Surabaya – SURYA- Sejak lulus dan menyandang gelar sarjana Teknik Sipil ITS, Henky Eko Sriyanto, bukan malah menekuni ilmu dan keahliannya. Tetapi malah memilih menjadi tukang bakso yang tidak ada hubungannya dengan disiplin ilmunya. Namun melalui perjuangan kerasnya, Tukang Bakso ini sekarang memiliki omzet Rp 120 juta per bulan.
Tidak hanya itu, Eko yang lahir, 4 Mei 1974 ini juga sudah mempekerjakan 400 pekerja. Mulai dari pekerja produksi sampai manajemen. Namun untuk sampai pada posisi ini diperlukan tidak hanya kerja keras, ulet, tahan banting, rai gedek, dan pantang menyerah.
Seluruh orang dekatnya, teman, keluarga, sampai mertua hampir semua mengolok-olok mahasiswa angkatan 1992 ini. Tidak saja karena status sarjananya dan memiliki keahlian di bidang bangunan. Tetapi juga dicibir bahwa tukang bakso adalah menyurung gerobak yang tidak jelas penghasilannya.
Namun penilaian itu dianggap sebagai cambuk sekaligus tantangan. Eko bertekad mengubah image gerobak bakso menjadi mesin uang bukan recehan. “Bayangkan, orang-orang dekat saya, termasuk orang tua dan mertua ikut mengolok. Tetapi ini cambuk dan akan saya buktikan bahwa bakso saya bisa menjadi mesin uang,” tekad Eko empat tahun lalu.
Pria asli Arek Suroboyo ini memilih menjadi tukang bakso setelah gagal total selama empat tahun berbisnis. Inspirasi itu muncul saat dirinya pertama kali melihat Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Mimpi Eko terbangun di tempat persinggahan orang berduit itu.
Saat itu sekitar awal 2006. Suami Astri Indrayana ini melihat gerai bakso di bandara yang ramai disinggahi pembeli. Alih-alih membeli, punya uang saja pas-pasan. Eko pun memberanikan diri bertanya harga sewa out let ke Angkasa Pura. “Hampir saya nggeblak, harga sewa Rp 300 juta per tahun,” kenang Eko tanpa harus membeli baksonya waktu itu.
Meski kedengarannya di awang-awang, tetapi Eko yang sudah jatuh bangun membuka usaha, tak mau menyerah. Dalam perjalanan pulang ke Surabaya, dia tetap bermimpi menjadi tukang bakso.
“Saya langsung belajar sambil menjadi kuli bakso di Surabaya tiga bulan. Bagaimana membuat bakso, menggiling daging, sampai membumbui. Saya ingat saat baca buku, kalau mau sukses harus afirmasi dan visualisasi,” tekad Eko.
Pria yang selama mahasiswa menjadi aktivis di himpunan dan senat ini langsung mengucapkan keinginannya (afirmasi) dan mengambil gambar out let bakso bandara (visualsiasi). Tekad sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat.
Dengan hanya mengantongi modal Rp 2,5 juta, kembali Eko merantau ke Jakarta.
Dan 2006 memberanikan membuka out let di Pujasera Bekasi. Waktu itu diberlakukan sistem sharing 60 : 40. Hasil penjualan dibagi dua.
Setelah berkembang, mimpinya gerobak masuk mal terus dikejar. Mahasiswa ITS yang lulus dengan IPK 2,99 ini pun membuka out let di Tamini Square di Taman Mini, Jakarta Timur. Nama baksonya, Bakso Malang Kota Cak Eko.
“Belajar dari bisnis sebelumnya, saya harus punya mitra untuk menjaga usaha. Alhamdulillah berkembang pesat hingga sekarang. Tahun ini menunggu haji, saya akan buka cabang di Makkah, Madinah, Malaysia, dan Singapura,” ucap Eko semangat.
Di Indonesia sendiri, bakso Cak Eko ini sudah memiliki 125 cabang. Setiap cabang rata-rata beromzet Rp 25 juta. Untuk cabang di Palu dan Bontang omzetnya mencapai Rp 120 juta per bulan.Nuraini Faiq
number of view: 1324


Bersama smsPILKADA.com Mengawal Kemenangan Kandidat Anda
Wisata Anyar Mangrove (WAM) Surabaya,
Wah Memang Nasib orang ke depannya Tak terduga Qt hanya bisa berdoa bertawakal n berihtiyar sebaik mungkin…