Perang Uhud: Kepemimpinan dan Loyalitas

MADINAHCity tour atau ziarah ke tempat bersejarah menjadi menu wajib dalam rangkaian umrah. Rombongan kami di hari kedua di Madinah di antaranya mengunjungi Bukit Uhud.

Pembimbing kami, Ustad Mudzoffar menjelaskan, bukan hanya dari sisi sejarah saja, tapi ada pelajaran penting yang bisa jadi ibroh bagi umat. Sejarah mencatat, kaum muslimin awalnya menang dalam perang Uhud. Tapi saat kemenangan ada di depan mata, ada godaan yang akhirnya berbalik arah menjadi kekalahan.

Singkatnya kekalahan itu diawali dari tergiurnya pasukan panah di Bukit Uhud melihat rampasan perang yang ditinggalkan pasukan kafir Quraish. Padahal Rasulullah menyampaikan, jangan turun walau kondisi apapun sampai beliau memerintahkan.

Namun perintah yang lugas dan jelas itu tidak diindahkan oleh pasukan panah itu. Pasukan panah yang tersisa hanya 30-an dapat dipukul mundur oleh pasukan yang dipimpin panglima Kholid bin Walid kala masih kafir. Begitu pasukan panah tercerai berai, kalahlah pasukan muslim.

“Meskipun kuat dan cerdasnya seorang pemimpin, tapi loyalitas anak buahnya lemah atau lalai, tidak akan menjadikan tim yang solid dalam memenangkan segala pertempuran”, tegas Ustad Mudhoffar kepada para jamaah umrah.

“Kalau kita perhatikan lagi penyebab utama kelalaian pasukan panah itu adalah urusan dunia, rampasan perang”, tambahnya.

Kalau konteks kekinian dalam pemilihan pimpinan, pilkada DKI misalnya, jika ulama sudah tidak didengar atau tidak diperhatikan oleh sebagian umatnya, maka kemenangan menghadirkan pemimpin yang muslim bisa jadi hanya sekadar harapan.

Semoga dengan mengambil hikmah dari perang Uhud ini umat muslim yang masih menjadikan dunia sebagai acuan utamanya daripada acuan Ilahi, mendapat hidayah dari Allah. Mendengar dan menaati arahan ulama, karena ulama adalah pewaris para nabi.

Para jamaah umrah dari Indonesia kala di Raudhah pun berdoa, semoga para ulama dijaga dan dilindungi oleh Allah. Semoga pula dihadirkan pemimpin muslim, terkhusus di pilkada DKI dan dimenangkan di putaran kedua. Bismillah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *