekuatan dalam setiap untaian do’a, kekuatan untuk mengubah langit sekalipun.

Bertemu dengannya membuat saya seperti pelajar kesiangan. Bukan tentang keputusannya untuk memeluk Islam, bukan pula jalan hidupnya, melainkan pada bagaimana ia begitu cepat belajar. Hanya dalam rentang waktu lima tahun, apa yang diketahuinya tentang Islam mungkin lebih baik dari apa yang saya ketahui setelah lebih dari dua puluh tahun mengklaim diri sebagai seorang muslim. Saya pun hanya bisa bertanya pada diri sendiri tentang apa saja yang sudah saya lakukan selama ini yang seperti tanpa hasil yang berarti.

Satu hal yang terus saya ingat adalah ketika dia mengatakan bahwa dia telah berhenti dari pekerjaan yang baru saja didapatnya karena dia merasa banyak hal dalam pekerjaannya yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Sekali lagi saya hanya bisa terperangah. Bukan, bukan karena alasannya yang memang sangat mengagumkan, tetapi pada bagaimana dia telah melangkah lebih jauh menjadi muslim penuntut ilmu sejati, yang bukan sekedar mencari tahu tetapi telah menerapkan apa yang telah diketahuinya, memegang teguh prinsip amal setelah ilmu, meski dihadapkan pada pilihan yang tidak selalu mudah.

Jikalau dahulu para sahabat tak berani mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an yang lainnya sebelum betul-betul mengamalkannya, kini teman saya begitu tekun mencari tahu dalam setiap ketidaktahuannya. Sementara, saya masih berkutat dengan sedikit peduli dan sedikit mencari. Saya masih berputar-putar pada mencari ilmu tetapi akhirnya hanya kembali tersimpan menjadi tumpukan buku yang berdebu.

Apa yang dituturkannya siang itu betul-betul membuka mata saya bahwa saya belum pernah menjadi seorang pembelajar sejati seperti dirinya. Pembelajar sejati adalah seorang yang dengan segala kerendahan hati mengakui kesalahan dan kebodohan diri, seseorang yang mempergunakan seluruh kapasitas yang ada dalam dirinya untuk mengejar ketertinggalannya, dan terus menerus memperbaiki kesalahannya. Pembelajar sejati bukan terletak pada banyaknya koleksi buku yang dimiliki, bukan pula pada rentetan gelar sebagai bukti banyaknya ilmu yang dikuasai, tetapi lebih dari itu, pembelajar sejati adalah sesorang yang selalu membuka mata membuka hati untuk melihat sekelilingnya dan mencari jawaban pasti terhadap apa masih gelap bagi dirinya. Seorang yang selalu bersungguh-sungguh mencari tahu sebagai konsekuensi logis status ketidaktahuannya, yang pada akhirnya bermuara pada perubahan cara berpikir dan berperilaku yang lebih baik, sebagai buah atas segala apa yang telah diketahuinya.

Menjelang pagi di kaki Semeru, ikesari_2304@yahoo. Com

www.eramuslim.com
16 Apr 07 09:53 WIB

*Tips 147: Menjadi Kaya Ada Ilmunya*

*Tips 147: Menjadi Kaya Ada Ilmunya*

Anda mau kaya, Saya juga mau kaya. Yuk, kita belajar bersama-sama untuk menjadi sama-sama kaya.

Ada satu buku lagi yang perlu Anda baca. Judulnya *”The Science of Getting Rich” *.

Dalam kata pengantarnya, sang pengarang menyebutkan, bahwa buku ini berorientasi pragmatis dan tidak filosofis. Alias, buku ini adalah pedoman praktis untuk menjadi kaya. Bahkan, Tuan Wallace menyebutkan bahwa siapa pun orang yang mau menerapkan pedoman dan prinsip di dalam buku ini, tanpa keraguan dan kekhawatiran, akan menjadi kaya. Wallace juga menegaskan, bahwa semua petunjuk yang ada di buku ini, adalah *”exact science, and failure is impossible”*.

Sebelum Anda menjadi ragu, Saya akan meyakinkan Anda. Anda tahu siapa Rhonda Byrne? Rhonda Byrne adalah produser film “The Secret” yang menghebohkan itu. Berikut ini adalah komentarnya tentang buku ini:

*”This book is the key to prosperity you have longed for. It will change your life. Be aware, as you read it, that it was written almost 100 years ago. Some of the language is a little dated (or ‘quaint’) and you’ll need to come to it with an open mind and heart. Remember, though, you are about to discover an exciting new reality. You are about to learn the fundamental principles of wealth creation and life success. Stay with it. As Wallace himself says, trust and believe. Whatever you want in life is right there waiting for you. With this book, it is right in your hands.” *

*ILMU MENJADI KAYA ADALAH EKSAKTA*

Setiap orang, mengisi kehidupannya dengan tiga motivasi utama, yaitu hidup untuk tubuh, hidup untuk pikiran, dan hidup untuk jiwa. Untuk bisa hidup sepenuhnya, setiap orang layak dan berhak menjadi kaya.

Untuk menjadi kaya, ada ilmunya. Ilmu ini, adalah ilmu eksak seperti aljabar atau matematika. Jika Anda menguasai ilmu ini, maka Anda akan menjadi kaya dengan kepastian yang matematis.

Kepemilikan atas kekayaan, uang, dan harta benda, adalah hasil dari berbagai tindakan yang dilakukan dalam cara tertentu (Certain Way). Siapapun yang bertindak dalam cara ini, entah sengaja atau tidak, akan menjadi kaya. Sebaliknya, siapa pun yang melakukan berbagai hal tidak dengan cara ini, sekeras apa pun mereka berusaha dan bekerja, sehebat apapun kemampuannya, tidak akan pernah menjadi kaya.

Ungkapan di atas adalah benar berdasarkan fakta-fakta berikut ini.

Menjadi kaya bukanlah semata-mata tentang lingkungan. Jika menjadi kaya ditentukan oleh lingkungan, maka semua orang di suatu lingkungan tertentu, mestinya akan kaya. Semua orang di suatu kota akan kaya. Semua orang di suatu kampung akan kaya. Semua orang di suatu negeri akan kaya. Kenyataannya, tidak demikian.

Di sebuah RT, orang kaya tinggal bersebelahan dengan orang miskin. Dua pemilik toko yang bersebelahan, dengan barang dagangan yang sama, dan dengan kerja keras yang sama, kekayaannya akan berbeda.

Menjadi kaya, adalah dengan berpikir dan melakukan berbagai hal dengan cara tertentu (Certain Way).

Menjadi kaya juga bukan semata-mata tentang bakat. Banyak orang berbakat tetap miskin selama hidupnya. Sementara orang yang tidak berbakat justru menjadi kaya. Studi Wallace dan rekan-rekannya menunjukkan, bahwa orang-orang yang kaya justru memiliki bakat dan kemampuan yang rata-rata. Sama seperti Anda.

Menjadi kaya, adalah dengan berpikir dan melakukan berbagai hal dengan cara tertentu (Certain Way).

Menjadi kaya juga bukan hasil dari kebiasaan dan kemampuan menabung dan berhemat semata-mata. Banyak orang yang pelit tetap miskin, dan banyak orang yang royal justru tetap kaya.

Menjadi kaya, adalah dengan berpikir dan melakukan berbagai hal dengan cara tertentu (Certain Way).

Menjadi kaya juga tidak berhubungan dengan kegagalan atau keberhasilan saja. Dua orang pengusaha, yang bekerja sama kerasnya, kemudian sama berhasilnya, pada akhirnya akan memiliki kekayaan yang berbeda.

Menjadi kaya juga bukan tentang pilihan profesi atau bidang usaha. Mereka yang profesinya sama, atau bisnisnya sama, tetap saja “kayanya” berbeda.

Menjadi kaya, juga bukan tentang ada atau tidaknya modal. Banyak yang bermodal besar tapi bangkrut, dan banyak yang hanya “moderat”, alias modal dengkul sama urat, berakhir sebagai orang kaya.

Menjadi kaya, adalah dengan berpikir dan melakukan berbagai hal dengan cara tertentu (Certain Way).

Menurut hukum sebab akibat, “sebab” yang sama, akan menghasilkan “akibat” yang sama. Dan jika ini berlaku, maka “menjadi kaya” adalah ilmu eksakta.

Apa yang diperlukan untuk menguasai Certain Way ini? Cukup hanya kemampuan berpikir dan kemampuan memahami. Setiap orang bisa menjadi kaya. Tentu saja, Anda juga.

Untuk menjadi kaya, Anda bisa memulainya dengan profesi, bisnis, dan lokasi Anda saat ini. Tak perlu ganti profesi atau banting stir ke bisnis lain, tak perlu juga Anda berpindah tempat.

Hal pertama yang harus Anda pahami, adalah kesempatan dan peluang atau opportunity. Ia ada di mana-mana. Monopoli tak akan bisa mengikatnya. Monopoli tidak akan membuat Anda miskin, sebab kesempatan ada di mana-mana. Cari dan temukanlah. Lalu, lakukan segalanya in Certain Way. Anda tidak akan menjadi miskin.

Anda juga tidak akan menjadi miskin karena supply dari orang kaya yang terbendung atau terhenti alirannya. Segala sesuatunya telah tersedia, lebih dari cukup. Dunia ini ada dalam keseimbangan, sebab aliran itu tak akan pernah berhenti.

Apa yang telah menjadi sampah bagi seseorang, akan menjadi bahan baku bagi orang lain. Kertas, plastik, kaca, dan botol yang sudah tak terpakai, telah mengantarkan pemulung dan pedagang pengumpul naik haji lebih dari satu kali. Itu contohnya.

Alam semesta yang kita tinggal di dalamnya, adalah gudang kekayaan yang tak akan ada habisnya. Persediaannya tak akan pernah menyusut.

*eBook gratis “The Science of Getting Rich”* dalam “A Game of Success”, baca dulu aturan mainnya di sini *:*
http://milis-bicara.blogspot.com/2007/04/tips-147-menjadi-kaya-ada-ilmunya.html

Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
021-70096855
ikhwan dot sopa at gmail dot com

Wafatnya pecinta Qur’an

Barusan saya dapat telepon dari teman yang mengabarkan bahwa Ayahnya telah meninggal dunia dengan tenang dan sangat tenang serta tidak membuat kalang kabut anak dan cucunya. Kata dia bahwa tadi pagi beliau masih berolahraga. Karena merasa tidak enak badan beliau cepat pulang dan bilang pada keluarganya akan istirahat.

Eh… nggak tahunya meninggal dunia. Ternyata begitu mudah ya… Apalagi soal wasiat dan warisan sudah dibicarakan jauh hari sebelumnya. Dia bilang juga bahwa apa yang saya ucapkan 5 tahun yang lalu itu benar adanya.

Memang 5 tahun yang lalu saya pernah bilang ke dia kalau Ayahnya suatu saat nanti meninggal dunia Insya Allah akan tenang dan tidak membuat repot anak cucunya. Dengan lagak bak Ustadz (padahal aslinya Preman) saya menjelaskan panjang lebar dan salah satu fokus utama yang dibicarakan yaitu beliau itu pecinta Al-Qur’an.
Sejak dulu saya mengamati bahwa para Pecinta Al-Qur’an itu ketika meninggal akan tenang sekali dan tersenyum. Jadi kalau melihat ada orang yang meninggal dengan TERSENYUM seharusnya kita bergembira dan bukannya bersedih. Kalau saya mati saat ini kemungkinan besar akan TERBELALAK mata ini… Maklum Preman…!!!

Hikmahnya: CINTAILAH AL QURAN… kalau ingin meninggal dengan tenang dan damai…

TOLAK PENCABUTAN TAP NO XXV/MPRS/1966

Ribuan pemuda Jawa Timur yang tergabung dalam Front Peduli Keutuhan dan Keselamatan Bangsa (FPKKB) menolak tegas pencabutan Ketetapan (Tap) No XXV/MPRS/1966 tentang komunisme. Penolakan tersebut diwujudkan dengan berunjuk rasa di DPRD Tk I Jatim, dan pembakaran bendera PKI dan Israel di Tugu Pahlawan, Surabaya, Senin (10/4).

Menurut Firman Arifin, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yang juga koordinator aksi tersebut, pemuda yang tergabung dalam FPKKB berasal dari ormas mahasiswa, ormas pemuda, dan masjid yang datang dari Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Lamongan, dan Pasuruan.

FPKKB menolak pendapat bahwa pencabutan Tap tersebut berarti menum-buhkan demokrasi. “Bagaimana bisa menumbuhkan demokrasi, komunis itu ‘kan antidemokrasi. Di dalam komunis, sejarah hanya berdasarkan pertarungan kelas saja,” kata Firman.

Ditambahkan, jika keinginan pencabutan tap tersebut tetap dilanjutkan, berarti akan ada pertumpahan darah lagi. 

Para pemuda tersebut ditemui oleh lima orang anggota Dewan, yakni M Sabron dan Kahfan Arifin (F-Golkar), Soepomo (F-PDIP), Mujahid Ansori (F-Gab), dan Sri Hantoro (F-TNI/Polri) di halaman gedung DPRD. 

Sementara itu, DPRD Jawa Tengah juga sepakat mempertahankan keberadaan Tap  No XXV/MPRS/1966 dan menolak secara tegas, usulan pencabutan Tap MPRS tersebut. Pernyataan sikap tersebut, dikeluarkan DPRD Jateng, Senin (10/4) di Semarang ditandatangani Pimpinan Fraksi dan pimpinan DPRD Jateng. 

Pada peryataan tersebut, DPRD Jateng menyatakan komunis sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila, dan tidak layak hidup di bumi Indonesia. DPRD Jateng menilai, tingginya angka kemiskinan di Indonesia merupakan lahan subur bagi tumbuh dan berkembangnya paham komunis. Karena itu, secara tegas DPRD Jateng menolak Tap No XXV/MPRS/1966 dicabut.

Pada hari yang sama, sejumlah massa yang menamakan diri Aliansi Penyelamat Indonesia (API) menggelar aksi menolak pencabutan Tap No XXV/MPRS/1966. Aksi dilakukan di Masjid Baiturahman, Gedung RRI dan DPRD Jateng. Pada aksi ini massa membakar sejumlah atribut PKI. (Sumber: Kompas, Selasa, 11 April 2000).