Jiplakisasi: Susahnya Berbisnis di Indonesia

Salah seorang kerabat saya beberapa waktu lalu membuka usaha counter handphone dalam skala yang tidak terlalu besar. Lokasi yang dia pilih terbilang cukup strategis dan belum banyak pesaing di sekitarnya. Usaha yang dia bangun bersama rekan-rekannya itu perlahan-lahan mulai berkembang dan menguntungkan. Akan tetapi, begitu pelanggan mulai merangkak naik, kawasan sekitar tempat usahanya juga mulai dipenuhi sesak oleh pesaing lain yang menawarkan produk dan jasa serupa.

Saya memperkenalkan istilah jiplakisasi sebagai fenomena yang lazim dijumpai di negeri ini. Anda tentu faham benar tentang apa yang saya sebut sebagai jiplakisasi ini. Ketika satu membuka usaha wartel, kiri kanannya kemudian membuka usaha serupa. Saya menduga alasan “me-too” lebih dominan daripada didasarkan pada perhitungan bisnis yang feasible.

Bicara soal bisnis, salah satu hal penting yang perlu digarisbawahi adalah tentang entry-barrier. Pada kebanyakan bisnis, terutama bentuk bisnis baru, entry-barrier yang ada cukup tinggi. Tetapi, seiring perkembangan waktu dan informasi, entry-barrier tersebut perlahan-lahan akan menurun dan mencapai tingkat tertentu ketika bisnis tersebut berada pada tahap mature.

Gampangnya begini. Ketika saya masuk pertama kali membuka usaha warnet, saya bisa memasang harga tinggi misalnya Rp 15.000 per jam dan saya menikmati keuntungan luar biasa sebagai pionir. Akan tetapi, ketika “ilmu” dan “how-to” untuk membuka dan mengelola usaha warnet mulai tersebar luas, akan banyak pebisnis lain yang membuka usaha serupa. Demi mengejar keuntungan dan persaingan, tarif Rp 15.000 per jam tersebut perlahan-lahan akan turun hingga mencapai tarif standarnya, katakanlah Rp 3.000 per jam. Pada level tersebut, sulit bagi pebisnis manapun untuk mengharapkan keuntungan yang abnormal, kecuali mengharapkan bergelimang darah dalam waktu sekejap.

Pada level teoretis, fenomena tersebut dilukiskan sebagai “red ocean” dan “blue ocean”. Profesor Chan Kim menuliskan fenomena tersebut secara apik sekaligus menunjukkan bagaimana langkah-langkah yang dapat kita tempuh untuk keluar dari persaingan yang berdarah tersebut.

Contoh bagus dari fenomena tersebut bisa kita pelajari dari masa “Demam Emas” di Amerika pada tahun 1850an. Ketika ratusan ribu orang pergi ke California untuk menambang emas dan meraih mimpi menjadi jutawan, seorang penjahit memilih untuk menjahit celana ketimbang ngotot menggali emas. Ia menjahit celana yang kuat dan tahan lama untuk para penambang emas. Tentu saja sang penjahit mendapat order dalam jumlah besar. Benar, dia adalah Levi Strauss, si penjahit yang kemudian memperkenalkan dunia pada celana jeans bermerk Levi’s.

Jadi, daripada sekedar ikut-ikutan berbisnis seperti apa yang dilakukan orang-orang di sekitar Anda, mengapa tidak mencoba menyusun dan merancang bisnis yang entry-barriernya cukup tinggi sehingga menjanjikan profitabilitas yang lumayan buat Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *