KEKUATAN MOTIFASI ORANG TUA

akel2Thomas Alfa Edison, nama itu tidaklah asing ditelinga kita, penemu bola lampu. Dalam sejarahnya, ia dikenal sebagai anak yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal, bahkan ia dianggap bodoh oleh gurunya karena tidak bisa mengikuti pelajaran.

Tragisnya, ia dikeluarkan dari sekolah. Bagi kita orang tua, peristiwa tersebut mungkin menjadi malapetaka, karena berarti hilangnya masa depan anak kita. Tetapi bagi Marry Edison, itu adalah suatu tantangan, ia bangkitkan semangat anaknya dengan motivasi dan keyakinan yang luar biasa.

Ia tunjukkan pada dunia bahwa anaknya adalah anak yang cerdas. Dengan bimbingan, pelajaran-pelajaran dan kasih sayang yang ia berikan, Thomas Alfa Edison menjadi anak yang genius. Pada masa jayanya, Edison pun berkata orang yang paling berperan dalam keberhasilannya adalah ibunya.

Kita mengenal banyak tokoh-tokoh yang sukses karena mereka mempunyai orang tua yang hebat dalam memotivasi anaknya. Bagi seorang penulis buku, Gola Gong, omongan emaknya adalah obat yang mujarab, yang membangkitkan semangat hidupnya untuk selalu berkarya walaupun ia memiliki kekurangan fisik, kehilangan tangannya karena jatuh dari pohon.

Bagi seorang Faudzil Adzim, kekurangan pada bibirnya bukanlah menjadi hambatan ketika ia selalu diejek teman-temannya pada masa kecil, tetapi dengan semangat ibunya yang mengatakan “Kamu kelak akan menjadi pembicara dimana-mana”, maka segenap kekuatan dan gairah hidupnya mulai bangkit. Dan kita melihat sekarang, mereka adalah orang-orang yang produktif menjadi motivator bagi orang lain.

Subhanallah, hidup ini akan terasa hampa tanpa motivasi. Siapapun butuh motivasi, apakah ia seorang bayi, anak-anak, orang dewasa, orang tua, untuk melakukan sesuatu. Kita sebagai suami/istri begitu besar membutuhkan motivasi dari pasangan kita, begitu pula sebagai orang tua kita harus bisa memotivasi anak-anak kita.

Anak-anak adalah subyek yang sangat rentan dalam masalah motivasi. Layaknya kita orang dewasa, tidak semua anak mampu memotivasi dirinya sendiri. Mereka butuh motivasi ekstrinsik untuk mewujudkan harapannya, melatih kedisiplinannya, membangkitkan semangat belajarnya.

Ketika mereka kehilangan motivasi, maka apa yang menjadi tugas utamanya bisa secara sengaja diabaikan. Ia akan kehilangan rasa tanggung jawabnya ketika prestasinya di sekolah merosot dan tidak memiliki semangat berkompetisi.

Ibarat kendaraan, motivasi adalah mesin yang menggerakkan.  Kendaraan tidak akan berjalan ketika mesinnya tidak hidup. Sebaliknya ketika mesin hidup, maka kendaraan akan dapat bergerak dan melaju kencang dengan kendali sang sopir.

Fungsi sopir sangat urgent karena sopirlah yang akan mengendalikan, mengarahkan kendaraan dan men-service mesin kendaraan ketika mogok. Dalam konteks ini maka kita, orang tua adalah analogi dari sopir tersebut, sehingga fungsinya tidak jauh berbeda, yaitu mengarahkan, merawat, menstimulasi mesin motivasi ini agar selalu hidup.

MOTIVASI DENGAN NASEHAT

Suatu ketika Rasulullah berkata pada sahabatnya yang bernama Khuzaim :”Betapa Khuzaim adalah orang yang baik, kalau saja rambutnya tidak sepanjang itu dan syalnya tidak menyapu lantai” (Abu Dhawud, Sunan). Ketika Khuzaim mendengar apa yang dikatakan Nabi tentang dirinya, ia segera mengambil gunting dan memotong rambutnya.

Dengan cara yang sama, Nabi berkata tentang sahabat lain bernama Abdullah, “Betapa Abdullah adalah orang yang baik, andai saja ia shalat diwaktu malam (shalat lail)”. Ketika Abdullah mendengar hal ini ia langsung mulai shalat malam dan hanya tidur sebentar.

Rasulullah selalu memberikan nasehat-nasehat yang bijak untuk mendorong para sahabatnya dalam melakukan kebaikan. Perkataan-perkataan beliau laksana mutiara yang sangat bermakna, sehingga mampu mengubah perilaku bahkan karakter para sahabat yang keras sekalipun. Subhanallah…

Ibu, betapa banyak nasehat, motivasi yang kita sampaikan kepada anak-anak hanya mampir sebentar saja ditelinga mereka. Tak jarang kita harus berteriak-teriak untuk mengingatkan mereka, tetapi tidak memberikan pengaruh apapun pada mereka. Kita sering memarahi, mencaci anak kita karena tidak mau belajar, prestasinya jelek sementara kita tidak pernah membantu mereka menemukan kembali semangat belajarnya.

Ibu, kita harus banyak belajar dari siroh Rasulullah ataupun kisah dibalik kesuksesan tokoh-tokoh besar, bahwa motivasi kesuksesan itu lahir dari perkataan-perkataan yang qaulan tsaqila, perkataan-perkataan yang berbobot. Perkataan-perkataan yang tidak indah secara retorika tetapi perkataan-perkataan yang lahir dari suatu bentuk keikhlasan, kejujuran dan kesabaran. Perkataan-perkataan yang lahir dari kegelisahan, kecemasan, kekhawatiran kita akan masa depan mereka, bukan perkataan-perkataan yang merupakan ungkapan kemarahan kita terhadap kekurangan mereka.

Allah mengajarkan kepada hambanya dalam surat An Nahl ;16 bagaimana memberikan nasehat kepada orang lain yaitu dengan bil hikmah, wal mauidhoti hasanah wa jadilhum billati hiya ahsan. Dengan memberikan hikmah atau pelajaran-pelajaran, manfaat dari suatu peristiwa, nasehat-nasehat yang baik dan komunikasi yang baik, insyaallah anak-anak akan berproses untuk membangun motivasi dalam dirinya sendiri.

Mari, kita biasakan untuk memberikan penghargaan, tidak dengan materi melainkan  dengan sanjungan-sanjungan betapapun kecil prestasi yang dibuatnya. Sanjungan-sanjungan yang mengekspresikan kecintaan dan kasih sayang akan membuat anak-anak merasa dihargai, sehingga kelak mereka akan menjadi orang-orang yang mampu menghargai dan memotivasi orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *