Sandal, Sujud, dan Kesetaraan dalam Hukum

MADINAH – Harta dan jabatan sering kali menjadikan diri pongah dan minta dihormati.
Sifat sombong ini biasanya terjadi karena kita merasa lebih dari orang
lain. Bukan hanya masalah kebutuhan harian yang minta di”menang”kan, hukumpun dengan mudah “dibelinya” sehingga berpihak kepadanya meski di posisi yang salah.

Seandainya kita mau merenungi sedikit saja tentang bab salat terkhusus tentang sujud, ada pelajaran yang indah sekali terkait kesamaan kita di hadapan Allah SWT. Coba lihat apakah ada perbedaan antara si bos dan bawahan tentang sujudnya? Sujudnya sama. Dahi dan hidung sama-sama menyentuh tempat sholat.

Kalau kita yang pernah menunaikan haji dan umrah, lebih kuat lagi pelajaran kesetaraan di hadapan Sang Kholiq ini. Di antara ribuan dan jutaaan muslim yang kumpul di Masjidil Haram, saat memakai baju ihram semua sama. Tiada terlihat mana yang berduit dan mana yang bersahaja. Kalaupun diri ini adalah pejabat sekalipun, tidak ada tahu status keduniaan itu semua.

Sejenak setelah kami tawaf wada’, tawaf perpisahan pada Selasa (21/2). Hati ini sedih karena akan meninggalkan kota yang suci ini. Harus diakui, salah satunya karena jika kita salat di Masjidil Haram, akan dilipatgandakaan sebanyak 100 ribu kali.

Namun di balik kesedihan itu muncul senyum yang tersimpul pada diri. Kami menemukan hikmah pasca tawaf wada’ ini. Dan bagi kami ini sangat berharga. Apa itu? Boleh jadi bagi anda sesuatu yang biasa. Tapi tidak untuk kami.

Pernahkah kita mengalami saat kita salat, kepala kita seakan menyembah sandal yang persis di kepada kita. Apalah lagi sandal itu tidak dibungkus plastik. Coba seandainya kita sebagai pejabat mengalami seperti itu, apa yang terjadi?

Ya, terlepas itu bagian dari tata kelola masjid yang bisa diantisipasi,
tapi yakinlah semua itu pasti Allah memberikan pelajaran kepada kita. Kadang hati kita yang keras susah untuk menangkap sinyal itu. Di Masjidil Haram kejadian ini pasti akan kita temui setiap salat berjamaah 5 waktu.

Semua ibadah yang kita lakukan, hakikatnya selain baik bagi diri, baik pula pada sesama atau banyak orang, termasuk sub bab sujud ini. Allah yang Maha Adil selain rahman dan rahim-nya, menyuruh kita berlalu adil kepada siapapun. Rasulpun menegaskan, “Jika Fatimah mencuri, saya yang akan memotong tangannya”.

Coba lihatlah sekarang bagaimana keadilan di negara tercinta kita? Si penista agama masih dengan sombong dan congaknya merasa tidak bersalah. Bahkan menantang balik saksi-saksi ahli agama. Sementara ulama yang dihormati oleh umat Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini dicari-cari kesalahannya.

Semampang masih di Tanah Haram, kami berdoa. “Semoga para penegak hukum terkhusus yang beragama Islam, salatlah, sujudlah dan renungkan sujud-sujud Anda. Kalau masih belum tergerak hatinya, sekali-kali sujud yang di depan Anda. Kebetulan ada benda yang tidak berkenan bagi Anda. Renungkan lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *