Wirausaha 24 Jam Nonstop

Suatu hari ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Imanudin Juli Triharto mengunjungi kakaknya yang kuliah di Jakarta. Matanya tak lepas mengamati gedung-gedung bertingkat sepanjang perjalanan di dalam bus kota. Bertanya ia pada ibunya, “Itu gedung-gedung siapa yang punya?” Ibunya menjawab enteng, “Milik orang.” Lalu berkata Iman dalam hati, “Kalau itu punya orang, kenapa saya tidak bisa punya gedung sendiri?”

Iman pun membuat rencana untuk mewujudkan mimpinya. Lelaki kelahiran Purwokerto 14 Juli 1977 ini merintisnya saat kuliah di STT Telkom, Bandung. Ia berencana tidak akan bekerja pada orang lain. “Saya sudah memutuskan tidak akan melamar pekerjaan,” ujar Direktur PT TeleMatics Indonesia ini yang berkantor di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta, lantai 21.

Ia pun mengajak empat temannya, pada Agustus 2002 – dua tahun sebelum lulus kuliah – untuk mendirikan PT TeleMatics Indonesia yang bergerak di bidang E-Learning. Mereka melayani proyek-proyek pemerintah, perbankan, dan akademik. Membantu perusahaan-perusahaan yang membutuhkan sarana belajar mengajar, terutama perusahan yang karyawannya tersebar. Sekarang kliennya sudah banyak dan makin berkembang, di antaranya BPKP, Telkom, The London School of Public Relation, dan STT Telkom.

Apa rahasia wiraswastawan ini dalam membangun usahanya? Menurutnya, ia ‘hanya’ melakukan tiga hal: kemauan, keputusan, dan sikap positif. Kemauan, atau niat, baginya, merupakan  syarat dasar sebuah kesuksesan. Namun kemauan belum cukup. Harus ada keputusan yang diambil, apakah akan menjalankan atau menyudahinya sebatas niat. Keputusan berkaitan dengan pilihan akan arah hidup kita; mau jadi wiraswastawan, pengangguran banyak acara, atau karyawan abadi. Setelah membuat keputusan, barulah ia disikapi secara positif. Sebab keputusan masih abstrak, perlu realisasi supaya menjadi konkret.

Membangun usaha perlu pembimbing, yaitu orang yang bisa kita gali ilmu dan pengalamannya. Keberadaannya sebatas tempat konsultasi, bukan pengarah. Iman punya tiga pembimbing yang semuanya komisaris perusahaan. Ia banyak belajar dari mereka.

Yang paling berkesan, Iman belajar tentang spirit. Membangun usaha harus dilandasi semangat yang kuat untuk maju. Semangat ini ditunjang dengan perilaku—meminjam istilah Iman — sleep and dream, yakni tidak pernah berhenti memikirkan usaha. Berbeda dengan karyawan yang selepas jam pulang kerja memikirkan keluarga atau kesenangan pribadi, wiraswastawan sukses selalu memikirkan bagaimana mengembangkan usahanya di berbagai kesempatan; dari melek mata sampai menjelang tidur. Dengan kata lain, 24 jam nonstop menjadi wiraswasta. Kalau bisa ia dibawa dalam mimpi.

Selain itu, ia pun menyikapi impian dengan positif. Rencana kerja (business plan), kalau boleh dibilang impian, memerlukan dukungan spirit dari dalam diri, yaitu sikap bahwa kita sebenarnya mampu melakukannya. “Kalau kita menghargai diri sendiri, saya yakin apapun bisa tercapai,” ucap Iman, optimis.

*     *     *

Soal rencana kerja, Bimo Sasongko, President Director & CEO Euro Management Indonesia, berbagi tips. Wiraswastawan yang berkantor di Gedung Jaya lantai 7 Jalan MH Thamrin ini mengatakan, sebaiknya ide dijabarkan secara tertulis, tidak dikurung di dalam otak. Keuntungan, risiko, prospek, kendala, dan kompetitornya dicatat secara detail. Ide pun harus ditunjang dengan ilmu, tidak tergantung semata pada asumsi dan perkiraan di lapangan. Setelah itu, “Harus yakin bahwa ada prospek masa depan dari apa yang kita lakukan itu,” tambahnya.

Satu semangat yang patut ditiru dari Bimo adalah cara kerjanya yang all-out. Ia sangat yakin; dengan bekerja benar, usahanya bisa maju, berkembang, dan merekrut banyak orang. Terbukti, usaha kandidat Doktor bidang Ilmu Manajemen Universitas Indonesia ini terbilang maju. Sejak tahun pertama usahanya pada 2003, jumlah siswa yang mendaftar di lembaga pendidikannya terus bertambah. Sekadar info, Euro Management adalah lembaga pendidikan yang mempersiapkan siswa-siswi Indonesia mengambil kuliah ke Eropa (Prancis, Jerman).

Mengatasi Jenuh

Memang, menjabarkan rencana kerja harus dengan ilmu. Selain belajar dari pengalaman orang lain secara langsung, membaca buku adalah alternatif termurah dan paling efektif. Sebab, buku juga hasil pengalaman orang lain yang otentik. Anda bisa membaca buku tentang manajemen, psikologi, organisasi, kepemimpinan, atau biografi pengusaha sukses.

Iman menyarankan tiga hal yang harus diketahui kalau mau menjadi pengusaha, yaitu accounting dan cashflow, pemasaran (marketing), dan aspek hukum (legal). Ketiganya bisa dipelajari lewat buku.

Bisa saja, ketika usaha berjalan, perasaan jenuh dan lelah menghampiri. Itu pasti akan terjadi dan sangat manusiawi. Yang terpenting, saat kita mengalaminya, usaha tetap berjalan stabil. Tidak goyah. Caranya ya dengan menikmati pekerjaan itu.

Selain menikmati pekerjaan untuk mengatasi kelelahan, Bimo mengandaikan dalam imajinasi pikirannya bahwa tantangan di depan masih banyak yang harus dihadapi. Belum saatnya mengendurkan otot kaki. Perjalanan masih jauh.

Kondisi ini akan mengafirmasi diri untuk terus bergerak mencari peluang dan kesempatan. Otak selalu terpacu untuk belajar dan mencari pengetahuan baru dalam rangka mendukung usaha. Terlebih bila disadari bahwa kerja yang dilakukan tidak semata ditujukan sebagai kerja. Walau hasilnya digunakan untuk kepentingan diri, teman, atau keluarga, tetapi ada sesuatu yang lebih berharga dari itu, yaitu ibadah. Dengan ibadah, oase spiritual dari Sang Pencipta senantiasa mengairi semangat bekerja untuk kepentingan dunia dan akhirat.

*     *     *

Dengan berwiraswasta, menurut Iman, ada dua hal yang pasti akan dirasakan; kebebasan waktu dan finansial. Bebas mengatur waktu dan menentukan finansial dengan segala risiko yang dihadapi. Cukup memberi tantangan tersendiri bagi orang-orang yang berpikiran maju.

Jadi, apa Anda siap berwiraswasta?

Penulis: Billy Antoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *