Merajut Visi Peradaban di Awal Tahun 2018

Tahun 2017 telah lewat semalam. Banyak orang mengisi akhir tahun dan menjelang awal tahun baru dengan berbagai agenda. Ada yang hura-hura dalam perayaan tanpa makna. Ada pula yang mengevaluasi diri dan berbenah untuk kedepan.

Kami salah satu bagian dari warga Indonesia tercinta, mencoba memberikan yang terbaik bagi bangsa. Kontribusi kami bisa dibilang kecil, tapi bagi kami inilah yang bisa kami berikan saat ini. Kami yakin dengan berjalannya waktu, saatnya nanti akan menjadi “(mem)besar”.

Kontribusi Itu…
Apa kontribusi yang kecil itu? Pendidikan formal dan informal, pendidikan hard skill dan soft skill. Semisal, kami membiasakan diri dalam segala aktifitas bernuansa pendidikan. Tiada aktifitas kami terlepas dari dimensi pendidikan.

Saat kami di rumah misalnya, bagaimana membiasakan diri dalam kebaikan untuk segala hal. Sebagai contoh, bagaimana berbicara yang sopan untuk semuanya. Pun urusan kebersihan, semua punya peran masing-masing.

Kebiasaan ini kalau dibawa keluar rumah apalagi bisa menjadi contoh bagi yang lain, akan punya magnet tersendiri. Inilah yang kami bilang kontribusi itu. Kecil tapi bisa membesar.

Sementara di beberapa keluarga, tidak mengindahkannya. Suatu saat kami jalan-jalan mengisi liburan ke beberapa destinasi wisata, masih terlihat orang-orang yang buang sampah sembarangan. Tidak sedikit pula, kami jumpai sampah dilempar dari mobil di beberapa perjalanan.

Merajut Visi Peradaban

Ada yang mengatakan “Pendidikan bukan segala-galanya”. Namun yang pasti, “Segala-galanya dimulai dari pendidikan”. Ya, berangkat dari “Segala-galanya dimulai dari pendidikan” inilah kami merajut visi peradaban. Istilah peradaban sendiri, seringkali digunakan lebih luas dari istilah budaya.

Untuk memudahkan dalam merajutnya, kami membahasakan dalam nama-nama anak kami sesuai urutan kelahiran; Muhammad Al Fatih, Muhammad Ihsan Afifuddin dan Aulia Annisa Ramadhani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *