Category Archives: Entrepreneurhip

Accountability VS Responsibility

arBanyak yang bertanya apa perbedaan keduanya. Keduanya berarti sama, tanggung jawab. Akan tetapi dalam praktik managemen keduanya berbeda.

Adalah Pak Hadi namanya, pemilik sekaligus pengemudi travel langganan saya. Saya selalu minta diantar dan dijemput oleh Pak Hadi setiap tugas ke luar kota. Cukup sederhana, hanya lewat WA dan semua beres. Uniknya yang menjemput atau mengantar tidak selalu Pak Hadi sendiri. Terkadang kalau Pak Hadi tidak bisa, beliau ‘meminta bantuan’ rekannya.

Begini proses kerjanya. Ketika saya memberi order penjemputan ke Pak Hadi via WA, beliau tidak pernah menolak. Pak Hadi kemudian melihat jadwal beliau apakah ada slot kosong untuk saya. Jika tidak bisa dia akan mencarikan sopir pengganti untuk saya. Sopir ini bukan anak buahnya tapi sesama pelaku bisnis travel. Ketika sudah dapat Pak Hadi info ke saya nama sopir, no telp, dan jam penjemputan.
Tiba di Hari H, pak Hadi menelpon si sopir pengganti untuk memastikan apakah saya sudah dijemput. Pak Hadi juga menghubungi saya apakah sudah bertemu / dijemput oleh si Sopir. Oh iya.. Pak Hadi juga menginformasikan ke si sopir pengganti tentang saya, profesi saya, serta warung tempat saya biasa makan kalau lapar.
Ditengah perjalanan Pak Hadi juga memonitor melalui si sopir apakah perjalanan lancar, apakah sudah sampai, dan lain sebagainya sampai saya selamat sampai tujuan. Menariknya, apakah Pak Hadi dapat fee dari si sopir pengganti? Setelah saya cek ternyata tidak.
Luar biasa bukan…

Ketika pak Hadi menerima order dari saya dan menyatakan OK, maka dia punya accountability untuk memastikan saya terjemput dan terlayani dengan baik. Saat dia tidak bisa menjemput saya, dia memberikan responsibility kepada sopir pengganti untuk menjemput dan melayani saya. Pada saat tersebut, accountability bukan berpindah ke si sopir, tapi tetap berada di Pak Hadi.
Tindakan pak Hadi yang tidak hanya mencari sopir pengganti tetapi juga memonitor dan memastikan semua berjalan lancar dinamakan ownership.

Indahnya jika bekerja dengan orang dan tim seperti itu.

Produk Baru “Aspri.WA”

aspri-logo-webKalau kita mendengar kata aspri, langsung tergambar seseorang yang dengan sigapnya dan selalu siap setiap saat jika dibutuhkan “juragannya”.  Ya, itulah aspri atau asisten pribadi.

Apakah di dunia maya kita bisa punya aspri? Apalagi kita sering bersosmed, semisal dengan WhatsApp atau sering dikenal WA. Apa yang harus dicatat dan dilaporkan saat kita diskusi di WA? Selama ini salah satu anggota yang ditugasi yang merekap atau mencatatnya.

Semakin banyak anggota grup WA, maka semakin ramai diskusinya, seringkali ada yang terlewat untuk dicatat. Karenanya, kami menghadirkan aplikasi Aspri.WA. Aplikasi ini, dengan keyword tertentu bisa mencatat atau merekap data yang kita mau catat di data cloud. Jika kita membutuhkan catatan tersebut, kita tinggal panggil dengan keyword yang telah dibuat.

Misalnya, bagi yang di grup WA bisnis, rekap siapa pesan apa sejumlah berapa, Cukup dengan ketik di wa grup bisnis tersebut:
pesan keyword jumlah yang dipesan.
pesan MaduPahit 3 atau
pesan MaduAnak 7

Terus Bagaimana dengan nama pemesan, kan tidak menyertakan nama?  Nama  dan nomor WA meski tidak tertulis saat mengetik pesan tadi, tapi otomatis diambil dari data nama dan nomor yang di whatsapp. Simple bukan? Bahkan ini bisa dijadikan “kunci” agar tiada pesanan yang dobel untuk jenis pesanan yang sama.

Sedangkan untuk melihat rekapan siapa memesan apa? Cukup ketik misalnya,
pemesan MaduPahit
maka semua yang pesan MaduPahit akan keluar, mulai nama, jumlah dan waktu pemesanan.

Lho hanya seperti ini saja dan hanya untuk yang mudah seperti itu? Tentu Tidak! Ini hanya contoh saja. Untuk susah, ehh maksudnya yang komplek, sekomplek apapun, InsyaAllah kami bisa memberi solusi.

Aplikasi Aspri.WA sudah dicoba beberapa grup dan siap diluncurkan untuk umum.

Monggo dicoba bagi yang tertarik, jangan lupa syaratnya:
1. Simpan nomor hp Aspri.WA
  yaitu 089-60-343-2526 dan
2. Masukkan nomor hp Aspri.WA di grup wa Anda.
3. Tidak perlu install software tambahan,  cukup aplikasi whatsapp.

Mau punya aspri di WA, ya aplikasi Aspri.WA 🙂
*Hubungi No HP/WA ini: 081-5522-1-007

Mina Padi: Sistem Menakjubkan, Bertanam Padi Sambil Pelihara Ikan

minapadi2minapadi1minapadi3Mina padi, adalah istilah yang berarti menanam padi dan memelihara ikan, yang dilakukan pada suatu tempat yang sama.

Milah Yabmob, dari Research and Development Information Systems, Social Media and Editor, hari ini mengunggah foto menakjubkan, yaitu contoh mina padi yang berhasil dilakukan oleh Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Ngemplak, Bimomartani, Ngemplak, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Ikan yang dipelihara disini adalah babyfish alias bayi ikan mas yang ditebar di tengah sawah pada saat musim tanam. Tapi sawah disini masih alami, beda dengan sawah yang ada di Aceh,” jelasnya.Ia menyayangkan kondisi sawah di Aceh yang sangat akrab dengan pestisida, sehingga sistem mina padi akan sulit diterapkan di Negeri Serambi Mekah tersebut.“Bahan kimia sudah menjadi makanan sehari-hari petani di Aceh sehingga sawah di Aceh sudah tidak alami lagi karena banyak mengandung kimia. Akibatnya sangat sulit untuk menerapkan mina padi. Ikan dan jasad renik tidak bisa hidup di ekosistem yang terkomtaminasi zat kimia, karena itu kenapa sawah di Aceh sudah tidak dtemukan lagi belut dan hewan-hewan alamiah lainya yang dulu sering kita temukan. Inilah masalah yang sedang dihadapi petani di Aceh,” keluhnya.Postingan ini menuai reaksi yang sangat positif di media sosial. Pada umumnya, netizen mengaku takjub dengan pemandangan yang tidak biasa ini. Mereka bertanya, tidakkah ikan-ikan itu akan terinjak pada saat panen padi?

“Ya enggak keinjeklah mbak, kan ikannya bisa panen 3x selama 3 bulan. Jadi, sebelum padi dipanenbabyfish sudah di panen duluan sehingga tidak merusak padi. Anak-anak ikan mas cepat panen karena pertumbuhannya lebih cepat apalagi hidupnya di sawah organik,” jelasnya.

“Penebaran benih ikan dilakukan saat akar padi sudah mulai menancap kuat dilumpur, saat itu air dimasukkan sebanyak sepertiga dari ukuran tanaman padi, tidak terlalu banyak tidak pula sedikit. Keduanya saling menguntungkan. Jadi pertumbuhan ikan akan mengikuti pertumbuhan tanaman padi. Tetapi pertumbuhan ikan mas lebih cepat karena persediaan makanan ikan disawah lebih kaya. Pilihlah padi yang perdunya lebih kokoh dan tidak mudah rebah,” jelasnya lagi, ketika ada yang bertanya bagaimana cara menerapkan sistem mina padi ini.

Milah berharap, pemerintah daerah Aceh segera melakukan revolusi pertanian yang ramah lingkungan, multi guna, efektif dan produktif sekaligus bisa satu paket dengan pengembangan agrowisata, culture tourism, dan greentourism.

“Silahkan share sebanyak-banyaknya agar Indonesia back to nature, menjadi penghasil padi dan babyfish terbesar didunia,” harapnya. (ba)

sumber: LiputanIslam.com

Siapa Elo?

Parodi

Di akhir pekan lalu, saya berkumpul bersama sahabat-sahabat saya sambil menikmati makanan italia buatan salah satu teman saya itu. Di tengah goyangan pasta, ada menu asinan betawi. Benar-benar menu mancanegara.

Di seputaran kolam renang itu kami mengobrol ke sana kemari. Kebetulan sahabat-sahabat saya itu berprofesi seperti menu siang itu. Dari yang bekerja di rumah pelelangan sampai yang mengelola gedung, tanpa melupakan yang memiliki salon dan seorang seniman.

Seorang wanita salah satu dari sahabat-sahabat saya itu bekerja di sebuah bank yang baru saja melakukan aksi perampingan karyawan. Jadi, ternyata yang bercita-cita memiliki “tubuh” ramping bukan cuma manusia. Saya berpikir, perusahaannya sudah dibantu sekian tahun dengan manusia-manusia ini sampai sukses dan setia, dan ketika keuntungan berkurang dan mulai panik, maka salah satunya melakukan perampingan. “Kata setia itu gak ada lagi, Mas,” celetuk teman saya.

Sahabat saya bercerita bahwa ia sempat deg-degan apakah ia juga dimasukkan ke dalam program pelangsingan—yang bisa membuat orang tak bisa tidur itu, dan malah benar-benar langsing karena stres—meski imbalannya, menurut cerita sahabat saya itu, mencapai enam puluh kali gaji.

Ia menjadi bingung. Bagaimana kalau seandainya aksi pengurangan pegawai itu menimpa dirinya, dan ia sampai harus mencari pekerjaan lagi meski angka enam puluh kali sekian juta bisa ia genggam. Saya senang mendengar ceritanya itu, apalagi ucapannya yang terakhir. “Gue bisa aja dapat uang sebanyak itu, tetapi siapa gue setelah gak kerja di sana?”

“Mas dari mana, ya?”

Siapa gue. Sebuah pertanyaan yang penting sekali tampaknya. Saya kemudian mengingat bahwa kejadian itu juga pernah saya alami. Beberapa waktu lalu saya bertemu dengan klien saya yang kebetulan dulu pernah menjadi manajer iklan di majalah di mana saya bekerja. Ia kini bekerja di sebuah hotel berbintang. Suatu hari saya bertemu dengannya di kantornya di salah satu gedung pencakar langit di kawasan Sudirman. Saya tiba di reception.

“Selamat pagi, Mbak. Saya Samuel Mulia, ingin bertemu dengan Ibu Santi,” jelas saya. Dengan senyum ramahnya ia membalas, “Pak Samuel dari mana, ya?” Saat ia menanyakan itu, saya gelagapan, benar-benar tak bisa menjawab, malah saya balik bertanya, “Dari mana ya, Mbak?” Tentu saya tak bisa menjawab bahwa saya dari rumah. Saya mengerti sepenuhnya bahwa pertanyaan dari mananya itu dimaksudkan sebagai nama perusahaan di mana saya bekerja.

Masalahnya, saya sekarang tak bekerja di sebuah perusahaan atau institusi apa pun. Sebagai konsultan media pemula dan ecek-ecek, saya belum berani membuat perusahaan. Jadi saya bingung, benar-benar KO mendengar pertanyaan si Mbak. Kemudian karena saya memang tidak dari mana-mana, saya mengatakan saya ini temannya Ibu Santi.

Wajah ramah dan senyumnya berubah menjadi ketus. Mungkin ia berpikir, ini bukan waktunya main-main dan mengunjungi teman saat jam bekerja. Saya cuma menggerutu dalam hati, yaaa… beginilah kalau keramahan hanya menjadi sebuah kewajiban dan tak datang dari nurani. Saya malu sendiri karena setelah menggerutu, saya jadi ingat suara teman saya yang suka nyeletuk, “Bukannya elo juga kayak gitu.”

Setelah pertemuan itu, di dalam taksi menuju ke tempat pertemuan berikutnya, saya berpikir lagi, apakah saya akan ditanya lagi saya dari mana? Kemudian saya malah jadi bertanya kepada diri saya sendiri, siapakah saya ini? Siapakah saya selama ini di mata saya dan di mata orang lain? Saat itu mata saya terbuka bahwa selama ini saya melabelkan orang dan diri saya sendiri dengan nama institusi di mana tempat bekerja. Karena berbelas tahun melabelkan dan kemudian menjadi kebiasaan, maka ketika si Mbak receptionist mengajukan pertanyaan dari mana, saya kebingungan karena “nama belakang” saya kini sudah tak ada lagi.

Kalau Paris itu (bukan) Hilton

Saya sampai berpikir apakah orang mengenal saya seperti ini. Samuel itu loh yang nulis di Kompas. Tentu nama Kompas sudah seperti nama Krisdayanti. Sambil merem dan mimpi saja bisa teringat. Atau Samuel itu loh yang kerja di Bank ABC. Dan tak hanya label institusi, tetapi juga sampai menyerempet dengan urusan nama keluarga dan perilaku. Samuel itu elo yang anaknya Jenderal Kancil. Masak gak tahu sih, Samuel itu loh, dia kan cucunya pengusaha guling. Kakeknya kan dulu membuat guling dan bantal, baru aja meninggal. Kakeknya kan dulu nakal. Makanya, cucunya sami mawon. Samuel itu elo yang dulu kerja di majalah pisang jambu, yang sok tahu itu, yang mulutnya nggak disekolahin. Samuel itu elo, yang bekas berselingkuh ama penyanyi keroncong.

Beberapa hari setelah kumpul- kumpul di tepi kolam renang, saya melihat tayangan bagaimana sejuta media meliput masuknya Paris Hilton ke penjara. Berbagai media berkomentar ini dan itu. Saya membayangkan bagaimana kalau Paris itu bukan Hilton? Cuma perempuan biasa yang tidak punya kaitan dengan nama belakangnya? Akankah sejuta media mengerumuninya? Siapakah Paris tanpa Hilton? “Yaaa… itu kan ibu kota Perancis,” celetuk teman saya.

Ya, siapakah saya ini kalau saya tak punya predikat apa pun, tidak bekerja di bank kondang atau anak orang kondang? Saat saya pindah kerja dari perusahaan besar ke perusahaan ecek-ecek, klien-klien saya yang dahulu baik dan memberikan saya perlakuan istimewa tiba-tiba tak mengenal saya, memberi kesusahan saat meminta janji temu, kalaupun baik, hanya sekadarnya. Harus diakui, saya merindukan untuk kembali memiliki nama belakang, dan tentu saya memilih yang besar dan terkenal kalau perlu.

Dan kadang ketika saya tak punya nama belakang yang besar dan kondang, saya mencari-cari dengan melakukan perilaku yang mengundang orang untuk membicarakan, agar nama yang tak ada apa-apanya itu menjadi apa- apanya dong. Kalau dimisalkan sebuah brand, maka ketika saya mem-build brand saya, saya membangun dengan cara yang provokatif sehingga memancing perhatian orang, yang sensasional, meski brand saya sendiri tak ada istimewanya sama sekali.

Jadi, memiliki nama besar di belakang yang bukan nama saya sendiri membuat saya seperti ketagihan bak pengguna narkoba. Sekali dilepas, maka saya jadi sakau. Teman saya dengan polos bertanya, “Mas, jadi sekarang Mas ini siapa?”

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup

KILAS PARODI

“I’m Nobody or I’m Somebody?”

1. Terus terang saya merasa sangat nyaman ketika saya bekerja di sebuah majalah kondang. Saya bisa rebahan di dada bidang nama besar itu. Nama besar perusahaan itu memberi banyak kemudahan. Tetapi, tanpa saya sadari karena saya terlena, saya lupa nama saya menjadi besar karena nama besar perusahaan itu, dan bukan karena saya. Orang tak lagi mengenal saya sebagai saya sendiri. Selalu saja dikaitkan dengan nama perusahaan itu. Dan kemudian itu yang menakutkan adalah ketika datang masanya saya tak bisa lagi memakai nama besar itu di belakang nama saya. Tiba-tiba saya merasa I’m nobody.

2. Teman saya di Paris bangga sekali kalau ia menjelaskan pekerjaannya di salah satu rumah mode kondang. Saya hanya berpikir, teman saya boleh bangga, dan sesungguhnya saya bangga juga, tetapi saya mengharap ia tak lupa bahwa ia sama sekali bukan apa-apa kalau tak ada nama kondang rumah mode itu yang senantiasa diletakkan di belakang namanya, kalau ia sedang menjelaskan siapa dirinya. Ia bisa saja membuat karya besar, tetapi nama rumah mode itulah yang tetap diingat orang.

3. Kalau ingin bangga dengan diri sendiri, maka bekerja keraslah untuk itu. Maka, belakangan ini, saya mendorong teman-teman saya untuk mulai berpikir memiliki usaha sendiri, apa pun bentuknya dan sekecil apa pun itu. Komentar mereka yang pertama selalu saja, “Mau usaha apa ya?” Kalau sudah mendengar komentar itu, saya jadi ingat diri saya sendiri. Karena pertanyaan itu juga yang pertama datang di kepala saya. Mungkin karena saya sudah terbiasa terlena bekerja untuk orang lain, maka saya tak pernah punya waktu untuk melihat kemampuan saya sendiri. Maka saya bersyukur saya kehilangan pekerjaan untuk orang lain karena saya menemukan pekerjaan untuk diri saya sendiri, untuk memberi waktu mengenal kemampuan saya. Dahulu saya tak bisa membuat cash flow, membacanya pun tak bisa, karena sekarang saya mau usaha sendiri, yaaa… saya mulai belajar dari teman saya. Ternyata main-main dengan uang enaknya setengah mati.

4. Sekarang saya memang sedang susah-susahnya menjalankan cita-cita saya. Tetapi harus saya akui, kesusahan itu sama sekali tak ada artinya ketika saya dengan bangga memberikan kartu nama saya tanpa embel-embel nama bank kondang atau majalah kondang. I’m somebody!

5. Apa pun pekerjaan Anda, di mana pun Anda bekerja, Anda harus merasa sejahtera. Itu yang utama. (Samuel Mulia)

FREELANCE : Siapa Bilang Tidak Keren

Tidak punya kantor, tidak punya atasan, tidak punya bawahan. Bebas lepas.Tapi, bukan berarti tidak bisa professional dan menghasilkan duit banyak, lho !

Bagi anda yang menginginkan kebebasan, tidak suka keterikatan dan formalitas, mungkin bekerja sebagai tenaga lepas ( freelancer ) bisa menjadi pilihan. Anda bisa bebas bekerja secara mandiri.Tetapi, mungkin anda masih memandang dengan sebelah mata sistem bekerja lepas. Karena tidak punya kantor dan tidaksedikit yang menggarap ekerjaan di rumah, para freelancer ini memang tidak jarang dianggap setengah pengangguran.

Tapi anda tidak perlu berkecil hati , karena kabarnya , di negara Barat, kini hampir 50% angkatan kerjanya adalah tenaga lepas.Ini bisa menjadi indikasi bahwa kerja lepas pun potensial untuk menjadi salah satu cara berkarya dan memperoleh penghasilan besar.

Ada Pergeseran

Ada pergeseran tegas antara bekerja lepas ( freelance) dengan bekerja paruh waktu ( part time ). Untuk lebih mudahnya, mungkin sebaiknya anda memahami dulu apa itu kerja penuh waktu ( full time ). Jika anda bekerja penuh waktu, maka itu artinya anda karyawan suatu perusahaan tertentu yang punya kewajiban bekerja dari hari Senin hingga Jumat ( atau Sabtu ), dari awal higga akhir jam kerja.Karena itu, Anda mempunyai hak mendapatkan gaji, memperoleh tunjangan, dan fasilitas sesuai ketentuan perusahaan tempat anda bekerja.

Jika anda bekerja paruh waktu, berarti durasi kehadiran anda di kantor tempat anda tercatat sebagai karyawan tidak penuh. Misalnya, anda hanya mempunyai kewajiban bekerja mulai pukul 09.00 hingga 12.00, tiga kali dalam seminggu. Dalam kondisi ini, anda masih terikat dengan peraturan kantor tersebut, namun hanya digaji berdasarkan durasi waktu atau frekuensi kehadiran anda. Namun, ada beberapa perusahaan tertentu yang memberikan fasilitas-fasilitas untuk para part timer seperti yang didapat karyawan yang bekerja penuh.

Tetapi, jika anda bekerja sebagai tenaga lepas, anda benar-benar bekerja sebagai individu. Jika sebuah perusahaan membeli produk atau memakai jasa anda sebagai freelancer , maka yang akan mereka bayar adalah produk atau jasa yang andaberikan, bukan berdasarkan perhitungan berapa lama atau berapa sering ada bisa hadir di kantor tersebut. Sebagai tenaga lepas, anda tidak bisa menerima tunjangan-tunjangan dan sama sekali tidak terikat berbagai peraturan perusahan. Dengan kata lain, si pengontrak tidak mau tahu bagaimana anda menyelesaikan pekerjaan anda, yang penting anda memberikan hasil kerja sesuai dengan kontrak atau perjanjian yang telah disepakati.

Dalam situs kerjalepas.com dituliskan bahwa pekerjan freelance biasanya berbentuk proyek, yang sering kali ditawarkan dengan sistem tender. Sistem pembayarannya pun biasanya mengunakan sistem borongan, dalam arti tenaga lepas baru dibayar setelah ia menyelesaikan pekerjaannya. Namun ada juga yang dibayar dengan uang muka terlebih dahulu dan sisanya dibayar setelah pekerjaan selesai dilaksanakan.

Sayangnya, bekerja freelance masih sering dipandang sebelah mata alias tidak keren, dan tidak bonafide. Pasalnya, menurut Andrias Harefa, seorang konsultan pembelajaran dan sales & financial motivator dari lembaga Indonesia School of Life, selama ini hal-hal yang bersifat formal, termasuk pekerjaan, memang dianggap lebih hebat.

Walaupun begitu, Andrias melihat adanya fenomena-fenomena baru beberapa tahun belakangan ini, “ Ada pergeseran dari corporare life ke self life.artinya, apapun yang awalnya diasumsikan harusdikerjakan pada tingkat corporate ( perusahaan ) , dalam intensitas tertentu, kini bisa dilakukan seorang individu secara mandiri. Sekarang lebih banyak orang yang mencari pekerjaan yang bisa memberi banyak keleluasaan baik dari segi waktu, tempat, maupun prestasi.Ini didukung oleh teknologi, misalnya komputer dan internet, yang memungkinkan orang bekerja di rumah tanpa harus datang ke kantor,” tutur Andrias.

Berjiwa Entrepreneur

Kebebasan tampaknya menjadi alasan utama para freelancer.Prinsipnya, work hard, play hard. Maksudnya, antar bekerja dan melakukan kesenangan- kesenangan atau menikmati kehidupan pribadi sesuai keinginan mereka itu seimbang, karena segalanya mereka atur sendiri. Biasanya mereka adalah orang-orang yang ingin bebas berkarya, berekspresi, dan mempunyai dorongan untuk lebih mengembangkan keahlian di bidangnya.

Kebebasan juga menjadi keuntungan yang paling jelas yang bisa diperoleh seorang freelancer.Bebas dari ikatan, rutinitas, dan formalitas.Dia juga bebas mengatur sistem , strategi dan teknik kerja, walaupun dia tetap harus berpegang pada tenggat dan target yang ditentukan oleh pihak penyedia kerja. “ Para freelancer itu biasanya orang-orang yang mampu bekerja sendiri dan berani mengambil resiko.Karena itu , biasanya mereka berjiwa entrepreneur,” kata Mira Puspita, Senior Consultant- Experd, sebuah konsultan sumber daya manusia.

Hal itu juga diungkapkan oleh Adrias, “Entrepreneurship atau jiwa wiraswasta, harus dijadikan spirit. Ini membuat anda bebas, kreatif, berani mengambil resiko, dan sensitive terhadap lingkungan sehingga bisa dengan mudah melihat peluang.Jiwa entrepreneur itu bisa dilatih dan dikembangkan, “ kata penulis beberapa buku mengenai motivasi untuk bekerja mandiri itu.

Mengatur “Gaji” Sendiri

Memang , salah satu risiko seorangfreelancer adalah penghasilan yang tidak tentu jumlahnya dan tidak teratur diterimanya. Karenanya, para freelancer butuh siasat pengelolan keuangan yang tepat.Caranya ?

Elvyn G.Masyassya, seorang pengamat dan penasihat investasi dan keuangan, memberi saran untuk anda

1.Sebelumnya, anda harus bisa membuat perkiraan berapa kali anda akan memperoleh pendapatan dalam setahun. Sebagai arsitek lepas, misalnya, anda menargetkan akan mendapatkan empat proyek dalam setahun, maka setiap pendapatan dialokasikam untuk kebutuhan anda selama 3 bulan (12 bulan : 4 = 3 bulan ) .Jadi , kalau pekerja tetap menerima gaji bulanan secara rutin,anggap saja pengalokasian pendapatan inilah “gaji” anda.

2. Pendapatan yang anda peroleh ini harus dikelola dengan baik. Pada dasarnya, pengelolaan keuangan itu adalah persamaan :
pendapatan = konsumsi + tabungan + investasi

Jadi , setiap pendapatan yang anda peroleh sebaiknya dialokasikan untuk ketiga hal tersebut, dengan presentase masing-masing sebanyak 30%. Sisa 10 % sebaiknya anda anggap sebagai simpanan wajib, yang bisa anda gunakan sewaktu-waktu jika ada kebutuhan mendadak , sehingga tabungan anda tidak terganggu. Seorang karyawan masih mungkin mendapat tunjangan kesehatan dari perusahaannya jika ia mendadak sakit. Dan inilah yang bisa anda anggap sebagai tunjangan serupa.

3. Ada 2 cara yang bisa anda lakukan untuk menaata keuangan anda, yaitu meningkatkan pendapatan atau mengurangi pengeluaran. Jika anda bisa meningkatkan pendapatan, maka pengeluaran anda tidak perlu diutak-atik. Meningkatkan penghasilan pun bisa dengan berbagai cara, misalnya menaikkan honor yang anda minta dari klien, atau memperbanyak proyek yang anda tangani. Tetapi, jika pendapatan tidak meningkat, pengeluaran mesti dibenahi.

4. Buat neraca keuangan ( balance sheet ) pribadi berisi catatan asset dan kewajiban yang harus anda selesaikan ( utang ). Dalam mengelola neraca ini, anda harus membuat target selama 1 tahun, dan ada yan menjadi prioritas utama anda adalah penyelesaian utang ( kalau ada ).Buat jadwal pembayaran utang.

5.Buat juga income statement, yaitu catatan akumulasi pendapatan dan biaya-biaya yang harus anda keluarkan dalam kurun waktu tiga bulan, enam bulan, atau satu tahun.

6.Mengenai investasi , sebaiknya dilakukan dengan pola diversifikasi, yaitu beberapa jenis investasi yang karakteristiknya berbeda.Salah satunya, pilih investasi yang memberi proteksi , yaitu asuransi.

7. Akan lebih memudahkan jika pendapatan yang diterima sudah dikurangi pajak.Karena itu, saat bernegoisasi dengan pengontrak, lebih baik anda meminta pendapatan bersih saja.

Sebaiknya anda membuat perencanaan keuangan secara periodik sejak awal tahun dan merevisi pling tidak enam bulan sekali. Ini perlu untuk melihat komposisi investasi pengeluaran rutin dan yang perlu direncanakan, kondisi tabungan anda , juga pencapaian target total pendapatan yang anda inginkan.

9. Jika ingin sukses mengelola uang, anda harus disiplin ! Jika anda disiplin, besar kemungkinan pendapatan anda lebih besar dibnding jika anda bekerja penuh di sebuah perusahan.

Mereka Yang Berprofesi Sebagai Freelancer

ASTERIA ERLANDA, Script Writer

Awalnya, Aster bekerja sebagai wartawan di salah satu majalah remaja.Layaknya pekerja kantoran, Aster harus bekerja dengan jadwal harian yang penuh sejak pagi hingga sore. Ia berhenti karena melanjutkan studi di luar negeri .Ketika kembali ke Indonesia, sebenarnya bias saja Aster kembali bekerja di tempat bekerjanya semula. Tapi, keburu dating tawaran untuk menjadi script writer ( penulis naskah ) kuis di RCTI. Karena menyukai tantangan , Aster segera mencobanya meskipun posisi yangditawarkan hanya sebagai freelancer yang dibayar per episode.Dari penulis naskah kuis, Aster mencoba menerima berbagai order menulis naskah lain, mulai dari advertorial media cetak sampai program televisi, seperti acara kuis Piramida Baru, Kata Berkait dan talk show Perempuan.

Ternyata menurut Aster, bekerja sebagai freelancer lebih sesuai untuk dirinya yang ingin memberikan waktu dan perhatian untuk keluarga. Kalau kerja di kantor, ia harus start dari rumah pukul 7 pagi, dan mungkin baru tiba setelah pukul 6 sore. Menjadi freelancer, ia bebas mengatur waktunya sendiri. Sebagai contoh, untuk program talk show Perempuan , naskah ditulis di rumah dan dikirim ke Metro TV lewat e-mail. Saat syuting berlangsung, Aster hanya butuh waktu sekitar 2,5 jam hadir di studio. Untuk order advetorial yang mendesak, Aster bahkanbisa menyelesaikannnya hanya dalam waktu satu hari.Modal utamanya pun relatif murah : komputer dan akses internet

“ Yang dibutuhkan adalah disiplin diri.Saya tidak boleh bergantung pada mood, bahkan sebaliknya, menurut saya, mood itu harus dibangun, “ kata sarjana komunikasi yang juga lulusan S2 jurnalistik dari Australia itu.

Untuk menjaga hubungan dengan klien, Aster tidak pernah menolak order, sesibuk apa pun dirinya.Dan, demi profesionalisme , ia juga tidak pernah meminta waktu untuk keperluan pribadi, misalnya anak yang sakit, karena ia sangat menghargai jadwal kliennya. Selain itu, agar tulisannya tetap up to date, ia rajin membuka kamus, membca berbagai referensi, koran, dan majalah.Tak heran, reputasi Aster terbilang bagus sehingga namanya kerap direkomendasikan.

Begitu cintanya pada pekerjaan freelance, Aster selalu tegas menolal tawaran untuk bekerja full time. Saya betul-betul ingin menjaga profesionalisme pribadi.Saya tidak mau cheating, bekerja di satu tempat secara full time, dan mencuri-curi waktu untuk freelance di tempat lain, “ ungkapnya.

DONNY A SITUMORANG, Arsitek

Untuk Donny, krisis moneter yangmelanda Indonesia pada tahun 1997 tidak melulu berdampak buruk, malah membuatnya menjadi lebih kreatif dalam berkarya. Akibat krisis moneter itu, ia berhenti bekerja dari salah satu pekerjan konsultan, dan memutuskan untuk menjadi arsitek lepas yang menerima order menggarap proyek rumah tinggal. Di samping alasan krisis, ia juga menganggap menjadi arsitek lepas merupakan perwujudan idealismenya sebagai arsitek. “Kalau ikut orang, saya kurang bisa karena desain diatur oleh perusahaan. Kalau bekerja sendiri, saya bisa jadi bos, tidak perlu diperintah-perintah, “ ujar arsitek lulusan Universitas Diponegoro yag juga tergabung dalam Iaktan Arsitek Indonesia (IAI) itu.

Biasanya, minimal ada satu proyek yang ditanganinya dalam setahun. Satu proyek butuh penyelesaian sekitar 6 bulan. Sebagai arsitek, ia tak hanya mendapat order menggambar desin rumah, tetapi juga membangun dan sekaligus menata interiornya.Untuk itu, ia mendapat bayaran 10% dari total harga proyek, yang pembayarannya diatur dalam beberapa tahap sesuai perjanjian.Selain pengaturan pembayarannya, Donny merasa total pendapatannya tidak jauh berbeda dari arsitek lain yang bekerja di perusahaan. “ Untuk itu , saya harus disiplin dalam mengatur soal keuangan, “ ujarnya.

Persoalan modal menjadi kendala awal yang dirasakan Donny saat mulai bekerja sebagai arsitek freelance.Untuk itu, ia mengaku cukup tahu diri dengan tidak mengambil alih proyek – proyek besar, dan memilih mengambil proyek rumah tinggal kelas menengah. “Yang penting hasilnya memuaskan klien, karena klien yang puas akhirnya akan melakukan promosi dari mulut ke mulut, “ kata Donny.

Setelah merasakan bekerja sebagai arsitek freelance, Donny mengaku tidak lagi tertarik untuk bekerja sebagai arsitek tetap. “ Kecuali untuk proyek spektakuler yang juga menjadi bagian dari idealisme saya, atau sebagai tenaga ahli,” ujarnya.

AISH DAENG RENATA, Dubber

Aish kerap mengisi suara pemeran utama telenovela.Tak jarang suaranya muncul memerankan karakter tokoh film kartun atau tokoh perempuan cantik di film lepas Mandarin di berbagai televisi swasta, juga beberapa iklan.

Bekerja freelance sebagai pengisi suara ( dubber) memang tidak masuk ke dalam rencana kariernya. Sebelumnya, ia pernah menjadi asisten dokter gigi di Semarang. Pertemuannya dengan sutradara Dedi Setiadi yang menawarinya sebagai dubber di Jakarta mengubah langkah wanita yang pernah bergabung dengan sebuah kelompok teater itu.

Setelah berkeluarga danmempunyai seorangputri, kini Aish semakin mensyukuri pilhannya, ‘ Dalam seminggu, selalu dalam beberapa hari kosong. Selain itu, saya tidak terikat. Kalau mau kerja, ya kerja, kalau tidak mau kerja juga boleh. Untuk film serial pun saya masih bisa fleksibel mengukur waktu, “ ujarnya.

Untuk menjadi dubber yangbaik, menurut Aish, dibutuhkan beberapa syarat khusus. Misalnya, kemamupan membaca yang jelas, pemahaman terhadap naskah dan karakter tokoh, suara dengan tenaga yang bagus, dan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar namun tetap komunikatif.

Ia optimis pekerjaannya sebagai dubber lepas memberikan masa depan yang prospektif. Selain penghasilan yang relatif memuaskan, profesinya sebagai dubber juga memungkinkannya berkembang ke jenjang yang lebih tinggi. “ Karier seorang dubber bias meningkat menjadi pengarah dialog, dan selanjutnya bisa bertanggung jawab penuh terhadap pengisian suara suatu film, “ ujar wanita yang selalu berusaha menjaga kualitas dan reputasi kerjanya itu.

Sumber :

http://cdc.eng.ui.ac.id
Majalah Femina