Belajar dari yang kecil

Tau tentang “busi” nggak Sobat???
Yup, benda kecil yang panjangnya tak lebih dari jari tengah kamu,
berada di bagian mesin motor yang letaknya tersembunyi dan paling
jarang kelihatan sama orang. Si busi yang “senangnya” sembunyi itu
jika kita bandingkan besarnya dengan ukuran motor/mobil secara
keseluruhan ga bakal nyampe dech 1/1000-nya (gak percaya? Diukur
ndiri ya ..hehehe).

Tapi, tahukah Sobat kalau si imut busi malas-malasan kerja??
Weleh..weleh.

.weleh..siap-siap ngedorong mas, huehehehe….!!

Dah ngertikan maksudnya? Yes, that’s right, man! Jangan nyepelein
arti diri kamu dalam suatu organisasi. Mungkin kamu berfikir bahwa
kamu adalah bagian yang sangat kecil dari organisasi tersebut. Tapi
apakah itu menjadi alasan kita untuk bermalas-malasan???

Setiap orang di dalam organisasi pasti memiliki beban yang harus
di `jinjing’ (mau dibaca `dipikul’ juga boleh). Sekali kita
melalaikan beban kita sama saja menyuruh saudara-saudara kita di
bagian lain untuk memikul beban kita.

Ingat, mereka juga mempunyai beban yang harus dipikul lho!!! Seperti
busi tadi, sekali `ngambek’ terpaksa si sopir jadi kesusahan.
Apalagi kalau harus sampai di dorong, namanya mobil naik orang
dong !!

Makanya pren, jangan karena diri kita kecil trus kita merasa nggak
ada artinya. Acara `kondangan’, ‘slametan’ atau apapun namanya aja
ga bakal sukses kalau gak ada tukang cuci piring lho. Apalagi sebuah
organisasi besar yang dituntut untuk bekerja dinamis, konsisten dan
kritis.

Bagaimana bisa melakukan perubahan kalau setiap komponen besar
maupun kecil tidak bersinergi dan melakukan gerak yang harmonis???

Makanya jadilah busi, kecil tapi merupakan hal yang vital.
Tapi, jadi busi pun harus siap berkorban.
Karena busi selalu bermain dengan api yang panas
Ingat ya Sobat:

KERJA BESAR, UNTUK PERUBAHAN BESAR, SELALU MEMBUTUHKAN PENGORBANAN
YANG BESAR PULA!!!

oleh : Fathi Faris

One thought on “Belajar dari yang kecil”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *