SPEAKLESS

Orang bijak berkata, tuhan memberi kita dua mata, dua telinga dan satu mulut. Artinya, kemampuan mendengar dan melihat kita dua kali lebih penting ketimbang kemampuan berbicara.

Suatu kali saya bertemu seorang klien yang teramat sibuk. Dalam kesempatan emas itu sengaja saya hanya mendengar dan mendengar. Hanya sesekali saya timpali dengan sedikit kata-kata. Sebelum sempat menjelaskan program saya, tiba –tiba yang bersangkutan memutuskan untuk bertransaksi.

Ternyata pameo seorang super seller haruslah jago berbicara tidak sepenuhnya benar. Malah sukses menjual lebih serimg ditentukan oleh kesanggupan seseorang mengendalikan emosi untuk hanya bicara pada situasi dan kondisi yang tepat. Kalimat-kalimat yang berbobot sekalipun menjadi tidak bernilai pada timing yang kurang pas.

Disisi lain, pengeluaran energi untuk mendengar dan melihat lebih sedikit daripada berbicara. Tapi anehnya, orang lebih memilih banyak bicara. Pernah seorang manager perusahaan consumer goods multinasional merasa tidak betah lagi dikantornya hanya karena atasannya tidak pernah mau mendengar bawahannya. Berbeda dengan satu perusahaan PMA jepang dimana setiap masukan dari karyawan selalu didengar edan bahkan bila dianggap layak akan diapresiasikan dengan imbalan bonus diluar gaji.

Ada beberapa tingkatan mendengar. Pertama, “mendengar selektif ” yaitu hanya mendengar topik yang menarik. Kedua, “mendengar simpati” yaitu dengan melibatkan emosi dan perasaan terhadap pemasalahan yang didengar. Ketiga, “mendengar empati” yaitu mendengar dan kemudian memberikan penilaian dan solusi.

Untuk tahap ketiga ini tidaklah mudah karena kita akan dihadapkan pada kokohnya tembok “aku”. Bukanlah aku lebih berpengalaman daripadanya, bukanlah aku lebih berpendidikan daripadanya, bukankah aku dalah pimpinan sedang mereka bawahan. Bukankah….sederetan kata Bukankah “aku” lebih ini dan itu senantiasa mendorong kita untuk asyiik mendengarkan diri sendiri ketimbang orang lain.

Rasanya paradigma NATO ( No Action Talk Only ) perlu kita ubah menjadi paradigma PAKTAWARASAWA ( Please Allowing your Knowledge Turn to Act by a WAReness of what you see and What you hear ). Dengan paradigma ini akan muncul sikap: bukaknkah setiap orang mempunyai kelebihan khas yang tidak dimiliki orang lain? Bukankah saya mempunyai kekurangan, bukankah saya tidak serba tahu, bukankah setiap orang ingin selalu didengar ?

Jika anda berminat untuk bergabung dengan kelompok PAKTAWARSAWA, saya mempunyai beberapa tips. Pertama, jangalah sekali-kali menerapkan strategi close defense system, tapi gunakanlah open defense system .

Orang dengan system pertahanan tertutup akan sulit menerima saran apalagi kritik orang lain. Kedua, apabila Anda ingin menyampaikan sebuah gagasan kepada orang lain, alangkah baiknya jika dimulai dengan mengamati dan mendengar apa yang menjadi kebutuhan lawan bicara Anda, baru kemudiaan kita meluncurkan peluru (baca: kata-kata) kita secara jitu. Ini yang saya sebut gaya bicara sniper style .

Seorang penembak jitu tidak pernah boros peluru. Ia akan hanya menenbak jika sasaranya sudah terbidik tepat. Sebaliknya gaya bicara mitraliur style menimbulkan rasa kesal para bawahan lantaran pimpinan selalu mendominasi pembicaraan. Atau, bisa juga membuat dongkol konsumen akibat terlalu over bombardiran product knowledge. Padahal boleh jadi satu dua kalimat yang jitu sudah menggiring mereka dalam proses pengambilan keputusan.

Selanjutnya hindarilah cara wrestler (pegulat) ala Smack Down dalam menghadapi kritik. Cara ini hanya akan menambah rasa tidak nyaman bicara anda. Karena setiap feed back yang muncul selalu anda tanggapi secara emosial dan negatif thinking sehingga memicu anda untuk secepat mungkin membalas pukulan kritik mereka dengan tangkisan atau pukulan apologetik (pembelaan diri).
Akan lebih bijaksana bila dihadapi dengan pendekatan Aikido. Dalam filosofi olahraga beladiri Aikido, tidak dikenal kata balas atau tangkis secara konfrontatif, tapi yang ada pemanfaatan kekuatan lawan. Sehingga, ketika seorang konsumen menghujani anda dengan serentetan complain atau kritik, itu artinya sama dengan mereka berbicara pada diri mereka sendiri.

Last but not least, mana yang lebih menguntungkan bagi anda: menjadi pengamat yang baik atau pendengar yang baik selamat bergabung dengan PAKTAWARSAWA.

By Reza Syarief

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *