Merajut Visi Peradaban di Awal Tahun 2018

Muhammad Al Fatih

Muhammad Al Fatih adalah nama yang terinspirasi dari Sultan Mehmed II, yang juga dikenal sebagai Muhammad Al-Fatih. Mehmed, juga dikenal sebagai el-Fatih (الفاتح), “sang Penakluk”, dalam bahasa Turki Usmani, merupakan seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Kekaisaran Romawi Timur.

Ia merupakan anak dari Sultan Murad II (1404-51) dan Valide Sultan huma Hatun. Sultan Murad II memberikan fasilitas pendidikan yang sangat tinggi. Banyak guru yang mendidiknya.

Menariknya, saat keberhasilan penaklukan romawi itu, apa yang dilakukan pertama kali oleh sang penakluk? Bukan pesta pora atau membanggakan diri. Al Fatih menemui gurunya. Guru yang paling dekat dengannya adalah Syaikh Aaq Syamsuddin. Sungguh didikan dari orang tua dan guru-gurunya luar biasa.

Selain itu, Al Fatih berarti pembuka. Pembuka jalan kebaikan. Seseorang yang diamanahi sebagai pembuka harus memiliki keberanian. Minimal keberanian membuka jalan kebaikan. Ini tidak bisa dimiliki kecuali yang berjiwa pemberani dan penakluk.

Muhammad Ihsan Afifuddin

Estafet kedua setelah dibuka jalan kebaikan adalah konsistensi menjaga keberhasilan. Tiada arti penaklukan atau kemerdekaan kecuali kita mampu dan profesional mengisinya. Konsistensi menjaga keberhasilan saat estafet pertama, bukan malah melalaikan dan merobohkan.

Ihsan adalah seorang manusia yang senantiasa mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta, ilmu, kedudukan dan badannya.

Namun, bukan berarti semuanya tanpa khilaf. Karenanya, Ihsan itu tetap harus dibarengi dengan Afif(uddin). Nama Afif berasal dari bahasa arab yaitu عَفِيْف artinya adalah Menjauhkan dari hal yang tidak baik. Pendeknya, Estafet kedua selalu Konsisten menjaga profesionalisme. Sedangkan profesionalisme pastinya didapat karena pendidikan yang terbaik.

Aulia Annisa Ramadhani

Estafet pamungkas adalah kepemimpinan. Kepemimpinan lahir dan diciptakan dari pendidikan. Pemimpin lahir bukan karena “titipan”. Karena yang titipan itu tidak punya kuasa akan kekuasaannya.

Nama Aulia berasal dari bahasa Arab yang berarti kekasih Allah atau pemimpin golongan. Karena Anak terakhir perempuan, dan dalam konsep kepemimpinan dalam Islam bahwa perempuan hanya “berhak” memimpin kaummnya. Sementara lelaki bisa menjadi pemimpin di semua level kepemimpinan. Maka, nama Aulia dipasangkan dengan nama Annisa, pemimpin kaum perempuan.

Nama akhir Ramadhani adalah semangat dalam menjalankan kepemimpinan. Kepemimpinan akan hadir dan efektif manakala jiwa-jiwa ramadhan terpatri padanya. Bukannya bulan ramadhan juga dikenal dengan syahrut tarbiyah, bulan pendidikan?

Semangat ramadhan memberikan aura kelembutan dan ketegasan serta keteladanan dalam mengawal kepemimpinan.

Mari, di awal tahun 2018 ini, kita rajut visi peradaban yang bermula dari pendidikan di keluarga kita masing-masing. Saat mentari terbit, bisa jadi fajar itu keluar dari bilik-bilik rumah kita. Ibu pertiwi pun tersenyum bangga. (FA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *