<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>:: FAO - Firman Arifin Online &#187; Hikmah</title>
	<atom:link href="http://www.firman-its.com/category/hikmah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.firman-its.com</link>
	<description>Belajar dan Bekerja dengan Cinta</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 11:57:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ada Kesulitan, Pasti Ada Kemudahan</title>
		<link>http://www.firman-its.com/ada-kesulitan-pasti-ada-kemudahan.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/ada-kesulitan-pasti-ada-kemudahan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 09:16:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[MotivAksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=912</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang ayah yang hidup di daerah dengan empat musim. Ia menyuruh anak-anaknya ke hutan melihat sebuah Pohon Pir di waktu yang berbeda. Anak pertama disuruhnya pergi pada musim DINGIN, anak ke-2 pada musim SEMI, anak ke-3 pada musim PANAS dan anak yang ke-4 pada musim GUGUR. Anak 1: Pohon Pir itu tampak sangat jelek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2011/09/15/dibalik-kesulita/unduhan.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-913" title="unduhan" src="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2011/09/15/dibalik-kesulita/unduhan.jpg" alt="" width="225" height="225" /></a>Ada seorang ayah yang hidup di daerah dengan empat musim. Ia menyuruh anak-anaknya ke hutan melihat sebuah Pohon Pir di waktu yang berbeda.</p>
<p>Anak pertama disuruhnya pergi pada musim DINGIN, anak ke-2 pada musim SEMI, anak ke-3 pada musim PANAS dan anak yang ke-4 pada musim GUGUR.</p>
<p>Anak 1: Pohon Pir itu tampak sangat jelek dan batangnya bengkok.<br />
Anak 2: Pohon itu dipenuhi kuncup hijau yang menjanjikan.<br />
Anak 3: Pohon itu dipenuhi dengan bunga yang menebarkan bau harum.<br />
Anak 4: Ia tdk setuju dengan saudaranya, ia berkata bahwa pohon itu penuh dengan buah yang matang dan ranum.</p>
<p>Kemudian sang ayah berkata bahwa kalian semua benar, hanya saja kalian melihat pohon yang sama di waktu berbeda.</p>
<p>Ayahnya berpesan: &#8220;Mulai sekarang jangan pernah menilai kehidupan hanya berdasarkan satu masa yang sulit&#8221;.</p>
<p>Ketika anda sedang mengalami masa sulit, segalanya terlihat tidak menjanjikan, banyak kegagalan dan kekecewaan, jangan cepat menyalahkan diri dan orang lain bahkan berkata bahwa anda tidak mampu, bodoh dan bernasib sial&#8230;</p>
<p>Ingatlah&#8230;dirimu amat berarti, dan tidak ada istilah &#8220;nasib sial&#8221; bagi orang percaya!</p>
<p>Tetap setia, mengerjakan apa yang menjadi bagian dan tugas kita;  dan percaya bahwa Allah SWT akan memenuhi segala janji-Nya&#8230;</p>
<p>Jika kita tidak bersabar ketika berada di musim dingin, maka kita akan kehilangan musim semi dan musim panas yang menjanjikan harapan, sehingga kita tidak akan bisa menuai hasil di musim gugur.</p>
<p>&#8220;Kegelapan malam tidak seterusnya, bertahanlah karena esok pasti datang fajar yang mengusir kegelapan.&#8221;</p>
number of view: 323]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/ada-kesulitan-pasti-ada-kemudahan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan, Sekolah Hebat yang Gratis</title>
		<link>http://www.firman-its.com/ramadhan-sekolah-hebat-yang-gratis.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/ramadhan-sekolah-hebat-yang-gratis.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Jul 2011 13:29:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=899</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Arif Rahman Hakim “Sekolah Semakin Sulit dan Mahal,” demikian berita di halaman utama KOMPAS 6/7/2011. Di halaman yang sama ada juga judul: “Cari Sekolah, Kok, Susah Sekali?” Maka, atas kenyataan itu, wajar jika ada yang bertanya: “Adakah sekolah bagus, tapi gratis?” *** Mari perhatikan sekitar kita! Di saat-saat ini –di awal tahun ajaran baru- masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2011/07/19/ramadhan-sekolah-hebat-yang-gratis/arsya.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-901" title="arsya" src="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2011/07/19/ramadhan-sekolah-hebat-yang-gratis/arsya-e1311082789731-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Oleh: <strong>Arif Rahman Hakim</strong></p>
<p>“Sekolah Semakin Sulit dan Mahal,” demikian berita di halaman utama KOMPAS 6/7/2011. Di halaman yang sama ada juga judul: “Cari Sekolah, Kok, Susah Sekali?” Maka, atas kenyataan itu, wajar jika ada yang bertanya: “Adakah sekolah bagus, tapi gratis?”</p>
<p>***</p>
<p>Mari perhatikan sekitar kita! Di saat-saat ini –di awal tahun ajaran baru- masih terasa suasana ketika para orangtua sibuk memikirkan dan mencarikan sekolah untuk anak-anak mereka. Suasana prihatin mencuat, saat melihat fakta tentang sulitnya mendapat sekolah (yang baik) lantaran biaya sekolah yang semakin mahal, seperti tercermin di dua judul berita yang dikutip di paragraf pertama tulisan ini.</p>
<p>Tapi, alhamdulillah, sebentar lagi kita akan mendapat kesempatan belajar di sekolah hebat dan gratis selama satu bulan penuh yaitu lewat ibadah puasa Ramadhan. Di bulan Ramadhan, kita diwajibkan untuk berpuasa.<em>“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.</em>” (QS Al-Baqarah [2]: 183).</p>
<p>Ramadhan itu sekolah? Sekolah itu gratis? Benar, puasa Ramadhan adalah semacam sekolah karena dengannya kita dididik secara sistimatis dalam hal kebaikan. Benar, sekalipun kita mendapatkan pendidikan yang berkualifikasi terbaik ternyata untuk itu kita tak harus pusing memikirkan biayanya, karena cuma-cuma.</p>
<p>Ramadhan adalah bulan untuk belajar. Belajar apa? <em>Pertama</em>, belajar peka terhadap lingkungan sekitar. Dengan berpuasa, kita dapat merasakan bagaimana orang yang kurang beruntung menahan lapar dan dahaga setiap hari. Kita yang berpuasa, masih dapat makan dan minum setelah saat berbuka tiba. Bayangkanlah Si Miskin saat mereka harus menahan lapar dan dahaga selama berhari-hari.</p>
<p>Bulan Ramadhan juga memberikan kesempatan besar untuk berbagi kepada sesama. Bagi yang memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, akan mendapatkan pahala sebesar yang didapat orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut. Pahala tersebut akan diberikan Allah, meskipun yang diberikan untuk berbuka itu hanya sebuah kurma atau seteguk air. Maka, sungguh merugi jika di bulan penuh berkah ini kita tak belajar peka terhadap keadaan sekitar.</p>
<p><em>Kedua</em>, belajar lebih sabar. Puasa mendidik kita untuk lebih sabar. Inti puasa adalah menahan hawa nafsu. Semua nafsu –seperti nafsu makan-minum, nafsu marah, nafsu syahwat- kita kendalikan.</p>
<p>“Kesabaran itu ada tiga macam: sabar menghadapi musibah, sabar untuk taat, dan sabar menghindari maksiat” (HR Ibnu Abud-Dunya). Lalu, bagaimana dengan ungkapan yang popular di tengah-tengah masyarakat bahwa “Sabar itu ada batasnya”? Ungkapan itu tak berdasar. Kita harus ikhlas menerima dan menghadapi segala macam masalah yang ada.</p>
<p>Al-Quran mengatakan,</p>
<p><em>“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan, sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk</em>.” (QS Al-Baqarah [2]: 45).</p>
<p>Jika memperhatikan ayat di atas, sabar (bersama shalat) merupakan media penolong terpenting saat kita disergap masalah. Dengan demikian, maukah kita membatasi sabar yang berarti mempersempit dan bahkan menutup peluang kita untuk keluar dari masalah yang mengepung kita? Maka, dengan logika sederhana itu, bagi kaum beriman sabar itu sungguh tidak berbatas.</p>
<p><em>Ketiga</em>, belajar disiplin. Bulan Ramadhan tanpa sadar mengajarkan kita berdisiplin. Contoh kecil, waktu makan menjadi lebih teratur. Waktu sahur, kita bersegera bangun. Saat berbuka puasa, kita bahkan sudah bersiap-siap di depan makanan beberapa menit sebelumnya. Sementara, jika di hari-hari di luar Ramadhan, banyak dari kita yang makan tanpa jadwal yang jelas karena berbagai alasan. Akibatnya apa? Karena tidak disiplin dengan pola makan, maka kita berpeluang dihampiri berbagai penyakit.</p>
<p><em>Keempat</em>, belajar jujur. Puasa mengajarkan kita untuk jujur. Lewat puasa Ramadhan kita dilatih berlaku jujur. Misal, sekalipun kita memiliki kesempatan untuk makan dan minum di tempat terlindung, tapi itu tidak dilakukan karena kita sedang berpuasa dan yakin bahwa perbuatan apapun pasti dilihat Allah. Saat berpuasa, kita dilatih untuk menyadari bahwa Allah selalu hadir di manapun kita berada.</p>
<p>Dengan gambaran di atas, sungguh menyenangkan, bukan? Ramadhan adalah sekolah dengan kurikulum hebat tapi tak menarik bayaran sedikitpun. Bersyukurlah jika kita masih berkesempatan bersekolah gratis di Madrasah Ramadhan. Belum tentu tahun depan kita mempunyai kesempatan yang sama. Untuk itu, sebagaimana murid yang mau masuk sekolah, maka fisik dan mental harus dipersiapkan secara baik dalam menyambut sekolah gratis ini. Rugi jika kita akan mendapatkan pelajaran hebat tapi kita tidak siap menerimanya. Jadi, jangan sia-siakan Ramadhan.</p>
<p>Kelak, setelah puasa Ramadhan selesai, seharusnya setiap orang menjadi lebih baik karena sudah ditempa di Madrasah Ramadhan. Misal, orang yang dulu malas-malasan shalat lima waktu, seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan.</p>
<p><strong>Menuju Taqwa<br />
</strong><br />
<em>Alhamdulillah</em>, Ramadhan segera akan tiba. Maka, bagi kita yang beriman, pasti akan menyambut datangnya “Bulan pendidikan dan pelatihan” ini dengan penuh antusias. Sebab, bulan Ramadhan hanya datang setahun sekali. Artinya, butuh waktu cukup panjang agar kita dapat bertemu dengan bulan mulia ini, itupun dengan catatan jika masih ada nikmat umur buat kita.</p>
<p>Dengan demikian, kehadiran bulan suci Ramadhan seharusnya membuat umat Islam senang dan bahagia. Lalu, berpuasalah dengan niat ikhlas untuk mengharap Ridho Allah.</p>
<p>Akhirnya, semoga Allah menerima setiap amalan kita di Ramadhan dan menjadikan kita manusia yang bertaqwa. Mudah-mudahan kita dapat belajar dengan baik dan ikhlas selama Ramadhan. Pelajari dan amalkan setiap ilmu yang didapat. Untuk itu, persiapkan diri kita dengan baik dalam menyambutnya. Dan mari kita jadikan bulan mulia ini menjadi “sekolah” untuk keluarga dan anak-anak kita. “Ramadhan, marhaban!”</p>
<p><em>Penulis adalah alumnus Unair dan peminat masalah sosial-keagamaan</em></p>
number of view: 318]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/ramadhan-sekolah-hebat-yang-gratis.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Power of Qudwah</title>
		<link>http://www.firman-its.com/the-power-of-qudwah.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/the-power-of-qudwah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Apr 2011 06:23:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Rilis]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=830</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Model Pendidikan yang Efektif Oleh : Firman Arifin Berbagai metode pendidikan sudah dicanangkan dan sudah diterapkan di lingkungan sekolah, baik  yang formal maupun informal. Contoh yang formal misalnya, cara belajar siswa aktif (CBSA). Harapan dampak dari CBSA ini, agar siswa sebagai peserta didik untuk aktif belajar tanpa dikomando alias tanpa selalu diawali dengan diberi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong><a href="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2011/04/04/the-power-of-qudwah/Kisah-kisah_Teladan_5.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-831" title="Kisah-kisah_Teladan_5" src="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2011/04/04/the-power-of-qudwah/Kisah-kisah_Teladan_5-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a><strong>Sebuah Model Pendidikan yang Efektif</strong><br />
Oleh : Firman Arifin</p>
<p>Berbagai metode pendidikan sudah dicanangkan dan sudah diterapkan di lingkungan sekolah, baik  yang formal maupun informal. Contoh yang formal misalnya, cara belajar siswa aktif (CBSA). Harapan dampak dari CBSA ini, agar siswa sebagai peserta didik untuk aktif belajar tanpa dikomando alias tanpa selalu diawali dengan diberi tugas atau PR dan belajarnya tidak menunggu kalau ada ujian .</p>
<p>Namun apa yang terjadi? Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kepada penggagas metode ini, hasilnya kita bisa lihat. Metode ini cendrung “lepas”. Dalam artian, bagi siswa yang memang ada sifat dasar rajin, maka dia akan rajin belajarnya. Tapi, bagi yang tidak? Si siswa “menikmati” dunianya yang santai, bermalas-malasan dan mengalir seperti air untuk menutupi ketidakberdayaannya. Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa karakter dasar bangsa kita, termasuk karakter siswa bukan karakter yang aktif dan kreatif.</p>
<p>Ada juga metode kompetensi. Sebuah metode yang berbasis kompetensi dengan  menekankan siswa lulus dari kriteria-kriteria tertentu sebagai syarat kelulusannya. Ada lagi metode-metode yang lain. Sekali lagi, dan untuk kesekian kalinya, metode pendidikan ini  seakan tidak berdaya mengangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia.</p>
<p>Kalau kita cermati, metode-metode di atas, semuanya menekankan aspek kognitif saja. Padahal, pendidikan yang sebenarnya adalah sinerginya aspek kognitif (berpikir) dan aspek afektif (merasa). Inilah salah satu kesalahan terbesar metode pendidikan yang dikembangkan di Indonesia. Pendidikan kita sangat tidak memperhatikan aspek afektif, sehingga bangsa ini hanya tercetak sebagai generasi-generasi yang “pintar” tapi tidak memiliki karakter-karakter yang dibutuhkan oleh bangsa ini.</p>
<p><strong>Metode Apa yang Terbaik?</strong></p>
<p>Apakah ada metode yang terbaik untuk menyelesaikan masalah besar ini? Inilah PR besar kita. Kita harus mencari dan merumuskan metode yang terbaik untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa. Dan bukan metode coba-coba. “Buat anak kok coba-coba” <img src='http://www.firman-its.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .  Kita harus cari metode yang bisa merubah karakter bangsa dari pemalas, peminta-minta, dan korup menjadi bangsa yang bisa bangga akan jati dirinya sebagai bangsa yang bermartabat.</p>
<blockquote><p>Saya teringat bagaimana Rasulullah Muhammad saw., berhasil merubah bangsa arab dari jahiliyah menuju bangsa yang cerdas dan maju. Bahkan kalau dilihat dari sudut pandang waktu, kemajuannya sangat fantastis. Kalau dihitung dari masa kenabian sampai beliau meninggal, beliau memerlukan waktu kurang lebih 38 tahun. Luar biasa.</p></blockquote>
<p>Ah iku kan nabi! Kalimat ini sering kita dengar sebagai pembenaran akan “kekerdilan” kita. Tapi kita lupa atau tidak serius mendalami kenapa dan mengapa Rasulullah bisa berhasil merubah karakter bangsa arab sedemikian dahsyatnya. Tarbiyah! itulah jawabannya. Ya, pendidikan dan pembinaan yang dilakukan Rasulullah bisa merubah karakter para sahabat.</p>
<p>Marilah kita menengok sejenak, apa resep Rasulullah dalam mendidik dan membina para sahabatnya. Tulisan kali ini, kita lihat bagaimana Rasulullah menyampaikan risalah kenabiannya yang berupa rukun Islam.</p>
<p><em>Pertama</em>, bab Sahadah. Rukun pertama ini bukan hanya sekedar keyakinan yang tidak bisa kita lihat dan kita rasakan. Tapi dengan jelas dan terang benderang bagaimana Rasulullah mendemonstrasikan kemahaesaan Allah. Rasulullah mengatakan tuhan hanya satu dan hanya kepadaNya kita meminta. Beliau tidak pernah  tercatat dalam sejarah meminta-minta kepada mahluk Allah lainnya semisal jin. Sungguh indah, ada paduan yang serasi antara lisan dan amal perbuatan yang tentunya bersumber dari hati yang bersih. Ini adalah keteladanan dalam bertauhid.</p>
<p><em>Kedua</em>, tentang sholat. Sebelum Rasullullah mencontohkan rukun sholat, tidak pernah beliau langsung memerintahkan, “Wahai sahabat sholatlah”. Tidak! Rasullullah sebelum memerintahkan kepada para sahabat beliau mempraktekkan bagaimana sholat yang benar. Rasullullah bersabda &#8220; <strong>Shallu kama</strong> ro-aitumuni ushalli &#8220;. ( Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat ). Perintah sholat diawali dengan melihat beliau sholat, disitu ada pendidikan dan keteladanan.</p>
<p>Rukun islam <em>ketiga</em>, tentang puasa. Suatu waktu Rasulullah mendapati sahabatnya puasa terus-terusan. Dengan tegas tapi lembut Rasulullah bersabda, &#8220;Saya puasa tapi saya juga berbuka&#8221;.</p>
<p>Beliau menjelaskan kepada sahabatnya bahwa puasa itu bukan berarti tidak makan dan minum dalam waktu yang lama yang bahkan tidak bersifat insaniah. Tapi puasa yang dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Rasulullah pun mencontohkan seperti itu, sehingga sahabat tadi &#8220;tidak berontak&#8221; meski niatnya untuk  اَللّهُ semata tapi caranya salah.  اَللّهُ tidak akan ridho. Ini bukti lagi sebuah kekuatan dari qudwah, keteladanan.</p>
<p>Zakat adalah rukun islam yang <em>keempat</em>. Infaq dan shodaqoh bagian yang tak terpisahkan dari zakat ini. Sejarah mencatat, nabi yang kala itu umur 25 tahun bisa memberi mahar ke khodijah 100 ekor unta dan untanya pun unta merah, unta terbaik. Artinya Rasulullah kaya. Maharnya saja besarnya seperti itu. Istrinya juga saudagar kaya raya.</p>
<p>Coba perhatikan, bagaimana akhir dari kehidupan keluarga Rasulullah yang kaya raya? Beliau tidak meninggalkan warisan untuk anak tercintanya, fatimah. Tapi beliau meninggal warisan untuk ummatnya yaitu quran dan sunnah.</p>
<p>Pertanyaannya, kemana harta kekayaan Rasulullah? Ya pasti, diinfaqkan di jalan  اَللّهُ.</p>
<blockquote><p>Para sahabat tahu pasti tentang hal ini. Sehingga tidak heran Umar ra dan Abu Bakar ra berlomba-lomba dalam bab zakat, infaq dan shodaqoh  ini. Umar separuh harta dan abu bakar semua hartanya. Luar biasa, lagi-lagi kekuatan keteladanan.</p></blockquote>
<p>Yang <em>terakhir</em> bab haji. Ada hikmah yg menarik, ketika Rasulullah menyuruh para sahabat yang naik haji untuk menunaikan salah satu rukun haji yaitu tahalul, para sahabat tidak ada yang &#8220;mau&#8221;.</p>
<p>Akhirnya beliau dengan sedih kembali ke tenda menemui istrinya. Istrinya tahu ada raut kesedihan di wajah Rasulullah. Beliau bertanya, ada apa ya Rasulullah? Beliau menjawab, &#8220;baru kali ini apa yang saya sampaikan tidak dilakukan oleh para sahabat&#8221;.</p>
<p>Dengan sigap, si istri langsung bertanya, &#8220;apa Rasulullah sudah mencontohkan?&#8221; Seketika itu Rasulullah sadar bahwa benar beliau belum mencontohkan bagaimana tahalul itu.</p>
<p>Kembalilah Rasulullah mengumpulkan para sahabat dan menyampai, &#8220;wahai sahabatku, marilah kita tahalul”. Sambil mengajak sahabatnya, beliau mencontohkan bagaimana tahalul itu. Seketika itu juga para sahabat memotong sebagian rambutnya sebagimana dicontohkan oleh Rasulullah. Top markotop.<strong> Bukti keteladanan harus ada di depan</strong>.</p>
<p>Hikmah apa yang bisa kita ambil? Keteladanan adalah harga mati dari sebuah proses pembinaan dan pendidikan. Anak kita, siswa kita, mahasiswa kita, ummat kita butuh keteladanan.</p>
<blockquote><p>Keteladanan harus hadir di rumah. Keteladanan harus hadir di depan kelas. Keteladanan harus hadir di pasar. Keteladanan harus hadir di kantor. Keteladanan harus hadir di parlemen dan Keteladanan harus hadir di eksekutif. Keteladanan harus hadir bersama kita.</p></blockquote>
<p>Ketika keteladanan sudah ada di bumi pertiwi ini, yakinlah &#8220;<strong>Indonesia Raya</strong>&#8221; akan berkibar dengan gagah perkasa.</p>
number of view: 730]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/the-power-of-qudwah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Efek Kesehatan dari Pikiran Negatif</title>
		<link>http://www.firman-its.com/efek-kesehatan-dari-pikiran-negatif.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/efek-kesehatan-dari-pikiran-negatif.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 13 Dec 2010 06:14:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=803</guid>
		<description><![CDATA[Dr. Masaru Emoto San dalam bukunya yang berjudul &#8220;Efek kesehatan dari pikiran negatif&#8221; tertulis: Jika sering membiarkan diri kita stress maka kita akan mengalami gangguan pencernaan. Jika sering khawatir, kita bisa terkena sakit punggung. Jika mudah tersinggung maka kita akan terkena insomnia (susah tidur). Jika sering kebingungan, akan terkena sakit tulang belakang bagian bawah. Jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dr. Masaru Emoto San  dalam bukunya yang berjudul &#8220;Efek kesehatan dari pikiran negatif&#8221; tertulis:</p>
<p>Jika sering  membiarkan diri kita stress maka kita akan mengalami gangguan  pencernaan.</p>
<p>Jika sering khawatir, kita bisa terkena sakit punggung.</p>
<p>Jika  mudah tersinggung maka kita akan terkena insomnia (susah tidur). Jika  sering kebingungan, akan terkena sakit tulang belakang bagian bawah.</p>
<p>Jika sering membiarkan rasa takut yg berlebihan,  akan mudah terkena penyakit ginjal.</p>
<p>Jika suka cemas akan diikuti  sakit dyspepsia (sulit mencerna).</p>
<p>Jika suka marah bisa sakit hepatitis.</p>
<p>Jika sering apatis/acuh terhadap lingkungan, bisa mengakibatkan  vitalitas melemah.</p>
<p>Jika sering tidak sabar, bisa mengakibatkan  diabetes (sakit gula).</p>
<p>Jika sering merasa kesepian, bisa  mengakibatkan sakit demensia senelis  (memori &amp; kontrol fungsi tubuh  berkurang).</p>
<p>Jika sering bersedih, bisa menderita leukemia.</p>
<p>Maka  dari itu hati yg gembira dan selalu &#8220;Positive Thinking&#8221;  adalah OBAT <img src='http://www.firman-its.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<div id="id_4d05b90a6da8e2e65918077"><strong>Lihat sekitar Kita</strong></div>
<div>Lihatlah tong sampah di dlm  rumah, jika ia penuh dan dibiarkan berlarut2 lambat laun kian membusuk,  baunya menyengat membuat org enggan mendekat, yang ada hanya kerumunan  lalat.</p>
<p>Namun jika tong sampah itu dialasi kantong plastik, sampah  yg t&#8230;erkumpul dibungkus dan dibuang scr berkala, yg  ada rumah tetap indah, tak ada bau yg mengganggu, Anda pun nyaman  selalu.</p>
</div>
<div>Sahabat, sebagian org masih menjadikan pikiran dan  dadanya sbg tempat sampah. Menaruh memori2 tak berguna dan menyimpannya  berlama2. Penyesalan, marah, dengki, benci, dendam, jengkel, mengumpat,  dan menjelek2an org terus dijejali dan teronggok dlm otak dan bergemuruh  dlm dadanya. Bahkan ada sebagian lagi yg senang menyimpannya, tak  pernah mau melepas dan membuangnya. Alhasil org itupun makin dijauhi.  Hidupnya tak jauh dari sampah yg ia simpan dalam pikiran dan dadanya  itu.</div>
<div></div>
<div>Lihatlah org yg selalu  membersihkan pikiran n hatinya. Menghapus dengki, benci, dendam, dan  hal2 negatif lain, hidupnya dipenuhi cahaya, senyumnya selalu tulus,  ilmu mudah dicerna, kebaikan mudah tersimpan, keburukan tak pernah  bertahan, or&#8230;g lain pun senang padanya dan urusanpun makin  mudah diselesaikan.</div>
<div>
<div>
<p>Jadi, sering2lah membersihkan sampah pikiran  dan hati&#8230;</p>
<p>Robbisyrohlii shodrii, wa yassirlii amri&#8230;<br />
(Ya  Allah lapangkanlah dadaku, dan permudahlah urusanku)&#8230;</p>
</div>
</div>
number of view: 901]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/efek-kesehatan-dari-pikiran-negatif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berkah Ramadhan, Soal Sepele dengan Pertaruhan Jabatan</title>
		<link>http://www.firman-its.com/berkah-ramadhan-soal-sepele-dengan-pertaruhan-jabatan.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/berkah-ramadhan-soal-sepele-dengan-pertaruhan-jabatan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Sep 2010 02:26:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kampus]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[MotivAksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=786</guid>
		<description><![CDATA[Dahlan Iskan: Soal Sepele dengan Pertaruhan Jabatan Inilah CEO&#8217;s note edisi ke-9 yang untuk menuliskannya tidak perlu mikir. Ini gara-gara e-mail curhat seorang karyawan yang dikirim ke beberapa rekannya pertengahan bulan Ramadan lalu. Salah satu alamat cc e-mail tersebut untuk saya sehingga saya ikut membacanya. E-mail itulah yang kemudian mendapat reaksi luas, bersahut-sahutan, dari karyawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/09/21/berkah-ramadhan-soal-sepele-dengan-pertaruhan-jabatan/rokok-mati.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-787" title="rokok-mati" src="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/09/21/berkah-ramadhan-soal-sepele-dengan-pertaruhan-jabatan/rokok-mati-300x171.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a>Dahlan Iskan: Soal Sepele dengan Pertaruhan Jabatan</p>
<p>Inilah  CEO&#8217;s <em>note</em> edisi ke-9 yang untuk menuliskannya tidak  perlu  mikir. Ini gara-gara <em>e-mail</em> curhat seorang karyawan yang   dikirim ke beberapa rekannya pertengahan bulan Ramadan lalu. Salah satu   alamat <em>cc e-mail</em> tersebut untuk saya sehingga saya ikut   membacanya. <em>E-mail</em> itulah yang kemudian mendapat reaksi luas,   bersahut-sahutan, dari karyawan lainnya.</p>
<p>Saya terus  mengikutinya dengan seksama. <em>E-mail</em> itu lantas  saya teruskan  ke semua direksi PLN. Mereka pun ikut menanggapi. Lalu  lintas <em>e-mail</em> antar karyawan itulah yang menjadi bagian pertama  CEO&#8217;s <em>note</em> kali ini. Sedangkan tanggapan para direktur saya  tempatkan di bagian  berikutnya.</p>
<p>Inilah CEO&#8217;s <em>note</em> dadakan karena  sudah harus terbit pada  akhir Ramadan. Agar berkahnya masih kuat.  Setidaknya, agar momentumnya  masih <em>nyambung</em>. Setidaknya lagi,  agar begitu bulan puasa lewat,  apa yang dimaksudkan dalam CEO&#8217;s <em>note</em> ini langsung bisa  dilaksanakan di semua kantor PLN di seluruh  Indonesia.</p>
<p>Sebenarnya,  sudah banyak pimpinan cabang PLN  yang menerapkan peraturan ini lebih  dulu dari pusatnya, tapi masih  sporadis. Beberapa pimpinan cabang PLN  memang ikut mengeluhkan  pengapnya kantor pusat saat mereka datang ke  Jakarta.</p>
<p>Saya  sendiri, di tempat saya yang lama (<em>Jawa Pos</em>,<em> </em>Red),   pernah mengeluarkan peraturan seperti ini. Jadi, bagi saya tidak ada   masalah. Hasilnya juga sudah terbukti sangat baik. Karena itu, kalau   sekarang saya dituntut karyawan PLN untuk mengeluarkan ketentuan yang   sama, ibaratnya <em>asu rindhik digitik</em>. Seperti orang lapar   tiba-tiba disuruh makan <em>xia fei</em></p>
<p>Bahkan,   ketentuan yang pernah saya buat di tempat saya yang lama itu lebih   keras. Larangan tersebut mula-mula hanya berlaku di ruang kerja. Lalu,   berhasil diperluas ke seluruh gedung. Dua tahun berikutnya lebih keras   lagi: Karyawan yang tidak memedulikan larangan itu tidak boleh memegang   jabatan struktural.</p>
<p>Terakhir, larangan tersebut   berbunyi: Barang siapa masih melakukannya, tunjangan kesehatannya (biaya   pengobatannya) dihapuskan! Untuk apa memberikan tunjangan kesehatan   kalau dia sendiri dengan sengaja mengorbankan kesehatannya!</p>
<p>Kebetulan,    semua direksi saya waktu itu tidak ada yang begitu. Setidaknya, sudah   tidak melakukannya lagi sebelum jadi direktur. Itu sebuah kebetulan  yang  hebat. Sekarang pun, tidak seorang pun direksi PLN yang  melakukannya.  Jadi, pasti, peraturan ini akan bisa ditegakkan dengan  keras.</p>
<p>Saya   perhatikan, di mana-mana, termasuk di  anak-anak perusahaan tempat saya  dulu bekerja, ketentuan seperti ini  sulit dilaksanakan karena satu  alasan: di antara pimpinannya sendiri  ada yang melakukannya. Bahkan,  sebagaimana bisa dibaca dalam kutipan <em>e-mail</em> di bawah nanti, ada  salah seorang direksi PLN yang di tempat lamanya  dulu, di sebuah unit  PLN, kerasnya melebihi saya. Di samping ada juga  yang lucunya sangat <em>mengabunawas</em>.  Yakni, seorang direktur yang  aslinya Surabaya dan memang alumnus ITS.</p>
<p>Maka,   untuk  meneruskan berkah Ramadan itu, ketentuan ini mulai berlaku di PLN  sejak  hari pertama masuk kerja pasca-Lebaran. SK direksinya sudah   diterbitkan awal September lalu. Sebetulnya saya malu. Mengeluarkan   ketentuan begini saja <em>kok</em> menghabiskan masa jabatan hampir   delapan bulan. Kesannya seperti pimpinan yang tidak tegas.</p>
<p>Perusahaan-perusahaan    maju di seluruh dunia sudah lama menerapkannya. Kalau tidak segera   dibuat, kesannya, di bidang ini pun PLN ketinggalan jauh. Untung ada <em>e-mail</em> berikut ini. Bisa menjadi pemicu awal ketentuan baru ini:</p>
<p>***<em>Bulan   Ramadhan memang bulan penuh rahmat. Hikmah Ramadhan kali ini  tak  hanya membekaskan hikmah-hikmah spiritual, tapi juga yang lain.  Setelah  beberapa hari memasuki Ramadhan aku merasakan kelapangan  tersendiri  memasuki ruang kerja.</em></p>
<p><em>Ya, dada ini begitu lapang,  lega, dan nyamaaaannn.</em></p>
<p><em>Tidak seperti hari-hari  sebelum Ramadhan.</em></p>
<p><em>Semenjak kepindahanku ke PLN  Pusat ini lima bulan yg lalu, dada  begitu sesaknya. Bahkan sudah  semenjak pagi buta, saat baru keluar dari  pintu lift sekali pun.</em></p>
<p><em>Bahkan  terkadang aku malu saat punya tamu, dan mereka melihat  kantor PLN-ku  yang megah dan ber-AC tapi penuh dengan asap rokok.</em></p>
<p><em>Ya,  di hari kelimabelas Ramadhan hikmah besar ini aku rasakan.  Hilanglah  sudah bekas-bekas asap rokok. Rupanya perlu 15 hari tersendiri  untuk  menghilangkan sisa-sisa asap rokok itu. </em></p>
<p><em>Dada  menjadi begitu lapaaaang. Beraktivitas pun menjadi lebih  bersemangat.  Terasa sebuah kebersamaan hakiki: bekerja sehat adalah  milik bersama.</em></p>
<p><em>Alhamdulillah.</em></p>
<p><em>Lalu.</em></p>
<p><em>Adakah  ini bisa berlanjut sesudah Ramadhan? Selamanya? Adakah  bekerja sehat  ini akan berhasil kembali menjadi milik kita?</em></p>
<p><em>Aku  enggak tahu, apakah hanya aku yang enggak tahan dengan asap  itu?</em></p>
<p><em>Aku  engga tahu, apakah aku yang terlalu menuntut hakku agar udara  kamar  kerjaku bersih? Aku enggak tahu, apakah merokok di ruang AC memang   sudah dibenarkan? (sesuatu yg tidak aku dapati di unit-unit yang telah   kulalui).</em></p>
<p><em>Aku juga enggak tahu, apakah &#8216;hanya&#8217;  untuk bekerja sehat diperlukan  SK DIREKSI?</em></p>
<p><em>Hehehe. </em></p>
<p>(Supriyadi M.S., risk infrastructure, divisi  manajemen risiko)</p>
<p><strong> <em> ***</em> </strong></p>
<p><em>Kang  Supri, banyak orang menonjolkan ego dan urat sarafnya, hanya  karena  sebatang rokok. Kalau diingatkan bahwa merokok itu mengganggu   kesehatan&#8230; banyak yang menjawab yang tidak merokok pun banyak yang   mati duluan. Astaghfirullah. </em></p>
<p><em>Kalau orang luar  negeri datang ke kantor kita,  mereka merokoknya keluar gedung. Atau ke  ruang khusus tempat merokok.  Yakni saat rapat break 10-15 menit&#8230;  kemudian balik dan lanjut kerja.  PLN sudah lama punya buku COC (code of  conduct</em>,<em> </em>Red<em>) dan  sudah naik cetak edisi yang baru.  Tapi kayaknya hanya akan menjadi  etalase berikutnya kalau tidak  diimplementasikan. </em></p>
<p><em>Hanya  waktu yang akan  menjawab&#8230; apakah PLN bangkit&#8230; atau sebaliknya. Ini  hampir terjadi  di seluruh PLN. Lebih gawat lagi mereka juga masih  merokok di kamar  kecil alias WC. Maaf ini hanya mengungkapkan  ketidakberdayaan saya  melihat kondisi ini. Semoga masih ada waktu untuk  menikmati hari-hari  kerja TANPA ASAP ROKOK di luar bulan Ramadhan. (Tri  Prantoro</em>,<em> perencanaan korporat PT PLN).</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Kok  sama ya. Ini juga kegelisahan saya. Saya pernah masuk ke salah  satu  ruang Kadiv (kepala divisi). Uh! Bau asap rokok. Yang juga berat   adalah: banyaknya puntung rokok di sekitar kita. Saya sudah minta bagian   umum untuk mengadakan pos penerimaan puntung rokok setelah Lebaran   nanti. Dengan imbalan Rp 1.000/puntung. </em></p>
<p><em>Kalau  memang aspirasi untuk sehat dari para karyawan sedemikian  kuatnya, ok.  Go! Kita tingkatkan upaya melarang merokok di ruang kerja  ini. Yang  masih melakukannya kita minta memilih: pilih tetap merokok di  ruang  kerja atau meninggalkan jabatannya! Setelah Lebaran mulai kita   berlakukan. </em></p>
<p><em>(Dahlan Iskan).</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Luar biasa&#8230; Dirut seperti ini yang kita   harapkan&#8230; yang mampu menyehatkan karyawannya. Kegelisahan kawan-kawan   semua ini sebenarnya juga dirasakan oleh sebagian besar kaum perempuan.   Hanya, umumnya tidak mau protes. Tapi, dari beberapa kali saya   komunikasi dengan pegawai/</em>outsourcing<em> wanita di PLN, sebenarnya   mereka juga keberatan. Hanya tidak mau ribut saja. Pilih diam.</em></p>
<p><em>Sebenarnya  sudah ada peraturan tentang hal ini yang bisa dijadikan  pedoman  termasuk sanksi-sanksinya. Hanya, masalahnya apakah pimpinan  kita  secara kolektif mau menjalankan apa tidak. Sudah terlalu banyak  aturan  di negeri ini&#8230; tapi yang kita harapkan sebenarnya pada tataran   pelaksanaannya.</em></p>
<p><em>Kalau kita perhatikan Perda dan  Pergub DKI, yang punya kewajiban  menegakkannya bukan hanya perokok,  tapi juga pimpinan perusahaan dan  pegawai secara umum. Pasal-pasal  dalam perda tersebut tidak dimuat di  sini. Intinya, perokok di dalam  ruangan kerja bisa dimasukkan penjara.  (Endro Yulianto).</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>From: Manu Sukendro</em></p>
<p><em>Jika  seorang tukang ojek merokok sehari 1 bungkus, maka sebulan  telah  membakar tembakau Rp 300.000. Setahun Rp 3.600.000. Dalam 10 tahun  Rp  36.000.000. Padahal, jika uang sebesar Rp 10.000 dishadaqahkan,  Allah  menggantinya sebesar 10x, atau sebesar 700x, atau tak terhingga   tergantung keridhaan-Nya. Tergantung tingkat keimanan dan ketaqwaan   seseorang.</em></p>
<p><em>Katakan balasan dari Allah sebesar  700x, seorang tukang ojek yang  mau bershadaqah setiap hari (hadist  shahih mengatakan bershadaqah wajib  setiap hari), maka Allah akan  memberikan ganjarannya per hari Rp 10.000 x  700 = Rp 7.000.000, sebulan  Rp 210.000.000, setahun Rp 2.520.000.000,  atau 10 tahun Rp  25.200.000.000.000. </em></p>
<p><em>Balasan rizki dari Allah  bisa berupa harta yang mendatangkan  keberkahan, istri, anak-anak yang  saleh dan saleha, shadaqah dapat  memadamkan panas kubur, shadaqah dapat  menjadi naungan di Padang Mashar,  dll. (Muh. Manu S.).</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Terima kasih pencerahannya. Mari kita  sama-sama menyesuaikan diri  dengan aturan yang ada, dengan niat ibadah.  (Iskandar, divisi  perbendaharaan).</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Aku  pernah ikut seminar di Gedung Serbaguna di Pusdiklat PLN di  Ragunan, a  few years ago. Tiba-tiba Pak Nur Pamudji (sekarang menjabat  direktur  energi primer PLN) dengan gagahnya mengambil mic dan berkata:  &#8221;Karena  ruangan seminar ini ber-AC, mohon peserta seminar yang merokok  di  ruangan ini diminta keluar oleh panitia&#8221; (demikian kira2 kalimat yg   saya ingat). Bahkan, ada yg cerita ke saya bahwa beliau mencabut rokok   dari mulut seseorang yg sedang merokok di dalam ruangan Jawa Bali   Control Center di Gandul. (Helmi Najamuddin).</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Pak Eddy (direktur SDM), setelah saya  mengamati aspirasi karyawan  yang beredar di e-mail mereka, saya ikut  menanggapi: Lain kali ruang  Kadiv jangan diberi pintu, agar mereka  jangan menutup pintu dengan  alasan untuk merokok! Dalam e-mail itu saya  kemukakan bahwa siapa yang  merokok di ruang kerja akan kita suruh  memilih: merokok atau berhenti  dari jabatan/status karyawan. Mohon  disiapkan SK, dengan sanksi yang  benar-benar kita tegakkan (saya  sendiri bersedia jadi polisi). (Dahlan  Iskan).</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Besok saya akan mulai menyiapkan aturan   tersebut lengkap dengan sanksi disiplinnya, begitu pula prosedur   pengendalian &amp; penegakan GCG (termasuk pembuatan/pengelolaan situs </em>whistle   blower<em>). (Eddy Erningpramaja, direktur SDM)</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Aku sedih&#8230; manakala ingatanku kembali pada  dua orang  bulik/tanteku, orang2 yang aku dekat dengan mereka&#8230; Mereka  sakit,  mereka berbulan-bulan batuk, mereka sesak napas, menderita&#8230;  Mereka  terkena kanker paru2, dan akhirnya mereka tidak kuat&#8230;</em></p>
<p><em>Mereka  bukan perokok, mereka setiap hari&#8230; dipaksa menghirup asap  rokok.  Orang bilang&#8230; mereka perokok pasif. Bulikku yang satu terpaksa  kerja  di satu ruangan&#8230; di kantornya&#8230; yang isinya orang-orang  yang&#8230;.  semuanya perokok.</em></p>
<p><em>Bulikku yang satunya lagi,  suaminya perokok berat. Dia habiskan  waktunya&#8230; bercengkerama, makan,  tidur dengan suaminya yang tidak  pernah lepas dari rokok&#8230; Aku  pikir&#8230;. mereka ini, bulik-bulikku,  sejatinya para korban orang-orang  yang kurang peduli&#8230;</em></p>
<p><em>Duh Gusti&#8230; ampunilah  dosa2 bulik-bulikku itu&#8230; Juga, limpahkan  kasih-MU bagi yang lain,  yang tidak berdaya, para korban perokok. Duh  Gusti&#8230; berilah petunjuk  kepada orang-orang yang kurang peduli itu&#8230;</em></p>
<p><em>Duh  Gusti&#8230; terima kasih dan puji syukur&#8230; aku haturkan.  Nyatanya&#8230;  Engkau telah berikan kekuatan padaku dan kawan2ku untuk  jadikan bilik,  lorong, selasar, dan ruang-ruang majelis tempatku  bekerja&#8230; terbebas  dari kurang peduli. (Murtaqi Syamsuddin, direktur  bisnis dan manajemen  risiko)</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Saya sudah  merokok sejak kelas 5 SD. Maklum anak kolong. Puncaknya  waktu tugas di  Aceh Tengah selama 4 tahun, 96-99. Maklum udara sangat  dingin dan tiap  hari stres krn GAM. Bisa 3 bungkus sehari! Kretek lagi.  Saya 3x usaha  berhenti. Kali pertama dan kedua berhenti dgn niat krn  batuk dan nggak  enak badan&#8230; gagal total karena 6 bulan kemudian krn  badan mantap  terus merokok lagi. </em></p>
<p><em>Kali ketiga berhenti tahun  2005. Alasan? Nggak ada. Berhenti saja.  Sukses sampai hari ini. Supaya  terus sukses saya mendukung 100% larangan  merokok. Nggak usah bikin  ruangan khusus merokok atau apa pun. Nggak  ada gunanya. Di bandara  gagal! Nggak usah pake alasan kesehatan atau  ditakut-takuti pake gambar  tengkorak segala, percuma! Pokoknya tidak  boleh saja. (Nasri Sebayang,  direktur perencanaan dan teknologi)</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Waktu  saya Kabag Operasi di Control Center Gandul tahun 2000, saya   berlakukan larangan merokok di Gedung Operasi Gandul. Alasannya:   &#8221;Bahaya Kebakaran&#8221; (habis gimana, pangkat cuma kepala bagian, di atas   masih ada kepala dinas dan kepala divisi di gedung yang sama, jadi  musti  cari alasan yang kuat). </em></p>
<p><em>Alasan yang  sebenarnya adalah saya tidak mau jadi perokok pasif  seperti buliknya  Pak Murtaqi. Sebab, di Gandul, asap rokok beredar  melalui saluran AC  sentral. Larangan ini mendapat dukungan luas, sampai  kepala divisi pun  (Pak Gultom) yang berkantor di gedung itu nggak berani  melanggar (Pak  Gultom alumnus Inggris, jadi paham benar soal sopan  santun merokok).  Mereka yang melanggar, saya cabut rokoknya dari  mulutnya, nggak peduli  atasan atau bawahan (saya dulu dijuluki  &#8221;Madura&#8221; karena galak banget  soal rokok ini). </em></p>
<p><em>Tahun 2005, GM P3B JB (Muljo  Adji)  mengeluarkan larangan merokok di semua gedung P3B JB dan masih  berlaku  sampai sekarang. Kalau Dirut mengeluarkan larangan merokok itu,  dukungan  akan datang dari 99,999% pegawai PLN. Karena sesungguhnya  yang merokok  ini sedikit sekali, tapi mereka mendominasi, seolah-olah  itu kebebasan  mereka. </em>Next turn<em>, larangan merokok harus masuk  surat pernyataan  ketika rekruitmen dan perjanjian kerja bersama. Setuju  dengan Pak Nasri,  nggak usah dibuatkan tempat merokok. Pokoknya  DILARANG. Titik. (Nur  Pamudji)</em></p>
<p><em> ***</em></p>
<p><em>Wah&#8230;  aku setuju 1000%. Bagiku, mending bau kentut daripada bau  rokok.  Kentut gak jelas pelakunya dan gak bisa dilarang&#8230; Kalo perokok,   pelakunya jelas&#8230; Larang aja! (Bagiyo, direktur pengadaan strategis).</em></p>
<p>***</p>
<p>Bismillah!  Ramadan kali ini kita kenang sebagai  bulan pemicu larangan merokok di  ruang kerja di seluruh PLN!</p>
<p>Mohon maaf lahir batin. <strong>(*)</strong></p>
<p><em>Dahlan  Iskan, CEO PLN</em>﻿</p>
<p>Sumber  JP.</p>
<p>[ Senin, 20  September 2010 ]</p>
number of view: 2401]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/berkah-ramadhan-soal-sepele-dengan-pertaruhan-jabatan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FA &amp; Keluarga &#8220;facefitri&#8221;</title>
		<link>http://www.firman-its.com/fa-keluarga-facefitri.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/fa-keluarga-facefitri.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Sep 2010 23:42:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=774</guid>
		<description><![CDATA[Kata telah terucap, tangan telah tergerak, prasangka telah terungkap Tiada kata, Kecuali “saling memaafkan” jalin ukhuwah &#38; kasih sayang Tuk raih indahnya kemenangan hakiki, kembali fitri. Taqabbalallahu minna waminkum Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1431 H Mohon Maaf Lahir Bathin fao 2 facefitri number of view: 769]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/09/08/fa-keluarga-facefitri/fao-facefitri-1431h.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-775" title="fao-facefitri-1431h" src="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/09/08/fa-keluarga-facefitri/fao-facefitri-1431h.jpg" alt="" width="560" height="354" /></a>Kata telah terucap, tangan telah tergerak, prasangka telah terungkap<br />
Tiada kata, Kecuali “saling memaafkan” jalin ukhuwah &amp; kasih sayang<br />
Tuk raih indahnya kemenangan hakiki, kembali fitri.</p>
<p>Taqabbalallahu minna waminkum</p>
<p>Selamat Hari Raya Iedul Fitri 1431 H</p>
<p>Mohon Maaf Lahir Bathin</p>
<p>fao 2 facefitri</p>
number of view: 769]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/fa-keluarga-facefitri.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cermin Kedermawanan Abu Bakar Ashidiq &#8211; Pendidikan karakter dari KETELADANAN Pemimpin</title>
		<link>http://www.firman-its.com/cermin-kedermawanan-abu-bakar-ashidiq-pendidikan-karakter-dari-keteladanan-pemimpin.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/cermin-kedermawanan-abu-bakar-ashidiq-pendidikan-karakter-dari-keteladanan-pemimpin.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Sep 2010 05:47:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrepreneurship]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[MotivAksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=771</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Prof Nanat Fatah Nasir Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. &#8220;Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?&#8221; tanya Umar. &#8220;Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar,&#8221; jawab sang khalifah. Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, &#8220;Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Prof Nanat Fatah Nasir</p>
<p>Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. &#8220;Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?&#8221; tanya Umar. &#8220;Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar,&#8221; jawab sang khalifah.</p>
<p>Umar kaget mendengar jawaban itu, lalu berkata, &#8220;Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan.&#8221; Abu Bakar lalu bertanya, &#8220;Jika tak berdagang, bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?&#8221; Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.</p>
<p>Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta uang untuk membeli manisan.</p>
<p>&#8220;Wahai istriku, aku tak punya uang,&#8221; kata Abu Bakar. Istrinya lalu mengusulkan untuk menyisihkan uang gaji dari baitul mal untuk membeli manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.</p>
<p>Setelah beberapa lama, uang untuk membeli manisan pun terkumpul.</p>
<p>&#8220;Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini uangnya,&#8221; ungkap sang istri memohon. Betapa kagetnya Abu Bakar melihat uang yang disisihkan istrinya untuk membeli manisan. &#8220;Wahai istriku, uang ini ternyata cukup banyak. Aku akan serahkan uang ini ke baitul mal, dan mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji melebihi kecukupan sehari-hari,&#8221; tutur Abu Bakar.</p>
<p>Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah.</p>
<p>&#8220;Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan,&#8221; ujarnya berwasiat.</p>
<p>Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada khalifah penggantinya. &#8220;Itu sebagai pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal,&#8221; kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun berkata, &#8220;Semoga Allah SWT merahmati ayahmu.&#8221;</p>
<p>Kisah yang tertulis kitab fadhailul &#8216;amal itu sarat akan makna dan pesan. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat mengambil pelajaran dari sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus terhadap harta kekayaan. Meski ia adalah seorang khalifah, namun tetap memilih hidup sederhana demi menjaga amanah.</p>
<p>Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati yang perlu ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku pemimpin, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Terlebih, bangsa Indonesia memiliki karakteristik masyarakat yang paternalistik yang rakyatnya berorientasi ke atas.</p>
<p>Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku yang baik maupun yang buruk. Dengan spirit Ramadhan, maka hendaknya para pemimpin memberi teladan untuk hidup secara wajar agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Wallahu &#8216;alam.</p>
number of view: 1153]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/cermin-kedermawanan-abu-bakar-ashidiq-pendidikan-karakter-dari-keteladanan-pemimpin.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arti Besar 20 Sen, Sharing untuk sahabat</title>
		<link>http://www.firman-its.com/arti-besar-20-sen-sharring-utk-sahabat.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/arti-besar-20-sen-sharring-utk-sahabat.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Aug 2010 14:15:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[MotivAksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=762</guid>
		<description><![CDATA[Diangkat dari sebuah tabloid Islam di London, Inggris. Seorang imam masjid di London, setiap hari pergi pulang dari rumahnya ke masjid dengan mengendarai bus umum. Ongkos bus tersebut dibayar pakai kartu (card), atau langsung ke sopir karena bus tidak memiliki kondektur. Setelah bayar, baru kemudian cari tempat duduk kosong. Sang imampun bayar ongkos pada sopir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/08/25/arti-besar-20-sen-sharring-utk-sahabat/Kejujuran-Berbisnis.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-763" title="Kejujuran-Berbisnis" src="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/08/25/arti-besar-20-sen-sharring-utk-sahabat/Kejujuran-Berbisnis-300x183.jpg" alt="" width="300" height="183" /></a>Diangkat dari sebuah tabloid Islam  di London, Inggris.</p>
<p>Seorang imam masjid di London, setiap hari pergi pulang dari rumahnya ke  masjid dengan mengendarai bus umum. Ongkos bus tersebut dibayar pakai  kartu (card), atau langsung ke sopir karena bus tidak memiliki  kondektur. Setelah bayar, baru kemudian cari tempat duduk kosong.</p>
<p>Sang imampun bayar ongkos pada sopir lalu menerima kembalian, sebab hari  itu ia tidak punya uang pas&#8230; baru kemudian duduk di bangku belakang  yg kosong.</p>
<p>Di tempat duduknya dia menghitung uang kembalian dari sopir yg ternyata  lebih 20 sen. Sejenak iapun terpikir.. uang ini dikembalikan atau tidak  yah..? Ah cuma 20 sen ini&#8230; ah dia (sopir) orang kafir ini&#8230; atau aku  masukin saja ke kotak amal di masjid&#8230;??</p>
<p>Setelah sampai di tempat tujuan, ia pun hendak turun bus dengan berjalan  melewati sopir bus tersebut. Dalam hatinya masih bergejolak atas uang  20 sen itu, antara dikembalikan atau tidak. Namun ketika sampai di dekat  sopir, spontan iapun mengulurkan 20 sen sambil berkata: &#8220;Uang  kembaliannya berlebih 20 sen&#8221;.</p>
<p>Tanpa disangka tanpa dinyana.. sopir itu mengacungkan jempol seraya  berkata: &#8220;Anda berhasil..!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksud anda..?&#8221; Tanya imam masjid.</p>
<p>&#8220;Bukankah anda imam masjid yang di sana tadi?&#8221; Tanya sopir.</p>
<p>&#8220;Betul&#8221; jawabnya</p>
<p>Lantas sopir itu berkata&#8230;</p>
<p>&#8220;Sebenarnya sejak beberapa hari ini saya ingin datang ke masjid anda  untuk belajar dan memeluk Islam.. tapi timbul keinginan di hati saya  untuk menguji anda sebagai imam masjid, apa benar Islam itu seperti yang  saya dengar: jujur, amanah dan sebagainya. Saya sengaja memberikan  kembalian berlebih dan anda berhasil. Saya akan masuk Islam&#8221;. Kata sopir  tersebut..</p>
<p>Alangkah tercengangnya imam masjid tersebut, sambil beristighfar  meyesali apa yg dipikirkannya tadi. Hampir saja ia kehilangan  kepercayaan hanya dengan uang 20 sen itu. Astaghfirullah&#8230;</p>
<p>Semoga jadi pelajaran buat kita untuk sentiasa bersikap sebagai seorang  muslim sejati di mana saja, kapan saja</p>
number of view: 1060]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/arti-besar-20-sen-sharring-utk-sahabat.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dengan Kejujuran Membawa SDIT AL Uswah Jadi Terbaik Se Surabaya</title>
		<link>http://www.firman-its.com/dengan-kejujuran-membawa-sdit-al-uswah-jadi-terbaik-se-surabaya.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/dengan-kejujuran-membawa-sdit-al-uswah-jadi-terbaik-se-surabaya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 02:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[MotivAksi]]></category>
		<category><![CDATA[Sosial-Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=743</guid>
		<description><![CDATA[Pengirim: Firman Arifin &#8211; detikSurabaya Surabaya &#8211; Sering kali kita dibuat takjub dengan nilai ujian nasional yang sempurna diraih anak orang lain. Sebaliknya, kita kurang bersyukur atas prestasi anak kita sendiri karena tidak mendapatkan nilai terbaik. Terlepas dari parameter kejujuran selama mereka mengerjakan ujian, seringkali keluar kesimpulan bahwa parameter anak yang paling sukses itu jika [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/06/22/dengan-kejujuran-membawa-sdit-al-uswah-jadi-terbaik-se-surabaya/al-uswah.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-744" title="al uswah" src="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/06/22/dengan-kejujuran-membawa-sdit-al-uswah-jadi-terbaik-se-surabaya/al-uswah.jpg" alt="" width="114" height="114" /></a>Pengirim: Firman Arifin &#8211; detikSurabaya</p>
<p>Surabaya &#8211; Sering kali kita dibuat takjub dengan nilai ujian nasional yang sempurna diraih anak orang lain. Sebaliknya, kita kurang bersyukur atas prestasi anak kita sendiri karena tidak mendapatkan nilai terbaik.</p>
<p>Terlepas dari parameter kejujuran selama mereka mengerjakan ujian, seringkali keluar kesimpulan bahwa parameter anak yang paling sukses itu jika berada pada peringkat pertama.</p>
<p>Standar kesuksesan seperti ini telah menghipnotis sebagian pihak sehingga boleh menghalalkan berbagai cara. Dengan dalih menjaga reputasi sekolah bisa-bisa mengalahkan prinsip kejujuran yang selama ini ditanamkan kepada mereka.</p>
<p>Dari kondisi tersebut, SDIT AL Uswah untuk tahun ketiga ini membuktikan kepada masyarakat Surabaya, bahwa prestasi akademik dengan berbekal pendidikan karakter bukan hanya sekedar jargon atau sekedar visi tanpa arti. Tapi sudah dalam tataran implementasi dan buahnya sudah bisa dilihat dan dinikmati.<span id="more-743"></span></p>
<p>Bukti dari buah pendidikan karakter yang ditekankan di tingkat SD ini adalah tentang kejujuran, SDIT AL Uswah menempati peringkat pertama terbaik UASBN 2010 untuk kategori SD swasta Se- Surabaya. SDIT AL Uswah bisa mengalahkan SD swasta sekelas Al-Hikmah, Al-Falah dan Hidayatullah. Bahkan juara-juara sebelumnya seperti SD PETRA dan SD yang ngetop lainnya bisa dikalahkan oleh SDIT AL Uswah.</p>
<p>Ada pengalaman menarik dari para pengawas UASBN yang kebetulan mendapat tugas menjaga anak-anak SDIT AL Uswah. Bapak-ibu guru dari lintas sekolah itu tertegun melihat anak-anak SDIT AL Uswah tidak ada yang gelisah, tolah-toleh atau bahkan mencontek. Semua konsentrasi di kertas soal dan jawabannya sendiri.</p>
<p>Bahkan ada salah satu guru dari sekolah lain tersebut melihat ada siswa yang tidak<br />
bisa mengerjakan salah satu soal, guru ini memberi jawaban kepada si anak. Tapi apa yang dilakukan si anak ini? Ternyata anak tersebut tidak mau menerima jawaban dari guru pengawas tersebut. Setelah ujian selesai dengan penasaran guru pengawas bertaya kepada anak tersebut.</p>
<p>&#8220;Kenapa tadi tidak mau menerima jawaban dari saya? Dengan polosnya, anak tadi menjawab: &#8220;Apa jaminannya jawaban tadi benar?&#8221;</p>
<p>Kepala Bidang Sumber Daya Manusia di Yayasan Ukhuwah Islamiyah sebagai induk dari SDIT Al_Uswah, Alfie Niamah Febriana SSi menjelaskan bahwa pendidikan karakter itu lebih penting daripada sekedar transfer ilmu.</p>
<p>&#8220;Dalam sebuah proses pendidikan, bukan sekedar transformasi ilmu yang diharapkan, tetapi lebih jauh adalah perubahan perilaku yang semakin baik juga menjadi tujuan besar dari proses tersebut,&#8221; katan Alfie.</p>
<p>Selain itu bukan semata nilai akademis yang diukir dari tiap mata pelajaran, namun senandung doa harian yang keluar dari lisan ananda sebelum memulai setiap aktivitasnya. &#8220;Atau lantunan surat pendek yang dilafalkan dengan jelas dan benar, ini jauh lebih berarti dibanding nilai yang tertera dalam angka,&#8221; jelas ibu dua anak.</p>
<p>Tentang pendidikan karakter ini dikuatkan Kepala SDIT Al Uswah, Moch Edris Effendi ST. &#8220;Sudah saatnya kita memandang ujian sebagai suatu yang positif. Dengan ujian itu bisa mengukur kemampuan terbaik anak-anak kita. Maka berusahalah semaksimal mungkin untuk menghadapinya. Kerjakan berbagai bentuk ujian itu dengan kemampuan sendiri,&#8221; tambah Moch Edris.</p>
<p>Edris menambahkan, sebaik-baik hasil ujian, jika 100 persen buah pemikiran sendiri, maka hasil itu yang akan mendatangkan keberkahan dari Allah. &#8220;Sebaliknya, jika kita dapat nilai sempurna tapi dengan kecurangan, maka tidak<br />
ada nilainya di sisi Allah,&#8221; katanya</p>
<p>&#8220;Bagi para guru dan orang tua, berusahalah untuk selalu menghargai prestasi<br />
anak-anaknya. Meskipun hasilnya belum sesuai harapan, tapi itu hasil jerih payah<br />
mereka sendiri,&#8221; ujar alumni ITS ini.</p>
<p>(fat/fat)</p>
<p>http://surabaya.detik.com/read/2010/06/22/090137/1383394/468/dengan-kejujuran-membawa-sdit-al-uswah-jadi-terbaik-se-surabaya</p>
number of view: 1491]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/dengan-kejujuran-membawa-sdit-al-uswah-jadi-terbaik-se-surabaya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penyesalan Tiada di Awal, Suamiku Kini Telah Tiada</title>
		<link>http://www.firman-its.com/penyesalan-tiada-di-awal-suamiku-kini-telah-tiada.html</link>
		<comments>http://www.firman-its.com/penyesalan-tiada-di-awal-suamiku-kini-telah-tiada.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 07:57:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.firman-its.com/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini kisah yang nyata, setiap orang akan terharu setelah membacanya ini. Kisah ini didapatkan dari sebuah notes di facebook bernama Rina Amalina semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua terutama bagi kaum hawa yg sudah berkeluarga. Suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada Ini adalah kisah nyata di kehidupanku Seorang suami yg [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/04/03/penyesalan-tiada-di-awal-suamiku-kini-telah-tiada/suami-istri.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-653" title="suami-istri" src="http://www.firman-its.com/wp-content/uploads/2010/04/03/penyesalan-tiada-di-awal-suamiku-kini-telah-tiada/suami-istri.jpg" alt="" width="440" height="289" /></a>Kisah ini kisah yang nyata, setiap orang akan terharu setelah membacanya ini. Kisah ini didapatkan dari sebuah notes di facebook bernama Rina Amalina semoga dapat menjadi pelajaran bagi kita semua terutama bagi kaum hawa yg sudah berkeluarga.</p>
<p>Suamiku kini tlah tiada dan penyesalanku yg terus ada</p>
<p>Ini adalah kisah nyata di kehidupanku<br />
Seorang suami yg kucintai yang kini telah tiada<br />
Begitu besar pengorbanan seorang suamiku pada keluargaku<br />
Begitu tulus kasih sayangnya untukku dan anakku<br />
Suamiku adalah seorang pekerja keras. Dia membangun segala yang ada di keluarga ini dari nol besar hingga menjadi seperti saat ini. Sesuatu yang kami rasa sudah lebih dari cukup.</p>
<p>Aku merasa sangat berdosa ketika teringat suamiku pulang bekerja dan aku menyambutnya dengan amarah,tak kuberikan secangkir teh hangat melainkan kuberikan segenggam luapan amarah.<br />
Selalu kukatakan pada dia bahwa dia tak peduli padaku,tak mengerti aku,dan selalu saja sibuk dengan pekerjaannya.<br />
Tapi kini aku tahu.<br />
Semua ucapanku selama ini salah.dan hanya menjadi penyesalanku karena dia telah tiada.<br />
Temannya mengatakan padaku sepeninggal kepergiannya.<br />
Bahwa dia selalu membanggakan aku dan anakku di depan rekan kerjanya.<br />
Dia berkata, “ setiap kali kami ajak dia makan siang,mas anwar jarang sekali ikut kalau tidak penting sekali,alasannya slalu tak jelas. Dan lain waktu aku sempat menanyakan kenapa dia jarang sekali mau makan siang, dia menjawab, “ aku belum melihat istriku makan siang dan aku belum melihat anakku minum susu dengan riang.lalu bagaimana aku bisa makan siang.” Saat itu tertegun,aku salut pada suamimu. Dia sosok yang sangat sayang pada keluarganya. Suamimu bukan saja orang yang sangat sayang pada keluarga,tapi suamimu adalah sosok pemimpin yang hebat. Selalu mampu memberikan solusi-solusi jitu pada perusahaan.”<br />
Aku menahan air mataku karena aku tak ingin menangis di depan rekan kerja suamiku. Aku sedih karena saat ini aku sudah kehilangan sosok yang hebat.</p>
<p>Teringat akan amarahku pada suamiku,aku selalu mengatakan dia slalu menyibukkan diri pada pekerjaan,dia tak pernah peduli pada anak kita. Namun itu semua salah. Sepeninggal suamiku. Aku menemukan dokumen2 pekerjaannya. Dan aku tak kuasa menahan tangis membaca di tiap lembar di sebuah buku catatan kecil di tumpukan dokumen itu, yang salah satunya berbunyi, “ perusahaan kecil CV.Anwar Sejahtera di bangun atas keringat yang tak pernah kurasa. Kuharap nanti bukan lagi CV.Anwar Sejahtera, melainkan akan di teruskan oleh putra kesayanganku dengan nama PT. Syahril Anwar Sejahtera. Maaf nak, ayah tidak bisa memberikanmu sebuah kasih sayang berupa belaian. Tapi cukuplah ibumu yang memberikan kelembutan kasih sayang secara langsung. Ayah ingin lakukan seperti ibumu. Tapi kamu adalah laki-laki. Kamu harus kuat. Dan kamu harus menjadi laki-laki hebat. Dan ayah rasa,kasih sayang yang lebih tepat ayah berikan adalah kasih sayang berupa ilmu dan pelajaran. Maaf ayah agak keras padamu nak. Tapi kamulah laki-laki. Sosok yang akan menjadi pemimpin,sosok yang harus kuat menahan terpaan angin dari manapun. Dan ayah yakin kamu dapat menjadi seperti itu.”<br />
Membaca itu,benar2 baru kusadari.betapa suamiku menyayangi putraku.betapa dia mempersiapkan masa depan putraku sedari dini. Betapa dia memikirkan jalan untuk kebaikan anak kita.</p>
<p>Setiap suamiku pulang kerja. Dia selalu mengatakan, “ ibu capai?istirahat dulu saja”<br />
Dengan kasar kukatakan, “ ya jelas aku capai,semua pekerjaan rumah aku kerjakan. Urus anak,urus cucian,masak,ayah tahunya ya pulang datang bersih.titik.”<br />
Sungguh,bagaimana perasaan suamiku saat itu. Tapi dia hanya diam saja. Sembari tersenyum dan pergi ke dapur membuat teh atau kopi hangat sendiri. Padahal kusadari. Beban dia sebagai kepala rumah tangga jauh lebih berat di banding aku. Pekerjaannya jika salah pasti sering di maki-maki pelanggan. Tidak kenal panas ataupun hujan dia jalani pekerjaannya dengan penuh ikhlas.</p>
<p>Suamiku meninggalkanku setelah terkena serangan jantung di ruang kerjanya.tepat setelah aku menelponnya dan memaki-makinya. Sungguh aku berdosa. Selama hidupnya tak pernah aku tahu bahwa dia mengidap penyakit jantung. Hanya setelah sepeninggalnya aku tahu dari pegawainya yang sering mengantarnya ke klinik spesialis jantung yang murah di kota kami. Pegawai tersebut bercerita kepadaku bahwa sempat dia menanyakan pada suamiku.<br />
“pak kenapa cari klinik yang termurah?saya rasa bapak bisa berobat di tempat yg lebih mahal dan lebih memiliki pelayanan yang baik dan standar pengobatan yang lebih baik pula”<br />
Dan suamiku menjawab, “ tak usahlah terlalu mahal. Aku cukup saja aku ingin tahu seberapa lama aku dapat bertahan. Tidak lebih. Dan aku tak mau memotong tabungan untuk hari depan anakku dan keluargaku. Aku tak ingin gara-gara jantungku yang rusak ini mereka menjadi kesusahan. Dan jangan sampai istriku tahu aku mengidap penyakit jantung. Aku takut istriku menyayangiku karena iba. Aku ingin rasa sayang yang tulus dan ikhlas.”<br />
Tuhan..Maafkan hamba Tuhan,hamba tak mampu menjadi istri yang baik. Hamba tak sempat memberikan rasa sayang yang pantas untuk suami hamba yang dengan tulus menyayangi keluarga ini. Aku malu pada diriku. Hanya tangis dan penyesalan yang kini ada.</p>
<p>Saya menulis ini sebagai renungan kita bersama. Agar kesalahan yang saya lakukan tidak di lakukan oleh wanita-wanita yang lain. Karena penyesalan yang datang di akhir tak berguna apa-apa. Hanyalah penyesalan dan tak merubah apa-apa.<br />
Banggalah pada suamimu yang senantiasa meneteskan keringatnya hingga lupa membasuhnya dan mengering tanpa dia sadari.<br />
Banggalah pada suamimu,karena ucapan itu adalah pemberian yang paling mudah dan paling indah jika suamimu mendengarnya.<br />
Sambut kepulangannya di rumah dengan senyum dan sapaan hangat. Kecup keningnya agar dia merasakan ketenangan setelah menahan beban berat di luar sana.<br />
Sambutlah dengan penuh rasa tulus ikhlas untuk menyayangi suamimu.<br />
Selagi dia kembali dalam keadaan dapat membuka mata lebar-lebar.<br />
Dan bukan kembali sembari memejamkan mata tuk selamanya.</p>
<p>Teruntuk suamiku.<br />
Maafkan aku sayang.<br />
Terlambat sudah kata ini ku ucapkan.<br />
Aku janji pada diriku sendiri teruntukmu.<br />
Putramu ini akan kubesarkan seperti caramu.<br />
Putra kita ini akan menjadi sosok yang sepertimu.<br />
Aku bangga padamu,aku sayang padamu.</p>
<p>Istrimu<br />
Rina</p>
<p>Silahkan berbagi tulisan ini kepada saudara,teman,kerabat anda. Saya berharap pengalaman yg saya miliki dapat menjadi pelajaran bagi kita semua.</p>
number of view: 1007]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.firman-its.com/penyesalan-tiada-di-awal-suamiku-kini-telah-tiada.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

