Renungan Kejujuran

1. Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalian wajib untuk jujur, meskipun  membawamu kepada kematian”. Dan perkataan beliau yang lainnya, “Kejujuran yang membuatku menjadi terhina lebih aku sukai daripada kedustaan yang mengangkat kedudukanku”.

2. Abu Sa’id al Qurasyi rahimahullah berkata, “Orang jujur adalah orang yang siap menghadapi kematian dan dia tidak malu terhadap keburukan dirinya seandainya tersingkap, sebagaimana firman Allah, “Katakanlah, “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar”. (QS. Al-Baqarah:94)

3. Ada sebagian yang mengatatakan, “Kejujuran adalah mengucapkan kebenaran dalam kondisi yang membahayakan”.

4. Ada pula yang lain mengatakan, ”Jujur adalah berkata benar di hadapan orang yang kau takuti dan kau harapkan”. Imam Ibnul Qayyim berkata, “Orang yang jujur adalah orang yang segala urusannya adalah kejujuran, baik dalam ucapan, perbuatan dan keadaannya”.

5. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Kejujuran adalah ketenangan sedangkan dusta adalah kege-lisahan dan keraguan”. (HR. At-Tirmidzi, dan berkata hadits hasan shahih)

6. Seorang yang jujur akan selalu tegar dan tidak goyah di dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

7. Pokok seluruh kebaikan adalah kejujuran dan sebaliknya pangkal seluruh keburukan adalah dusta.

8. Malaikat turun kepada orang yang jujur sedangkan syetan turun kepada orang yang dusta. Allah subhanahu wata’ala berfirman, “Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaitan-syaitan itu turun? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa”. (QS. Asy-Syu’ara’:221-222)

9. Orang yang jujur akan diberikan firasat yang benar.

10.Jujur dalam mu’amalah dan jual beli akan mendatangkan keberkahan, sedangkan dusta dan menyembunyikan cacat akan menghalangi barakah. “Penjual dan pembeli melakukan khiyar (pilih barang dan tawar menawar) selagi mereka belum berpisah. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (cacat) maka diberkahi keduanya dan jika keduanya menyembunyikan cacat dan berdusta maka dihapus keberkahannya”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

11.Ismail bin Ubaidillah rahimahullah berkata, “Ketika ayahku sudah dekat ajalnya, dia mengumpulkan seluruh anak-anaknya lalu berkata kepada mereka,” Wahai anak-anakku! Wajib atas kalian semua taqwa kepada Allah, membaca al-Qur’an dan merutinkannya. Dan wajib atas kalian untuk jujur walaupun jika salah seorang dari kalian membunuh seseorang lalu ada salah satu kerabatnya yang bertanya. Demi Allah aku tidak pernah berdusta sama sekali semenjak aku membaca al-Qur’an”.

12. Ingkar janji sebagaimana disebutkan di dalam hadits di atas merupakan salah satu ciri kemunafikan. Kini ingkar janji telah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian orang, bahkan di antara mereka ada yang dikenal dengan manusia ingkar janji. Di antara bentuk ingkar janji yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan manusia adalah: Terlambat atau mengundur kedatangan dengan tanpa ada alasan, seperti seseorang yang berjanji akan datang jam delapan tetapi dia baru datang jam sembilan, dengan tanpa alasan yang dibenarkan. Termasuk juga orang tua yang mengingkari janji terhadap anak-anaknya untuk membelikan sesuatu atau memberinya sesuatu.

13. Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu‘anhu berkata, “Dusta itu tidak layak baik dalam bergurau atau sungguh-sungguh, dan janganlah seseorang di antara kalian berjanji terhadap anaknya dengan sesuatu lalu tidak melaksanakannya”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

14. Berpura-pura Fakir yaitu mengaku dirinya orang miskin dan butuh bantuan padahal sebenarnya kecukupan, dan dia meminta bantuan hanya sekedar untuk memperbanyak atau menumpuk harta benda. Diriwa-yatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang-siapa yang meminta-minta harta benda kepada orang lain untuk memperbanyak kepemilikannya, maka sesungguhnya dia sedang meminta bara api”. (Tarikh Dimasyq 14/373, Al-Mustathraf 2/15)

15. Menyembunyikan Aib Pelamar atau Wanita yang Dilamar yakni masing-masing dari pelamar atau wanita yang sedang dilamar menutup-nutupi kekurangannya baik dalam masalah fisik atau akhlaknya. Masing-masing hanya menonjolkan kebaikan dan kelebihannya saja, serta berlebih-lebihan di dalam memberi pujian, padahal ini dapat menghilangkan berkah pernikahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *