“Mari, Saya Bantu….”

Oleh Yeni Mulia

Cukup banyak pelajaran hidup yang saya dapat meskipun baru memasuki bulan kelima bermukim di negeri dingin ini, Norwegia. Entah hikmah yang saya rasakan dalam berinteraksi dengan masyarakat sekitar akan juga saya temui di seluruh pelosok negeri ini, namun setidaknya di kota Trondheim ini hidup berjalan begitu damai dan penuh kelapangan. Awalnya, semua yang saya alami dirasa hanya satu “kebetulan”, namun kian hari makin terbukti bahwa telah menjadi keseharian bagi masyarakat di sini menjalani hidup dengan selalu memberikan kelapangan bagi orang lain, siapapun.

Ironis rasanya setiap kali saya mendapat kejutan-kejutan menggembirakan dari orang-orang di sekitar, teman baru bahkan orang yang tak saya kenal sekalipun. Di negeri yang bagi mereka Islam adalah sesuatu yang “aneh” walaupun tidak juga langka, namun jika saya tilik perilaku mereka, begitu dekatnya dengan “akhlakul karimah” yang diajarkan Islam. Begitu mudahnya mereka mengulurkan tangan dan menawarkan berbagai bantuan, dengan wajah tersenyum dan tanpa banyak pertanyan.

Teringat ketika saya baru tiga hari menjejak Trondheim, bulan Maret lalu, di musim semi yang nyatanya masih sangat dingin. Menunggu suami pulang kantor, saya jalan-jalan sendiri ke pom bensin dekat tempat tinggal. Ada “pasar kaget” di sana; menjual telor, ikan dan penganan lain dengan harga relatif lebih murah dari toko. Maklum, langsung dari produsennya. Tanpa bermaksud membeli (karena uang di dompet masih US dollar semua, belum sempat ditukarkan) saya iseng lihat-lihat barang yang mereka jual. Dengan ramah si penjual telor menyapa, “Hello, ada yang bisa saya bantu…?” Dengan malu saya jawab saya tidak bermaksud membeli, hanya lihat-lihat, karena saya tidak bawa uang kroner (mata uang Norwegia). Mendengar jawaban saya spontan si penjual berkata, “Anda boleh bawa telor ini berapapun Anda perlu. Silahkan…! Anda boleh bayar Jumat depan jika kami datang lagi…..” Tak ada sedikit pun nada keraguan dalam tawarannya itu, namun saya begitu ragu-ragu untuk menerimanya. Begitu mudahkan bapak itu percaya pada saya yang baru pertama kali bertemu dengannya? Masih dengan hati yang ragu, saya ucapkan terima kasih. “Mungkin minggu depan saja saya belanja telor”, ucap saya sambil berpamitan.

Tentang apartemen yang kami tinggali tiga bulan pertama di Trondheim pun adalah cerita menarik. Sebenarnya tempat yang pertama-tama saya dan suami tempati adalah single apartment, seperti kamar kos di Indonesia. Kamar itu ditempati suami sejak pertama datang di Trondheim. Saat saya akan menyusul, suami pun bicara pada pemilik apartemen untuk minta izin sementara membawa saya tinggal di sana karena kami belum mendapatkan family apartement yang lebih layak. Ditambah lagi karena kondisi keuangan yang masih serba pas-pasan untuk memulai hidup baru di negeri orang. Tentu saja saat itu suami juga siap dengan konsekuensi membayar lebih karena fasilitas (yang serba listrik) yang kami manfaatkan menjadi dobel. Tak disangka sang pemilik memberi izin dengan mudahnya. Jangankan meminta tambahan sewa, malah kami diberi diskon dan fasilitas kamar pun disesuaikan dengan kebutuhan berdua; tempat tidur lebih besar, lemari ekstra dan televisi 21 inci. Bahkan ketika kami akhirnya berezeki untuk pindah, ditawarkannya pula pekerjaan selingan, “Jika Anda butuh pendapatan tambahan….”, ucapnya. Alhamdulillah…!

Pengalaman lain, tak usah bingung jika tersesat di jalan atau kebingungan mencari alamat. Saya dan suami pernah mengalaminya. Saat kebingungan di area perbelanjaan mencari sebuah toko di antara begitu banyak gedung-gedung yang jaraknya cukup berjauhan. Ragu-ragu kami bertanya pada seorang ibu yang sedang berjalan menenteng belanjaan. Ternyata dia pun tak yakin tentang lokasi toko yang kami tanyakan. Tapi kelihatan sekali dia “tak rela” membiarkan kami berlalu tanpa mendapatkan jawaban yang pasti. “Tunggu sebentar, saya tanyakan pada suami saya di sana”, katanya sambil menunjuk ke tengah lapangan parkir. Dari suaminya kami memperoleh jawaban dan dijelaskannya begitu detil sampai ia yakin kami mengerti arah yang dimaksudkan. Melihat gelagatnya saya menduga, jika ia tak terburu-buru mungkin kami akan diantarnya sampai ke toko itu.

Kejadian yang paling menarik kami alami baru-baru ini. Saat kami pindahan dari single apartement ke couple apartment yang kami tinggali sekarang. Apartemen ini kami dapatkan sebulan sebelum kami benar-benar pindah. Pemiliknya seorang ibu muda – yang sedang hamil- dan punya seorang anak balita. Karena suaminya sibuk bekerja sampai larut, semua urusan dan komunikasi sewa menyewa apartemen ini ditangani oleh sang isteri. Sejak memutuskan mengambil apartemen ini, komunikasi dengan pemilik berjalan seperlunya, sebatas membicarakan kontrak sewa dan persiapan barang-barang. Seminggu sebelum pindah, kami mampir bertemu pemilik untuk membenahi beberapa barang. Karena sangat baru dengan masalah pindahan, sambil mengobrol kami bertanya tentang cara terbaik untuk transportasi pindahan. Dan tahukah Anda apa yang mengejutkan? Dua malam kemudian sebuah pesan singkat masuk ke ponsel saya, “Hello! Saya bisa menjemput Anda dan barang-barang Anda saat pindah. Silahkan kabari saya kapanpun Anda siap! No problem!.” Lagi-lagi saya tercengang. Dengan kondisinya yang sedang hamil tua dan harus menggandeng putra kecilnya ke manapun saja pastilah untuk membantu dirinya sendiri sudah cukup berat. Namun ia masih sempat-sempatnya menawarkan bantuan transportasi bagi kami, dengan menyetir sendiri.

Saya melihat semua kejadian itu sebagai kemudahan dari Allah bagi kami. Kemudahan dan rizki yang datang tak diduga-duga. Alhamdulillahirabbil’alamiin!Tapi di sisi lain saya juga melihat hikmah yang begitu besar. Betapa indahnya hidup dengan saling melapangkan. Kini, sering saya malu jika teringat, telah berapa sering dalam hidup saya -yang mengaku beriman Islam- mengulurkan tangan pada sesama dan berkata “Mari, saya bantu….”?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *